Perdana Menteri Gogh Whitlam waktu itu mengetahui bahwa pasukan Indonesia tengah menyusup ke Timor Portugal. Dia juga tahu dua wartawan Australia berada di Balibo tapi Canberra belum membuka cerita secara lengkap. Mestinya ada usaha yang lebih serius untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi saat itu, termasuk kesepakatan yang terjadi antara kedua negara perihal masuknya pasukan Indonesia ke Timor Timur.

oleh Rusdi Mathari

TERBUNUHNYA lima wartawan yang terjadi 32 tahun lalu di Timor Timur (sekarang Timor Leste) kembali menghangatkan hubungan Indonesia-Australia. Minggu lalu, pengadilan tinggi (koroner) negara bagian New South Wales menyimpulkan dua wartawan Australia, dua wartawan Inggris dan satu kameraman dari Selandia Baru telah dibunuh oleh pasukan Indonesia. Pembunuhan itu dilakukan agar rencana Jakarta menerjunkan pasukan di Timor Timur tidak diberitakan oleh kelima wartawan tersebut, demikian Dorelle Pinch, deputi koroner pengadilan, seperti dikutip Sydney Moring Herald (16 November 2007).

Sehari kemudian, Jakarta menolak keras kesimpulan Pinch. Departemen Luar Negeri mengatakan kesimpulan tersebut sama sekali tidak mengubah sikap pemerintah Indonesia. “Pengadilan koroner negara bagian New South Wales itu mempunyai yuridiksi yang sangat terbatas,” kata Kristiarto Legowo seperti dikutip oleh BBC. Penolakan yang kurang lebih serupa, juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan dan Panglima TNI.

Apa yang dimaksud sebagai peristiwa Balibo adalah tragedi yang terjadi pada 16 Oktober 1975 ketika situasi Timor Portugal (nama saat itu) berada dalam kondisi perang saudara. Dua faksi bersenjata Timor Portugal yaitu UDT dan Apodeti dengan Fretilin, pada hari itu diberitakan terlibat dalam kontak senjata: UDT dan Apodeti melakukan serangan mortir besar-besaran untuk merebut kota kecamatan itu dari Fretilin. Kelima wartawan nahas yang berada di kota tersebut kemudian ditemukan tewas. Mereka adalah Brian Peters dan Briton Malcolm Rennie yang bekerja untuk Channel Nine Australia; Greg Shackleton, Tony Stewart (Inggris), dan Gary Cunningham, kameraman yang bekerja untuk Channel Seven. Kelimanya tewas dalam kondisi hangus terbakar di sebuah toko milik Cina.

Pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri Gogh Whitlam waktu itu mengetahui, bahwa pasukan Indonesia tengah menyusup ke Timor Portugal. Mereka juga tahu dua wartawannya berada di Balibo tapi Canberra belum membuka cerita secara lengkap. Salah satu teka-teki dari cerita yang belum dibuka secara lengkap itu misalnya, menyangkut kehadiran dua wartawan Australia bersama tiga rekannya di kota itu justru pada saat bersama Amerika Serikat dan pemerintah Australia telah memberikan lampu hijau kepada Jakarta untuk masuk ke Timor Protugal.

Sekitar tiga puluh tahun setelah kelima wartawan itu tewas, Canbera meminta Jakarta bertanggungjawab atas kematian lima wartawan itu. Menurut arus besar pendapat di negeri kanguru termasuk dalam hal ini beberapa elemen dari pemerintah Australia, para wartawan itu bukan korban tembak menembak antara UDT-Apodeti dengan Fretilin, seperti diklaim Jakarta. Sementara pemerintah Indonesia bersikeras menganggap kelima wartawan tewas akibat terjebak dalam tembak menembak antara faksi bersenjata.

Hingga 1990-an banyak laporan jurnalistik yang mencoba melakukan investigasi atas kematian lima rekan mereka. Salah satunya ditulis oleh Jill Jollife dalam buku Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five yang terbit pada 200. Jollife secara rinci mengungkap kasus tersebut, antara lain dengan menyebut pelaku penembakan adalah pasukan Kopassus (Kopasandha). Yunus Yosfiah yang disebut-sebut oleh buku itu, mengaku memang bertugas di Balibo ketika lima wartawan itu sekarat namun membantah telah membunuh mereka. Beberapa kesaksian menyebutkan kelima wartawan ditembak dengan telak dari jarak 10 meter.

Ketika Timor Timur lepas dari Indonesia pada 1999, para saksi mata mulai banyak yang bicara soal insiden Balibo. Mereka antara lain adalah Guilherme Gonzalves, Raja dari Apodeti, dan anaknya, Thomas; juga Paulino Gama yang menceritakan terlibatnya pasukan Indonesia pada kasus itu kepada Radio Nederland.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Balibo Five dibuka kembali oleh pemerintah Australia pada 1996 atas desakan keluarga Brian Peters. Pengadilan New South Wales kemudian menggelar sidang pengadilan yang dibuka secara umum dan dilengkapi dengan tim penyelidikan independen yang menghadirkan saksi kunci.

Dalam penyelidikan dan persidangan Sydney Gleb Coroner Court yang berlangsung di Sydney pada 6 Februari 1997, seorang saksi kunci yang adalah orang Timor Timur menyatakan pasukan Indonesia telah menembak kelima wartawan tersebut. Dia juga mengaku melihat para pasukan lainnya menembaki rumah yang dihuni para wartawan selama dua hingga tiga menit. Saksi yang diberi kode “Gleb 1” itu mengaku melihat dua warga kulit putih dengan tangan mereka di atas kepala. Namun tembakan terus dilakukan. Setelah dibunuh jenazah para wartawan itu lalu dibakar dalam rumah selama dua hari.

Setahun sebelumnya, sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh PBB menyimpulkan bahwa para wartawan tersebut secara sengaja dibunuh oleh pasukan Indonesia. Penyelidikan PBB atas sejumlah saksi itu dibuat dalam laporan setebal 2.500 halaman. PBB merekomendasikan agar “perlunya penyelidikan lanjut atas fakta (kebenaran) yang sulit dari peristiwa tersebut”. Hingga 10 tahun berlangsung, penyelidikan PBB dan persidangan di pengadilan Australia tak menghasilkan keputusan apapun, karena beberapa orang Indonesia yang disebut terlibat dalam kasus itu memang tak pernah bisa dihadirkan dalam persidangan hingga minggu lalu, ketika Pinch menyimpulkan hasil penyelidikannya di persidangan koroner.

Sebelum pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur pada 15 Desember 1975 dengan sandi Operasi Seroja, Jakarta memang menggelar operasi khusus. Operasi pertama dengan sandi Operasi Komodo digelar sejak awal Januari 1975 dengan melibatkan satuan tugas dari unsur tentara dibawah komando Badan Koordinasi Intelejen Negara (Bakin). Operasi itu lalu dilanjutkan dengan Operasi Flamboyan hingga masuknya pasukan Indonesia ke Timor Timur. Selain untuk memantau segala perkembangan yang berlangsung, target dari operasi penyusupan adalah menjalin kontak dengan para warga Timor Portugal yang bermaksud berintegrasi dengan Indonesia.

Karena bersifat tertutup, dalam penugasan itu seluruh pasukan tidak mengenakan seragam tentara resmi. Sebagai gantinya mereka mengenakan pakaian sipil agar tidak menarik perhatian: celana jins, kaos oblong dan sebagainya. Beberapa komandan lapangan ditugaskan untuk menyamar sebagai mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata. Senjata dan amunisi dimasukkan ke dalam karung yang dibubuhi dengan tulisan alat pertanian. Tugas pertama mereka adalah melatih para simpatisan pemuda Timor Portugal yang menghendaki wilayahnya menjadi bagian dari Indonesia. Saat satu regu unit operasi dari pasukan Indonesia berada di Balibo, lima wartawan itu juga berada di kota kecamatan itu.

Sebelum Pinch menyampaikan kesimpulan, pemerintah Australia dan Indonesia menyebutkan kelima wartawan itu tewas secara tak sengaja dan menyatakan kasus itu telah selesai. Tapi Pinch mengaku menemukan fakta yang bertentangan soal kasus tersebut. Menurut Pinch, ada bukti-bukti bahwa Yunus Yosfiah, Christoforus da Silva, LB. Moerdani dan Dading Kalbuadi terlibat dalam kematian lima wartawan tersebut. Perintah pembunuhan diberikan oleh L.B Moerdani selaku komandan intelejen kepada Dading Kalbuadi atasan Yunus dan Christoforus. Setelah Timor Timur masuk menjadi wilayah Indonesia, Moerdani dan Dading mendirikan PT Denok Hernandes Indonesia yang memonopoli pembelian dan ekspor kopi dari Timor Timur. Mereka dibantu oleh dua bersaudara keturunan Cina, Robby dan Hendro Sumampouw yang ikut membiayai operasi militer pasukan Indonesia ke Timor Timur saat itu.

Lalu siapa pembunuh kelima wartawan itu? Jakarta dan Canbera, mestinya belajar untuk lebih serius dan jujur mengungkap apa yang sebenarnya terjadi saat itu, termasuk kesepakatan yang terjadi antara kedua negara menyangkut masuknya Indonesia ke Timor Timur.

Iklan