Apa yang kemudian disebut sebagai tuhan, hanyalah istilah manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar diri manusia. Penyebutan nama tuhan secara bahasa, oleh sebab itu banyak ragam kendati muaranya pasti satu. Jika kemudian, ajaran Islam menyebutkan tidak ada tuhan kecuali Allah, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.

Oleh Rusdi Mathari dan Abdullah Imam Bachwar

BAHKAN ketika manusia mengumumkan dirinya sebagai tuhan, ia pasti tetap meyakini keberadaan tuhan. Di ujung kebinasaan jasadnya, Firaun tak kuasa menolak suara ruhnya bahwa ajaran Musa tentang tuhan yang satu, benar adanya. Ketika ajaran materialisme menghinggapi sejarah peradaban manusia dengan isu kebebasan sehingga menisbikan keberadaan dan peran tuhan (ateis) misalnya, hakikat ajarannya justru mengakui keberadaan tuhan. Bukankah kebebasan (nafsu) yang menjadi panglima ajaran materialisme dan juga liberalisme adalah wujud tuhan itu sendiri?

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan 43)

Tuhan, karena itu tak mungkin tak ada pada manusia. Sebagai bagian dari (kehendak) tuhan, pada manusia hakikatnya ada kemutlakan (fitrah) untuk mempercayai dan mengakui tuhan. Jika kemudian apa yang diyakini sebagai tuhan diwujudkan dalam banyak bentuk dan keyakinan, hal itu juga tak lepas dari kehendak tuhan sebagai satu-satunya pemilik otoritas. Tuhan adalah sesuatu yang wajib dan pasti ada bagi manusia, bahkan pada saat keberadaan tuhan ditolak dan diabaikan sekalipun.

Apa yang kemudian disebut sebagai tuhan, sejatinya hanya istilah manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Penyebutan nama tuhan secara bahasa, oleh sebab itu banyak ragam kendati muaranya pasti satu. Jika kemudian, ajaran Islam menyebutkan tidak ada tuhan kecuali Allah, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.

Kata Allah dalam bahasa Arab pada dasarnya sama dengan kata ilah (tuhan). Makna dari kata Allah adalah juga sama dengan makna dari kata ilah. Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya. Dalam bahasa Arab, kata “ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (bersifat umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat sementara kata Allah adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.

Ucapan seperti “ya Ilahi” atau “ya Allah” juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “ilah” kecuali bahwa yang satu (Allah) hanya digunakan untuk makna khusus sedangkan yang lainnya “ilah” lebih bersifat umum. Dalam kitab Tauhid dan Syirik, Syrekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, karena berasal dari satu akar kata.

Kekhususan makna pada nama Allah dalam hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab menggunakan lafal “al ilah”. Penambahan kata “al” pada “ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab Majma’ul Bayan Jilid 9, Al Thabarsi menerangkan, bahwa huruf “i” pada “al ilah” menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga kemudian “al ilah” diucapkan sebagai Allah.

Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul lafal Allah juga diungkapkan Thabarsi dalam Majma’ul Bayan Jilid 1. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (seorang pakar gramatika tentang asal-usul lafal Allah) Thabarsi menjelaskan perubahan dari ilah menjadi Allah disebabkan penisbian huruf hamzah di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah yang tak bisa dipisahkan. Maka ketika menyebut “ya Allah”, pengucapannya bukan “yallah” melainkan “ya Allah”. Seandainya tidak ada huruf hamzah dalam kata aslinya, menurut Thabarsi niscaya pengucapan hamzah tersebut tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.

Tentang lafal Allah yang berasal dari kata ilah dengan menghilangkan huruf hamzah dan menggantinya dengan kata “al”, juga dijelaskan oleh Ar Raghib dalam kitab Al Mufradat. Nama tersebut dikhususkan bagi nama Allah sebagai Wajibul Wujud, Zat yang mutlak wajib ada. “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam 65).

Tuhan dalam Al Quran

Karena itu bisa dimengerti jika para ahli tauhid lalu memaknai Allah dan ilah dengan makna yang satu yaitu tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir (mufassirin) dalam kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” kata “ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah), dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar). Maka kalimat “Tidak ada tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada tuhan yang wajib disembah secara benar (hak) kecuali Allah”.

Kesimpulan para mufassirin mengacu kepada Al Quran surat Az Zuhruf 84, “Dan Dia adalah tuhan (yang disembah) di langit dan tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia adalah bijaksana dan mengetahui segala sesuatu.”

Selain kata “ilah”, kata yang bermakna tuhan adalah “rabb” yang berarti mengatur atau menuntun. Kata ini misalnya tertuang dalam surat Al Fatihah ayat kedua, “Segala puji milik Allah, rabb semesta alam.” Ayat 65 surat Maryam juga menggunakan kata rabb untuk menjelaskan tentang Allah, “Rabb atas langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah menyembah-Nya.”

Al Quran juga banyak menyebut nama Allah dengan sebutan “huwa”. Salah satunya diterangkan dalam surat Al An’an ayat ketiga. “Dan huwa adalah Allah yang disembah, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.”

Dalam bahasa Arab, “huwa” adalah dhamir (kata ganti) untuk seorang lelaki yang tidak kelihatan. Itu sebab, Allah dalam ajaran Islam cenderung dipahami sebagai maskulinitas karena hanya kata “huwa” yang digunakan dalam Al Quran, dan bukan “hiya” (perempuan).

Di Balik Nama Allah

Dari banyaknya ragam istilah dan makna tentang Allah, tak bisa tidak, Allah adalah pemilik semua nama (sifat) ketuhanan. Dalam surat Al A’raf ayat 180 diterangkan “Hanya milik Allah asma’ul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asma-Nya”

Dalam kitab Futuhatul Makiyyah Juz III Ibnu Arabi menjelaskan, sesungguhnya Allah merupakan hakikat dari seluruh nama-nama ketuhanan. Lafal “Allah” adalah lafdzul jalalah. Secara bahasa, jalalah berasal dari akar kata “Al Jalal” yang berarti “Zat” yang berhak untuk diagungkan, utama, berkuasa, berwibawa, pelaksana segala urusan, dan kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk. “Jalla Jalaluhu” karena itu adalah nama Allah yang satu, yang tahu akan zat-Nya yang suci dan meliputi semua sifat –Al Hayat, Al Azaliyah, Al Ilmu, Al Qudrah, Al Bashar, As Sami’u, Al Iradah dan seterusnya. Itulah nama-nama Allah, yang bahkan Dia menyebutkan untuk zat-Nya, dan disebut sebagai isim al a’dham. Tak satupun makhluk, apalagi hanya manusia, yang berhak atas nama-nama Allah. Al Quran menyebutkan ada 99 nama Allah dalam al asma’ al husna.

Dari seluruh nama itu, maka secara umum nama Allah bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama adalah nama-nama jalaliyyah yang menggambarkan kemutlakan kekuasaan Allah. Termasuk dalam kelompok ini adalah nama agung (Al Akbar), pemaksa (Al Qahhar), keras (Al Jabbar), sombong (Al Mutakbbir), pembalas (Dzun Tiqam). Kedua adalah nama-nama jamaliyyah yang berhubungan dengan kecintaan, keindahan dan kecantikan, seperti pengasih (Ar Rahman), penyayang (Ar Rahim), pengampun (Al Ghaffar), lembut (Al Lathiif), dan sebagainya.

Ada perbedaan konsekuensi terhadap manusia, yang timbul akibat nama-nama Allah. Nama-nama jalaliyyah menyebabkan manusia tunduk dan takut dan wajib mengikuti syariat (hukum) Allah, dan jamaliyyah menekankan manusia kepada aspek kecintaan terhadap Allah. Meskipun jalliyyah dan jamaliyyah hakikatnya adalah wujud Allah, menurut beberapa ahli tafsir Al Quran, jumlah nama Allah pada jamaliyyah lebih banyak dibanding jumlah nama pada jalaliyah. Hadits qudsi juga menyebutkan, “Kasih-Ku melampaui murka-Ku.”

Tak lalu dengan semua nama-Nya, manusia bisa mengetahui hakikat Allah. Nama-nama, istilah atau apapun julukan yang ditujukan untuk Allah hanyalah salah satu cara untuk mengenal (kekuasan) Allah. Di balik semua nama dan istilah, Allah adalah Allah dan hanya Allah yang tahu akan Allah.

Iklan