Hasil penelitian dari tim dokter di Boston mengungkapkan, migren cenderung mendorong perubahan pada struktur otak penderitanya. Itu sebab ketebalan pada dinding otak penderita berbeda dengan ketebalan pada dinding otak yang tidak menderita migren.

Oleh Rusdi Mathari

HASIL penelitian para dokter dari Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston ini, mungkin bisa menjelaskan mengapa penderita migren sering seringkali juga menderita sakit panggung, rahang dan sebagainya. Awal minggu ini, para dokter itu sampai kepada kesimpulan penelitian mereka bahwa ada perbedaan ketebalan pada dinding otak (cortex) penderita sakit kepala migren dibanding orang yang tidak mengidap migren. Namun para dokter belum mengetahui pasti penyebab perbedaan ketebalan pada dinding otak penderita migren: faktor kebersihan atau akibat serangan migren.

Para peneliti yang tergabung dalam Martinos Biomedical Imaging, seperti dikutip news.bbc.co.uk melakukan penelitian dengan dengan melibatkan 24 orang penderita migren dan 12 orang yang tidak menderita rangsangan migren. Dari penilitian itu diketahui, sensor “somato” pada dinding otak penderita migren 21 persen lebih tebal dibanding mereka yang sehat. Kepala penelitian, dr Nouchine Hadjikhani menjelaskan, serangan migren telah cenderung mendorong perubahan pada struktur otak. Sebagian besar penderita juga sudah menderita migren sejak mereka anak-anak, sehingga sudah mengalami “over stimulation” sejak lama.

Menurut Hadjikhani, hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme sensor otak adalah komponen penting pada migren. Hal ini mungkin bisa menjelaskan kenapa penderita migren, sering pula dijangkiti penyakit lain seperti sakit pada punggung, sakit rahang, dan mengidap “allodynia” atau mengalami penderitan kulit yang sangat sensitif. “Bahkan angin yang lembut pun bisa menyakitkan,” kaya Hadjikhani.

Riset sebelumnya menunjukkan bahwa ketebalan dinding pada otak menjadi penyebab Alzheimer’s. Meskipun bukan merupakan area sensor “somato”, ketebalan pada dinding otak dikenal sebagai motor di dalam otak. Dr Andrew Dowson, penasehat medis Asosiasi Tindakan Migren (MAA) mengatakan, ada banyak riset internasional yang telah menggunakan teknik imaging canggih untuk menguji dampak sakit kronis pada sistem syaraf utama. Bukti yang muncul, ada perubahan koneksi antara sel otak dengan “perangkat keras” otak. “Penemuan itu mungkin bisa memperjelas penyebab migren, sehingga bisa diketahui diagnosa dan cara mengobatinya” kata Dowson.

Iklan