Di tengah paranoid publik Eropa terhadap Islam, walikota Creteil di Perancis melawan arus dengan mengizinkan pembangunan mesjid megah yang akan selesai Juni tahun depan. “Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain apalagi dalam soal agama mereka.”

Oleh Rusdi Mathari

SEKITAR 200 orang Islam, Jumat minggu lalu memadati sebuah bekas gudang pertukangan kayu di Creteil, Perancis. Meskipun tempat itu terlalu kecil untuk menampung jamaah, mereka berbondong-bondong datang untuk menunaikan shalat Jumat.Para lelaki berderet di lantai bawah sementara kaum wanita berdesakan di ruang kecil di bagian atas. Di luar, Karim Benaissa terlihat meletakkan papan-papan untuk para jamaah yang tidak tertampung di dalam aula. “Bahkan dalam udara dingin sekalipun, mereka bisa lebih khusuk. Itulah yang membuat saya malu,” kata Benaissa, pria asal Aljazair, Ketua Asosiasi Uni Muslim Creteil.

Pemandangan seperti yang terjadi pada Jumat lalu itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan mungkin akan terus seperti itu, hingga sebuah mesjid yang kini sedang dibangun selesai pada Juni tahun depan. Kelak jika mesjid di Creteil benar berdiri maka itulah mesjid pertama terbesar yang pernah dibangun di Eropa (barat) dalam 100 tahun terakhir. Menelan ongkos pembangunan sebesar US$ 7,4 juta (setara Rp 74 miliar dengan kurs Rp 10 ribu) mesjid itu terletak di sebuah bukit kecil, di tepi sebuah danau, tak jauh dari balai kota dan pos polisi Creteil. Tempat shalatnya bisa menampung sebanyak 2.500 jamaah sementara menaranya berjumlah 81 buah. Sebuah mesjid yang oleh Molly Moore, periset dari Corinne Gavard disebut sebagai “pengecualian” di tanah Eropa (lihat the Washington Post, 9 Desember 2007 halaman A01).

Uniknya pembangunan mesjid itu juga dibantu dan didukung oleh pemerintah daerah Creteil termasuk juga di dalam pembiayaan pembangunan komplek mesjid. Menurut Walikota Creteil, Laurent Cathala pihaknya tidak ingin menyembunyikan soal pembiayaan dan pembangunan mesjid di Creteil karena itulah cara untuk memperkecil jumlah gerakan bawah tanah Islam di Perancis. “Kita ingin mesjid ini dibangun sehingga semua orang bisa melihatnya,” kata Cathala.

Di tengah-tengah paranoid masyarakat Eropa terhadap Islam, terobosan Cathala tentu saja sebuah anomali. Otoritas Perancis menurut catatan Moore, sejauh ini sudah mencoba mengembalikan para imam mesjid ke negara-negara asalnya. Para anggota DPRD di Creteil yang anti imigran bahkan gencar memprotes penggunaan dana-dana negara untuk pembangunan pusat kebudayaan. Sebagian dari mereka khawatir para wanita mereka tidak bisa lagi menggunakan bikini ketika berenang di danau dekat mesjid itu.

Kekhawatiran, paranoid dan diskriminasi terhadap Islam semacam itu, bahkan tidak hanya terjadi di Creteil namun juga melanda di hampir seluruh wilayah Eropa. Dalam masa setengah abad terakhir, benua itu memang sedang mengalami perubahan demografi yang paling dramatis dan mungkin juga menakutkan bagi sebagian warganya menyusul semakin pesatnya perkembangan Islam termasuk juga dalam soal statistik. Di Eropa, Islam adalah agama terbesar kedua setelah Nasrani dan Perancis merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim paling banyak. Dari total penduduk Perancis yang berjumlah sekitar 65 juta jiwa, sebanyak 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah penganut Islam. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan kedua yang lahir, besar dan menjadi warga negara di sejumlah negara di Eropa.

Tapi menurut Moore pembangunan tempat ibadah seperti mesjid sungguh sangat sulit terwujud di Eropa. Dari London, Inggris hingga Cologne dan Marseille, Perancis, penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa terus disibukkan dengan penolakan pembangunan mesjid. Mereka menentang pembangunan mesjid karena dianggap bisa mempengaruhi keamanan nasional dan kepribadian mereka.

Di Ibukota Inggris, London, pendirian mesjid yang akan dibangun di dekat taman yang bersebelahan dengan areal Olimpiade 2012 akan berlangsung telah ditentang besar-besaran oleh pemerintah dan warga Inggris bahkan ketika masih dalam bentuk proposal. Kaum nasionalis Swiss juga beramai-ramai menentang pembangunan mesjid di negaranya. Di sebuah bukit kecil bernama Colle Val d’Elsa, di Tuscan, Italia, penduduk setempat melempari pintu utama menuju mesjid setempat yang sedang dibangun, dengan sosis dan kepala babi. Angela Merkel, Kanselir Jerman mengatakan di depan para anggota parlemen Jerman bahwa mereka harus berhati-hati dengan pembangunan mesjid di Jerman. “Kubah-kubah mesjid tidak boleh dibangun dengan tinggi melebihi menara-menara gereja,” kata Merkel.

Eropa sedang terjangkiti paranoid berlebihan dan cenderung diskriminatif terhadap orang Islam. Ketakutan semacam itu semakin membuncah setelah Presiden Amerika Serikat, George W. Bush menyatakan perang terhadap teroris menyusul peristiwa 11 September 2001. Riem Spielhaus, pengajar di Universitas Berlin Jerman menilai anti pembangunan mesjid di Eropa sebenarnya adalah prakarsa baru yang dilakukan oleh kelompok kanan. “Mesjid adalah simbol (kehadiran orang Islam) yang permanen. Mereka menanamkan bata dan mereka akan tinggal,” kata Spielhaus ahli di bidang Islam-Eropa.

Maka Cathala adalah “pengecualian” yang dimaksudkan oleh Moore. Anggota Partai Sosialis Perancis yang menjabat walikota Creteil selama tiga dekade itu menganggap pembangunan mesjid di Creteil sebagai evolusi demografi di kotanya. “ Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain apalagi dalam soal agama mereka,” kata Cathala.

Creteil adalah kota yang terletak di sebelah tenggara Paris. Di Perancis, Creteil merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim paling banyak bahkan mungkin untuk seluruh daratan Eropa. Dari sekitar 88 ribu penduduk di kota kecil tu, 20 persen di antaranya adalah pemeluk Islam.

Rumah makan di dekat balai kota, menyediakan menu sehari-hari yang disebut “Couscous comme la bas” maksudnya “couscous seperti mereka membuatnya di sana” di negara-negara Timur Tengah asal para imgiran di Creteil. Ramadan lalu, sekitar 5 ribu muslim meramaikan bulan itu di sebuah gedung olahraga Creteil. Sejauh ini, mereka memang terbiasa melaksanakan ritual keagaamaan dengan fasilitas yang terbatas termasuk melaksanakan shalat Jumat di bekas gudang pertukangan kayu itu.

Pembangunan mesjid di Creteil adalah kisah tentang perjuangan kaum Muslim dan upaya menegakkan keadilan dari seorang pejabat pemerintah bernama Cathala kepada warganya. Ide pembangunannya sendiri sebenarnya merupakan gagasan 15 tahun lalu yang tertunda menyusul pertikaian di organisasi Islam setempat. Orang-orang Islam dari Maroko, Aljazair dan Tunisia akhirnya sepakat untuk menggunakan bekas tempat pertukangan kayu sebagai tempat ibadah, meskipun ukurannya tidak cukup untuk menampung 200 orang. Menurut Benaissa (44) yang datang ke Perancis saat berusia 18 tahun untuk menjadi mahasiswa, pemicu perselisihan adalah cara berpikir yang berebda. Mereka yang lebih tua tetap menginginkan memiliki keterikatakan dengan negeri asal sementara generasi yang baru yang dilahirkan di Perancis ingin sesuatu yang berbeda.

Cathala kemudian muncul menawarkan untuk membantu pembiayaan pembangunan dan mencarikan lokasi untuk tempat mendirikan mesjid dalam suatu komplek yang di dalamnya ada rumah makan, tokok buku, perpustakaan, aula tempat pameran dan ruang kelas untuk sekolah. Namun Cathala mengajukan sejumlah syarat: orang kaum Muslim Creteil harus menunjuk satu orang sebagai juru bicara mereka; arsitektur mesjid harus sesuai dan tidak merusak pemandangan di sekitar danau; pembiayaan harus transparan; dan komplek mesjid akan terbuka bagi semua penduduk orang Islam dan non-Islam.

Sebagai gantinya, Cathala akan melakukan interpretasi terhadap hukum Perancis kecuali dalam penggunaan dana-dana negara. Cathala kemudian memang berhasil mempengaruhi sebagian besar anggota DPRD Creteil agar menyetujui penggunaan anggaran daerah sebesar US$ 1,5 juta untuk pembangun pusat budaya di komplek mesjid— cafe, pusat pameran, bathhouse, toko buku dan ruang belajar. Hingga sebelum peristiwa 11 September, beberapa walikota di Perancis dengan alasan birokrasi memang lebih memilih membangun pusat budaya untuk membantu kaum Muslim ketimbang pembangunan mesjid. Namun setelah peristiwa 11 September dan meningkatnya aksi teroris di Eropa, pemerintah Perancis mengontrol kaum Muslim sangat ketat.

Dalam catatan Kementerian Dalam Negeri Perancis, ada sekitar 1.500 tempat ibadah kaum Muslim di seluruh Perancis namun hanya ada 400 mesjid. Kebanyakan dari tempat-tempat ibadah itu berupa gedung olah raga, apartemen atau toko yang sudah tak berfungsi. “Mereka membiarkan kami beribadah di tempat-tempat sempit dan memperlakukan kami seperi tikus got, sementara orang Katolik mempunyai gereja-gereja yang indah,” kata Abdallah Zekri, anggota dewan penasehat Asosiasi Muslim Perancis.

Kecuali berhasil meminta persetujuan DPRD, rencana Cathala membantu pembangunan mesjid Creteil ditentang oleh semua orang. “Yahudi membayar sinagoga mereka, umat Katolik membayar untuk gereja mereka. Mengapa kaum Muslim Islam harus dibantu oleh wajib pajak Creteil?” kata Lysiane Choukroun (59), anggota DPRD dari Partai Pergerakan Republik Nasional. Para anggota partai ini dikenal sebagai penentang pembangunan mesjid di beberapa kota besar di Perancis.

Ketika mesjid Creteil dalam proses pembangunan, tiba-tiba sebuah bank lokal di Creteil yang digunakan Asosiasi Islam Creteil, secara sepihak menutup rekening organisasi itu. Tidak ada alasan tentang pemblokiran rekening tersebut namun sejumlah bank di Perancis memberikan pernyataan bahwa banyak mesjid di Perancis yang dibiayai oleh donatur tanpa nama dari luar negeri. “Itu diskriminasi,” kata Benaissa sambil menambahkan bahwa uang pembangunan mesjid telah digunakan oleh Perancis.

Pada musim panas tahun ini, lagi-lagi pemerintah Perancis berusaha menghalangi pembangunan mesjid Creteil melalui isu radikal Islam yang ditujukan kepada imam mesjid Creteil, Ilyes Hacene. Sesuai dengan catatan agen kepolisian Val de Marne, antara 2000-2006, Hacene dianggap pernah memberikan “komentar berapi-api” dan karena itu, pemerintah Perancis sedang mengupayakan pembatalan terhadap hak kewarganegaraan Hacene.

Cathala mengaku terkejut dengan tuduhan terhadap Hacene namun dia percaya tuduhan itu lebih kental unsur politiknya. “(Apakah) mereka (orang Islam) mennggunakan uang pajak selama tujuh tahun?”

Berjalan di areal mesjid Creteil yang belum selesai, menurut Moore akan menjumpai kubah-kubah mesjid dan jendela yang mempesona. Kaum Muslim Creteil telah membangun sebuah mesjid yang unik di Perancis lebih dari sekedar meniru arsitektur Mesjid Sofa Turki dan mesjid-mesjid di Timur Tengah. “Mesjid ini bukan sekedar sebuah pengakuan terhadap agama kami, namun juga pengakuan dari sebuah kota terhadap warga negaranya,” kata Benaissa.

Iklan