Seorang profesor Rusia berteori bahwa penyebab utama pemanasan global adalah ledakan matahari yang selama dua dekade terakhir frekuensi dan kekuatannya jauh lebih besar dari waktu-waktu sebelumnya. Jika tesis itu benar mestinya akan membalikkan arus besar pendapat tentang penyebab pemanasan global.

oleh Rusdi Mathari

PROFESOR bernama Habibullah Samadov mencuri perhatian publik Cina awal November silam. Ketika diwawancarai oleh stasiun televisi Phoenix, Hong Kong, dia mengeluarkan pendapat tentang pemanasan global, yang sama sekali berbeda dengan pendapat banyak orang. Menurutnya penyebab pemanasan di bumi disebabkan oleh ledakan yang terjadi di matahari yang frekuensi dan kekuatannya dua kali lebih besar dalam dua puluh tahun terakhir. Samadov dalam wawancara itu menyebut matahari sebagai planet Api.

Teori Samadov kemudian juga dipublikasikan oleh sebuah situs berbahasa Mandarin. Di dalam situs http://www.sciel.com Samadov antara lain mengungkapkan bahwa ledakan besar di matahari sebenarnya sudah dimulai sejak awal abad 20. Namun ledakan yang terbesar terjadi pada periode 20 tahun terakhir.

Samadov berpendapat pada akhirnya ledakan itu akan berkurang sehingga suhu pemanasan di bumi mulai akan mencapai angka moderat pada 2041. Puncak berkurangnya pemanasan itu diperkirakan terjadi pada 2055-2060. Pada masa itu suhu bumi akan jauh lebih dingin dibanding suhu sekarang menyusul berkurangnya ledakan di planet Api.

Pemanasan di bumi sejauh ini telah membuat resah beberapa kalangan tertama pemerhati lingkungan. Sepanjang abad ini paling tidak sudah terjadi 10 kasus tahun terpanas hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas yang berdampak terjadinya kebakaran hutan di Indonesia, Brasil, Australia atau negara lainnya dan kemarau panjang yang memusnahkan panen seperti di Afrika, serta bencana iklim lainnya akibat fenomena El-Nino.

Penyebab utama pemanasan itu menurut banyak ilmuwan adalah penggunaan zat-zat kimia seperti chlorofluorocarbon atau freon pada AC dan lemari es; pembuatan busa; pemadam api; pelarut; gas buangan dari kendaraan bermotor dan pabrik; kebakaran hutan; dan emisi gas rumah kaca. Amerika Serikat merupakan negara penyumbang terbesar pada kerusakan lingkungan semacam itu. Di bawahnya ada Cina di urutan kedua, dan Indonesia di urutan ketiga. Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP) kerugian dunia akibat semua pencemaran itu, mencapai US$ 300 miliar setiap tahun. Sementara ongkos untuk mengatasi dampak pemanasan global pada 50 tahun mendatang memerlukan dana sekitar US$ 300 miliar.

Lembaga seperti Intergovernmental Panel on Climate Change, karena itu menyerukan agar seluruh negara di dunia berupaya mengurangi faktor penyebab pemanasan. Jika tidak ada penanganan serius untuk mengurangi penyebab itu, sampai seratus tahun mendatang kenaikan temperatur bumi ditaksir akan meningkat 2,5 sampai 10,4 derajat Celcius dan pada 2008 diprediksi akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter. Daerah yang rawan terhadap dampak ini adalah Asia Selatan, Asia Tenggara, sepanjang pantai selatan Mediterania, pantai barat Afrika, dan terumbu karang di Lautan Indonesia dan Pasifik.

Pendapat yang mengatakan bahwa pemanasan di bumi juga disumbang oleh potensi ledakan di matahari bukan tak pernah ada. Namun ledakan di matahari bukan dianggap sebagai penyebab utama pemanasan di bumi seperti yang dikatakan Samadov. Maka, kalau Samadov benar, teorinya bisa jadi akan membalikkan semua tesis tentang pemanasan global yang ada selama ini. Atau setidaknya bisa mengurangi keresahan terhadap pemanasan global.

“Ini temuan penting dan saya sedang akan mencari tahu siapa profesor itu di kedutaaan besar Rusia di Jakarta, “ kata Jimmy Purwonegoro, Direktur Badan Revitalisasi Industri Kehutanan, yang mengaku menonton wawancara Phoenix dengan Samdov— kepada saya minggu lalu.

Iklan