Setelah keluar dari penjara, Roy kerap diundang beberapa lembaga dan banyak mengungkapkan seluk beluk peredaran narkoba yang begitu mudah didapat di dalam penjara. Alex Asmasoebrata menduga ada yang sakit hati dengan testimoni Roy lalu menginginkan Roy kembali dipenjara. Katanya untuk dibunuh.

Oleh Rusdi Mathari

TOYOYA Alphard warna hitam yang menunggu di pelataran parkir Bandara Juanda, Surabaya sudah siap berangkat ketika tiba-tiba telepon genggam Roy Marten berdering. Hari itu Sabtu 10 November 2007 Roy baru dua jam mendarat di Juanda. Bersama Alex Asmasoebrata, Alexandra Asmasoebrata, dan Natalia Dewi (sekretaris pribadi Alex dan Andra), Roy datang ke Surabaya untuk sebuah acara kampanye penanggulangan penggunaan narkoba di Graha Pena, Surabaya yang diadakan oleh Grup Jawa Pos dan Badan Narkotika Nasional.

Peneleponya Fredy Matatula. Lelaki yang pernah dipenjara bersama Roy itu mengajak bertemu di Hotel Novotel Surabaya untuk kangen-kangenan sambil menikmati penampilan peragawati-peragawati cantik. Roy tak bisa memutuskan saat itu, telepon genggamnya lalu dia serahkan ke Alex. “Udah deh elu jangan macem-macem, Roy ada acara BNN di Surabaya,” kata Alex kepada Fredy. Telepon kembali diberikan Alex kepada Roy dan Roy kembali berbicara dengan Fredy. Alex tak tahu apa yang dibicarakan.

Sebelum Fredy menelepon Roy, sekitar jam 2 siang bertempat di ruang VIP Bandara Juanda, Roy, Alex, Andra dan Dewi bertemu dengan rombongan Kapolri Jendral Sutanto. Di sana ada istri Kapolri, Kepala BNN Komjen Made Mangku Pastika dan istri, Kapolda Jawa Timur Irjen Herman Surjadi Sumawiredja, Hartati dari Grup Jawa Pos dan beberapa orang BNN. Acaranya makan-makan. Setelah pertemuan berakhir, mereka berpisah. Roy dan rombongan lalu menuju mobil Alphard yang di dalamnya sudah menunggu seorang sopir dan petugas dari BNN bernama Dik Dik Kusnadi.

Usai pembicaraan telepon dengan Fredy, Roy bersama rombongan kemudian berangkat ke Graha Pena. Menurut Alex, mereka tiba pada pukul 3.30 sore tapi acara baru akan dimulai pada pukul 4.30 sore. Beberapa saat setelah acara dimulai, Roy pun mendapat giliran berbicara setelah Andra. Roy menurut Alex, antara lain mengungkap seluk beluk jaringan peredaran narkoba di penjara (Cipinang). “Dalam 1 menit para pengguna narkoba di penjara, sudah bisa mendapatkan narkoba. Dan aman. Sementara di luar penjara bisa menunggu hingga berjam-jam dengan risiko ditangkap,” kata Alex menirukan Roy.

Roy juga meminta maaf jika apa yang dia ungkapkan akan menyinggung pihak-pihak yang berkepentingan dalam peredaran narkoba. Kepada Kapolri, Roy juga sempat meminta diskresi untuk para pengguna narkoba yang ditangkap polisi. Kapolri yang berbicara terakhir, kemudian merespon permintaan diskresi Roy. Sutanto bahkan berjanji akan segera mengeluarkan surat keputusan yang ditujukan kepala seluruh Kapolda menyangkut penanganan para pengguna narkoba yang ditangkap oleh polisi. Dengan surat keputusan itu, kelak polisi yang menangkap pengguna narkoba diminta untuk memasukkan mereka ke panti rehabilitasi dan bukan ke penjara. Acara selesai pukul 6 sore, Roy dan rombongan meminta izin kepada Sutanto untuk meninggalkan acara.

Pergi Pulang

Dalam perjalanan hendak kembali ke Juanda, sekitar 100 meter dari Graha Pena, di depan Hypermarket, Roy tiba-tiba minta turun. Alex mencegah tapi Roy bersikukuh. Alex bersama Andra dan Dewi kemudian melanjutkan perjalanan ke Juanda karena pesawat Adam Air yang akan mereka tumpangi menuju Jakarta akan take off pada pukul 7.30 malam. “Setelah itu saya tidak tahu,” kata Alex.

Alex dan Roy adalah dua sahabat. Mereka melewati masa-masa muda bersama, “Dari sejak Roy kere sampai kere lagi seperti sekarang ha..haa,” kata Alex. Sepengetahuan Alex, Roy sudah menggunakan shabu-shabu sejak sekitar 10 tahun terakhir. Selebihnya Roy adalah suami, bapak dan teman yang baik, yang menghabiskan waktunya dengan banyak bermain ping pong.

Usai menjalani hukuman dari Penjara Cipinang, Jakarta Timur, ada perubahan pada Roy kendati tidak 100 persen. Roy kemudian banyak diundang atau dilibatkan oleh BNN dan Departemen Sosial untuk berbicara kepada publik soal pengaruh buruk narkoba. Semula Roy hanya menjelaskan keterlibatannya dalam menggunakan narkoba dan pengaruh pada dirinya. Namun Alex tidak betah dengan penjelasan Roy yang dia nilai hanya “itu-itu saja” dan mendorong Roy agar memberikan testimoni soal maraknya peredaran narkoba di penjara. “Gua nggak enak dengan temen-temen,” kata Alex menirukan Roy.

Belakangan desakan Alex diikuti oleh Roy. Di banyak kesempatan dia lantas mengungkapkan kemudahan mendapat narkoba di penjara termasuk diungkapkan di depan Kapolri pada acara di Surabaya itu. “Mungkin memang banyak yang sakit hati dengan pengakuan Roy itu,” kata Alex.

Ketika datang ke acara di Graha Pena, Roy dan rombongan sebenarnya menggunakan tiket pergi pulang dari maskapai Adam Air, yang semua pembelian tiket diongkosi oleh Alex. Rencana semula, setelah acara selesai mereka semua akan langsung kembali ke Jakarta. Tapi di Surabaya, teman-teman lama dari penjara berhasil membujuk Roy untuk tinggal di kota itu selama beberapa hari. Alex sempat mencegah dan mengajak Roy langsung pulang ke Jakarta, namun Roy punya alasan lain.

Takut terjadi apa-apa pada diri Roy, Alex memesankan kamar untuk Roy di Hotel Grand Hyat Surabaya dan meninggalkan sejumlah uang. Belakangan diketahui Alex, kamar itu tak pernah digunakan oleh Roy hingga kemudian Alex tahu Roy ditangkap di Novotel bersama Fredy, Hartanto alias Hong Kho Hay dan seorang perempuan pada Selasa dini hari 13 November 2007.

Menurut Kepala Kepolisian Kota Besar Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar, saat digeledah di kamar 465 Novotel, polisi menemukan 1,5 ons shabu-shabu di laci meja, alat hisap, alumunium foil, timbangan, telepon genggam dan korek api. Roy ditemukan masih dalam keadaan tidur. Selain itu, hasil tes menunjukkan kelima orang itu positif menggunakan narkoba. “Shabu-shabu yang dipakai Roy dikirim dari LP Cipinang melalui perantara Didit. Pak Roy sendiri mengaku mengenal empat pelaku lainnya, karena pernah sama-sama mendekam di LP Cipinang dalam kasus narkoba,” kata Anang seperti dikutip Antara (13 November 2007).

Akan Dibunuh?

Sehari sebelum penangkapan, Alex sempat menghubungi Roy. Ditanya oleh Alex, Roy menjawab menginap di Novotel dan mengaku sedang meriang. “Tapi gila bos, perempuannya cantik-cantik,” kata Alex menirukan Roy.

Hingga beberapa jam setelah Roy ditangkap Alex belum tahu soal penangkapan itu. Alex baru tahu setelah diberitahu Dik Dik dari BNN. Alex menangis saat itu. “Itulah tugas kita. Orang-orang yang kena narkoba (seperti Roy) memang sulit kembali normal dan perlu penanganan khusus,” kata Pastika kepada Alex di kantor BNN.

Siang pada hari penangkapan Roy, Alex menelpon Roy dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Novotel. Menurut Roy kepada Alex, dia sedang tidur, tidak memegang barang bukti, dan tidak menggunakan shabu-shabu. Penjelasan itu sesuai dengan keterangan Fredy beberapa saat setelah ditangkap. Alex menegaskan kepada Roy, kalau memang tidak make, dia harus bilang tidak make, karena itu yang akan bisa membantu Roy keluar dari masalah.

“Kayaknya memang ada yang ingin Roy kembali masuk penjara. Di sana dia mungkin akan ‘dihabisi’ karena mengungkapkan lika-liku peredaran di penjara,” kata Alex. Lalu siapa yang punya rencana menghabisi nyawa Roy? Lewat percakapan telepon dengan saya Kamis siang (29 November 2009), Alex mengaku tak tahu.

Iklan