Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengaku telah dibayar ratusan juta rupiah oleh Altimo perusahaan telekomunikasi asal Rusia, untuk kampanye buy back saham Indosat. Sejak isu divestasi, kasus Indosat memang sarat dengan isu suap dan kepentingan.

oleh Rusdi Mathari
KOMISI Pengawas Persaingan Usaha akhirnya menghukum Temasek. Holding raksasa telekomunikasi asal Singapura itu dinyatakan terbukti melakukan monopoli kepemilikan silang di Indosat dan Telkomsel. Dalam keputusannya yang dibacakan oleh Ketua KPPU Syamsul Maarif hari Senin 19 November 2007, Temasek dinilai telah melanggar UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat. Keputusan itu juga mengharuskan Temasek Holding segera membayar denda Rp 25 miliar ke kas negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha. Denda yang sama juga diberikan kepada sembilan anak perusahaan Temasek yang juga menjadi terlapor dengan denda masing-masing sebesar Rp 25 miliar.

Laporan adanya praktik tidak sehat oleh Temasek berasal dari Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu pada 26 Oktober 2006. Federasi mengklaim menemukan bukti dan fakta yang mengindikasikan ada pelanggaran undang-undang salah satunya, melalui penerapan tarif dengan pola yang hampir sama. Tarif percakapan telepon misalnya, Indosat mematok tarif Rp 503,75 sementara Telkomsel Rp 504. Namun pada 2 April 2007, federasi mencabut laporan tersebut karena menganggap KPPU tidak serius dan telah dimanfaatkan oleh pihak tertentu. Tapi KPPU belakangan meneruskan laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan atas Temasek pada 15 Mei 2007.

Hingga sebelum keputusan KPPU dibacakan, persoalan Temasek dengan dugaan monopolinya menimbulkan banyak reaksi pro kontra. Muncul kemudian isu buy back atau pembelian kembali saham pemerintah di Indosat selain isu konspirasi dan suap. Isu pembelian kembali saham pemerintah di Indosat muncul, menyusul lontaran Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun menurut Kalla, pemerintah tidak bisa mencampuri penjualan kembali saham Indosat milik Temasek Singapura karena yang berhak menentukan untuk menjual pemegang saham mayoritas saat ini adalah Singapore Technologies Telemedia (STT). “Kami tidak mungkin tiba-tiba mengatakan akan membeli kembali,” kata Kalla seperti dikutip Suara Pembaruan 18 Juli 2007.

Satu hal yang mungkin kontroversial menyusul keputusan KPPU itu adalah pengakuan dari Arief Poyuono, Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu. Beberapa jam setelah keputusan KPPU atas Temasek dibacakan, kepada Rusdi GoBlog hari ini, Arief mengaku pihaknya telah dibayar oleh Altimo untuk melakukan serangkaian aksi atas kepemilikan saham Temasek di Indosat. Pembayaran oleh Altimo dilakukan beberapa tahap dan ditransfer kepada rekening Arief di bank BCA.

Transfer pertama terjadi pada Agustus 2006, sebesar Rp 40 juta. Dana itu untuk digunakan membuat siaran pers dan mengadakan konferensi pers. Transfer kedua sebesar Rp 35 juta terjadi pada September 2007 untuk kampanye buy back dan pembuatan laporan kepada KPPU. Arief mengaku, juga dibayar Rp 250 juta untuk melakukan aksi di depan kantor Indosat pada Oktober 2006. Transfer selanjutnya sebesar Rp 40 juta diterima Arief untuk membatalkan pencabutan laporan kepada KPPU. “Tapi tidak saya lakukan, dan uangnya saya bagi kepada teman-teman saya,” kata Arief.

Arief mengaku bersedia dimanfaatkan oleh Altimo, karena perusahaan itu menjanjikan akan mendanai pembelian kembali saham Indosat oleh pemerintah. Namun menurut Arief, Altimo ternyata punya agenda sendiri, yaitu ingin membeli saham Indosat. “Jadi keputusan KPPU itu adalah kemenangan Altimo,” kata Arief.

Sebelum muncul pengakuan Arief, Altimo telah dikabarkan menyediakan sekitar US$ 2 miliar untuk digunakan pemerintah membeli saham Indosat. Setelah dibeli, saham itu akan dipecah menjadi dua bagian masing-masing 15 persen untuk pemerintah dengan imbalan deviden dan 27 persen untuk Altimo. Perusahaan itu juga diberitakan telah membayar sejumlah pihak seperti anggota DPR, KPPU, peneliti dan sebagainya untuk memuluskan rencana pembelian saham Indosat. Menurut Arief LPEM Universitas juga dibayar untuk membuat penelitian oleh Apco Indonesia, yang bertindak sebagai Public Relation Altimo di Rusia dan Indonesia.

Pengakuan Arief yang dibayar oleh Altimo dan tiba-tiba berbalik berseberangan dan menelanjangi Altimo, memang mengejutkan. Dia menolak disebut bahwa saat ini, dia dan federasinya telah dimanfaatkan oleh Temasek untuk menyerang balik KPPU dan Altimo. Ketika ditanya bagaimana dia akan membuktikan, bahwa tidak dimanfaatkan dan dibayar oleh Temasek, Arief berkata, “Saya tidak perlu membuktikan apa-apa.”

Kasus divestasi saham Indosat sejak awal memang sarat kontroversi. Sebelum Temasek diumumkan sebagai pemenang tender penjualan saham Indosat, lobi-lobi tingkat tinggi sudah lalu lalang mendahuluinya. Lobi-lobi itu dilakukan antara lain oleh pejabat-pejabat Singapore Tecnologies Telemedia dan Telkom Malaysia Berhad, yang juga ikut tender dan kemudian kalah. Laksamana.net (sekarang berganti nama menjadi parasindonesia.com) pernah menulis, Temasek Holdings masuk dengan mendekati Taufik Kiemas, suami Megawati (waktu itu Presiden RI) sementara Telkom Malaysia lewat jalur Hamzah Haz, (Wakil Presiden RI). Ketika Temasek akhirnya menjadi pemenang pembelian 41,9 persen saham Indosat, gelombang protes mewarnai pembelian tersebut. Pemerintah saat itu dinilai gagal melindungi aset-aset strategis, termasuk Indosat yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan satelit.

Temasek adalah raksasa telekomunikasi yang berpengaruh di Singapura. Pemegang saham terbesar Temasek adalah Lee Hsien Liong,Menteri Keuangan Singapura, putra Lee Kuan Yew, bekas PM Singapura, yang mewakili pemerintah Singapura. Di Indonesia, konglomerasi ini sudah cukup lama dikenal karena keterlibatan bisnisnya dengan sejumlah taipan dan usahanya memburu sektor telekomunikasi. Paling tidak namanya sudah dikenal ketika Temasek membentuk PT Bukaka Sing Tel pada 1996. Perusahaan ini, kala itu, memenangkan tender pembangunan 403 ribu sambungan baru selama tiga tahun dengan nilai Rp 1,1 triliun.

Lewat Singapore Telecommunications Limited alias Sing Tel, pada tahun 2001 Temasek termasuk investor yang paling sigap menawar saham PT Telkomsel. Usaha ini kemudian berbuah dengan mengantongi saham operator seluler terbesar di republik ini sebesar 35 persen.Temasek yang menguasai saham Sing Tel sampai 67,65 persen, dengan kata lain, secara tidak langsung juga menggenggam 23,7 persen saham Telkomsel.

Bersama Cargill Golden Agri Resources, Juni lalu, Temasek juga masuk dalam pengelolaan dan pengembangan perkebunan minyak kelapa sawit di Indonesia yang semula hanya dimonopoli konglomerat seperti Eka Tjipta Wijaya, yang antara lain bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Ciputra. Cargill adalah salah satu perusahaan pengolah minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Luas perkebunannya lebih dari dari 258 ribu hektar dengan 16 fasilitas penambangan minyak kelapa sawit mentah. Karena itu, tak mengherankan jika Cargill memiliki posisi dan reputasi yang kuat dalam perdagangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Reputasinya dalam pendistribusian, perdagangan, dan pengolahan bisnisnya sudah tidak diragukan lagi.

Karena keperkasaan Cargill inilah, Temasek tertarik terjun di pengelolaan kelapa sawit Indonesia. Temasek berharap dari kerjasama dengan Cargill bisa membuka pasar kelapa sawit, setidaknya di Asia. Sumber lain menilai, ketertarikan Temasek masuk ke Cargill, karena di sana juga ada saham Liem Sioe Liong. Nama yang disebut terakhir ini, bagi Temasek dianggap sebagai jaminan. Lewat Salim Group, Liem memiliki 20persen saham Camerlin Group, dimana Temasek juga mempunyai saham yang besar di sana. Camerlin adalah sebuah perusahaan investasi global yang aset terbesarnya ada pada dua perusahaan: Southern Steel Berhad dan Brierley Investments Limited. Keluarga Liem dan juga Suharto, bekas Presiden RI sama-sama memiliki 24,4 persen saham Brierley Investments, yang mayoritas sahamnya juga dimiliki oleh Temasek.

Di luar Indonesia, gurita bisnis Temasek juga melilit di banyak negara, termasuk di Belgia dan Filipina. Di Thailand dengan membeli saham Advanced Info Service, sebuah perusahaan seluler yang memiliki 9,75 juta pelanggan. Di Hong Kong, Temasek mengantongi kepemilikan saham APT Satelite, penyedia jasa satelit telekomunikasi untuk kawasan Asia Pasifik. Temasek juga masuk di India melalui Bharti Grup, perusahaan yang bergerak di sektor jasa telepon seluler, telepon tetap, hingga satelit. Keikutsertaan Temasek itu, semuanya lewat Sing Tel.

Iklan