Banyak pertanyaan yang tersisa ketika tragedi 11 September sudah lewat enam tahun. Salah satunya, mungkinkah para teroris bisa melancarkan aksinya sampai sekarang, tanpa didukung aliran dana yang mapan, dan karena itu juga tak melibatkan perbankan internasional?

Oleh Rusdi Mathari

BISNIS adalah bisnis dan perang melawan teroris adalah sangat mungkin menjadi bisnis tersendiri. Presiden Amerika Serikat Goerge W. Bush dan juga PBB boleh-boleh saja melancarkan perang terhadap teroris dan menekan banyak negara untuk membekukan semua rekening di bank yang dicurigai berhubungan dengan teroris. Namun bagi sebagian orang bisnis tetaplah bisnis sekalipun harus berdagang dengan para teroris yang dikutuk banyak orang di dunia menyusul tragedi 11 September 2001.

Itulah yang terungkap dari tulisan Lucy Komisar, yang dimuat The American Reporter Volume 10, September 2004. Wartawan yang juga ahli perbankan dan korporasi internasional itu menilai jaringan para teroris di seluruh dunia bisa tetap hidup, justru karena tetap didukung oleh perbankan dan korporasi internasional. Dukungan perbankan terutama terletak pada sistem kerahasiaan bank untuk menyembunyikan dan mengalihkan uang para teroris. Selain karena kekuatan-kekuatan keuangan dunia, pola semacam itu juga dimungkinkan berkat adanya kesepakatan di antara bank-bank di dunia.

Menurut logika yang paling sederhana, menurut Komisar, sangatlah tidak mungkin bagi para teroris membiayai aksi teror mereka di belahan dunia manapun, hanya dengan mengandalkan pada kekuatan uang tunai apalagi dalam jumlah jutaan dolar. “Risikonya terlalu besar,” tulis Komisar, “Dan karena itu, bank lalu menjadi kendaraan yang paling aman untuk melakukan pemindahan dana.”

Mungkin saja banyak bankir dan pemilik bank yang tak sadar telah ikut berperan membesarkan teroris. Namun sebagian dari mereka justru melakukannya demi memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut. Konsekuensinya, bank-bank itu sebenarnya telah menjadi kasir dan membantu jaringan teroris, bahkan jauh sebelum peristiwa 11 September.

Temuan Komisar mungkin mengejutkan. Tapi menurut The Sunday Times London, Khalid al-Fawwaz –seorang yang dianggap sebagai “letnan” Osama bin Ladin— telah menggunakan rekening yang dibuka di cabang Barclay Bank di London untuk kepentingan kegiatan jaringan Osama. Rekening itu diketahui digunakan Fawwaz untuk membiayai sirkulasi perintah-perintah dan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Osama dengan sel-sel organisasi mereka di seluruh dunia. Dan aliran dana kepada rekening di Barclay Bank, terutama berasal dari Al Taqwa Management Organization AG.

Nama yang disebut terakhir adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa-jasa keuangan. Kantornya berkedudukan di Lugano, Swiss. Sudah sejak lama kota yang terletak di Swiss bagian selatan itu dikenal sebagai surga bagi “perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang keuangan”, berdirinya perusahaan gadungan dan untuk membuka rekening-rekening bank secara rahasia kalau tidak mungkin disebut rekening-rekening para koruptor dan penjahat narkoba.

Dari Lugano itulah Al Taqwa diduga mengalirkan uang secara rahasia, termasuk pengalihan dana ke rekening Al Fawwas di Barclay Bank. Semuanya bisa terus berlangsung berkat “campur tangan” para bankir dan pemilik bank, yang menurut Komisar menerima imbalan dalam jumlah besar. Inilah pola pencucian uang paling sederhana yang sebenarnya sudah lama diketahui banyak bankir.

Tentang bagaimana seluk beluk mencuci uang, Osama kemungkinan besar belajar dari “guru besarnya”: Amerika Serikat. Masih menurut Komisar, pemerintah Amerika dan para sekutunya jauh sebelum kejadian 11 September sudah menggunakan pola-pola yang sama dengan yang dilakukan Osamah lewat Al Taqwa di Lugano.

Ketika Al-Qaidah, rezim Taliban, dan mujahidin Afghanistan berperang melawan (mendiang) Uni-Soviet; Amerika lewat Bank of Credit and Commerce International—BCCI menggunakan rekening-rekening lepas pantai yang dirahasiakan untuk melakukan pencucian uang secara global. Dana-dana itu, oleh Amerika digunakan untuk membiayai para mujahidin dan lalu digunakan memerangi pemerintah Afghanistan yang didukung Uni Soviet.

Di masa presiden Ronald Reagan bank tersebut juga dipakai sebagai kendaraan untuk mencuci uang hasil penjualan senjata ke Iran (Iran-Contra Affair). Dalam buku The Laundryman, Jeffry Robinson menulis bahwa badan intelejen Amerika, CIA juga membuka rekening di bank tersebut. Sebelum ditutup pada 1991, BCCI diketahui telah mencuci uang senilai US$ 8 miliar untuk membiayai operasi Amerika di Afghanistan.

Laporan hasil penelitian Cheryl Benard berjudul Civic Demoktatic Islam; Partner, Resources, and Strategies (terbit tahun 2003), memperkuat temuan tersebut. Benard yang bekerja pada Divisi Penelitian Keamanan Nasional di Lembaga RAND, mengkritik pemerintah Amerika karena perannya yang ikut membesarkan teroris. Dukungan Amerika menurut Benard tak terbatas hanya pada pengadaan peralatan meliter, taktik perang dan intelejen, namun juga bantuan dana yang sangat besar kepada jaringan Al-Qaidah yang dipimpin Osama, rezim Taliban, dan mujahidin Afghanistan.

Sekarang jarum jam berbalik arah. Al-Qaidah, Osama, berubah menjadi musuh nyata dan menggerogoti jantung kehidupan Amerika sendiri. Pasca tragedi 11 September, Washington lalu sibuk berkampanye dan mengusahakan pembekuan lembaga-lembaga donor yang memberi dukungan finansial kepada gerakan terorisme. Dunia diminta mendukung atau berisiko dicap sebagai negara yang bekerjasama dengan teroris dan karena itu harus dikucilkan. Paling tidak bisa menerima label noncooperative countries territories atau NCTT’s dari Satuan Tugas Aksi Keuangan untuk Pencucian Uang (FAFT). NCTT’s adalah semacam julukan bagi negara atau wilayah yang dinilai tidak kooperatif terhadap usaha dunia internasional memberantas praktik pencucian uang.

Namun seperti biasa selalu ada standar ganda dari Amerika, juga dalam kampanye Amerika tentang pencucian uang. Indonesia yang sudah meratifikasi Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang menjadi Undang-Undang No. 25 Tahun 2003—seperti yang diminta FAFT, hingga sekarang tetap dimasukkan ke dalam daftar hitam NCTT’s. Alasannya, fundamental dan standar yang digunakan Indonesia masih dianggap belum tepat.

Padahal pemerintah Amerika sendiri juga tak mampu menghentikan pembukaan rekening di Amerika oleh Bank Al Shamal Islamic yang berkedudukan di Khartoum, Sudan. Bank tersebut adalah salah satu lembaga keuangan yang konon didirikan oleh Osama. Itu belum termasuk transaksi-transaksi di negara-negara seperti Nauru, Liechtenstein, Caymand Island, Virgin Island, atau Mauritius yang selama ini sangat dikenal sebagai sorga pencucian uang dan memperoleh predikat tax heaven karena tidak pernah diutak-atik oleh Amerika.

Adalah menarik mencermati artikel yang ditulis James Petras di situs globalresearch.ca. Mengutip ucapan Senator Carl Levin, Petras menyebutkan, setiap tahun bank-bank Amerika dan Eropa telah mencuci uang antara US$ 500 dan US$ 1 triliun. Separuh dari uang haram itu dicuci oleh bank-bank Amerika. Hingga lebih dari satu dekade, antara US$ 2,5-5 triliun hasil kejahatan telah “disabun” oleh bank-bank Amerika dan disirkulasikan ke dalam jaringan keuangan Amerika (U.S. financial circuits).

Pencucian uang itu baru dari hasil kejahatan seperti yang dimaksud oleh undang-undang Amerika dan belum termasuk pemindahan dana secara ilegal, pelarian modal yang dilakukan pemimpin politik yang korup, atau pengelakan pajak oleh konglomerat.

Lalu siapa pencuci uang haram dan teroris yang sebenarnya? Seperti kepingan puzzle residu teka-teki dari pertanyaan semacam itu kelihatannya belum akan menemui kata akhir. Bahkan setelah tragedi 11 September lewat enam tahun dan Bush akan segera mengakhiri pemerintahannya, yang terlihat dan terasa hanyalah gelombang kepedihan dan juga kemarahan.

Iklan