Seorang mantan agen CIA yang ikut menangkap dan menginterogasi para tersangka teroris pada masa-masa awal kampanye perang melawan teroris, mengakui ada penyiksaaan terhadap para tersangka teroris. Dia mengaku kepada publik karena menginginkan Amerika menjadi lebih baik.

Oleh Rusdi Mathari

JOHN Kiriakou tiba di Pakistan ketika daun-daun pohon kokka mulai bertunas kembali menyongsong musim semi— hampir enam tahun yang lalu. Bulan-bulan pertama tahun 2002 adalah fase-fase awal dari sebuah episode yang dirancang pemerintah Amerika Serikat dan kemudian mengubah wajah dunia: perang melawan teroris menyusul tragedi 11 September 2001, yang terjadi tiga atau empat bulan sebelum Kiriakou tiba di Pakistan. Sebagai agen CIA, Kiriakou datang ke Pakistan sebagai bagian dari kampanye perang melawan teroris yang ditabuh oleh Presiden George W. Bush.

Ia bertugas untuk menangkap Zayn Abidin Muhammed Husein abu Zubaida, salah satu tokoh kunci dari organisasi Al Qaeda. Abu Zubaida yang menderita luka tembak kemudian dirawat di salah satu rumah sakit tentara milik pemerintah Pakistan dan Kiriakou setiap hari datang “menjenguk” Abu Zubaida untuk mengorek informasi. Pada masa-masa awal “berkenalan” Kiriakou dan Abu Zubaida terlibat dalam pembicaran yang bersifat pribadi meski inisiatif pembicaraan lebih banyak datang dari Abu Zubaida.

Abu Zubaida bercerita kepada Kiriakou tentang keyakinan pada agama, keluarga dan status dirinya yang masih melajang dan tidak pernah menikah. Tapi Kiriakou tak hendak berlama-lama menanggapi pembicaraan Abu Zubaida. Dia memberi nasehat seperlunya dan kembali kepada misi awal: mengorek informasi dari Abu Zubaida tentang infrastruktur, rencana dan kepemimpinan Al Qaeda.

Abu Zubaida tentu saja menolak untuk menjawab. Sebaliknya dia malah menantang. “Anda memiliki satu kesempatan lagi untuk bekerja sama. Orang-orangku mengatakan, kamu bajingan,” kata Kriouku dan Abu Zubaida balas menjawab,”Mereka juga bajingan.”

Pertemuan itu berakhir tanpa ada keterangan apapun dari Abu Zubaida. Namun rupanya dialog di rumah sakit itu menjadi dialog terakhir dari Abu Zubaida kepada para investigatornya. Setelah itu Abu Zubaida diterbangkan ke sebuah penjara rahasia dan di sanalah dia mengawali datangnya musim kemarau pada tahun itu dengan mendapat siksaan dari para agen CIA. Sebuah tim CIA yang dididik untuk bertindak agresif termasuk untuk menyiksa agar para tawanan mengaku dan bersedia memberikan keterangan, dihadapkan kepada Abu Zubaida yang masih tidak mau berbicara atau tidak bersedia memberikan keterangan tentang Al Qaeda.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak: Abu Zubaida disiksa tanpa ampun. Tubuhnya diikat kuat pada selembar papan dan hidungnya disumpal dengan plakban. Sementara itu air lalu diguyurkan ke tenggorokan Abu Zubaida melalui mulut yang dipaksa terus menganga. Dalam istilah Kiriakou pola penyiksaan semacam itu disebut sebagai “teknik menolong korban banjir”. Tak sampai 35 detik Abu Zubaida ambruk tidak sadarkan diri.

Ketika siuman Abu Zubaida mulai berubah pikiran. Dia kemudian memberikan banyak keterangan kepada para penyiksanya. Hari berikutnya dia memberikan informasi apapun yang diinginkan oleh para agen CIA. “Dia mengatakan bahwa Allah telah menemuinya di dalam sel dan berkata kepadanya agar dia mau bekerja sama sebab itulah yang bisa membantu saudara lelakinya,” kata Kiriakou .

Tidak dijelaskan oleh Kiriakou apakah saudara lelaki Abu Zubaida juga ikut ditangkap dan mengalami siksaan atau tidak sehingga karena itu Abu Zubaida sangat mengkhawatirkan nasib saudaranya itu. Satu hal yang pasti, penyiksaan terhadap Abu Zubaida diabadikan dalam sebuah rekaman video oleh agen CIA sendiri. Menurut Michael Hayden, Direktur CIA, lembaganya memang merekam banyak interogasi sebagai mekanisme pengawasan internal (http://www.bbc.co.uk­, 7 Desember 2007).

Lima tahun berlalu setelah itu tanpa ada yang mempersoalkan “teknik menolong korban banjir” yang dilakukan CIA kepada Abu Zubaida dan tersangka teroris yang lain. Namun mengawali musim dingin tahun ini kebusukan dinas rahasia Amerika Serikat itu terungkap ke permukaan menyusul sebuah temuan bahwa CIA telah memusnahkan sedikitnya dua pita rekaman video interogasi yang disertai penyiksaan terhadap tersangka teroris dari organisasi Al Qaeda termasuk penyiksaan terhadap Abu Zubaida. Sebelumnya rekaman video tentang penyiksaan itu beredar di banyak situs internet dan telah memicu banyak keresahan di publik Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara Kiriakou mengaku tidak ikut dalam interogasi yang dilakukan rekan sejawatnya di CIA terhadap Abu Zubaida. Sesaat setelah pertemuannya dengan Abu Zubaida di rumah sakit militer Pakistan, Kiriakou mengaku langsung terbang ke Washington. Kiriakou mengatakan dirinya tidak tahu bahwa interogasi terhadap Abu Zubaida telah direkam dengan kamera video dan dia juga mengaku tidak mengetahui ada kebijakan untuk memusnahkan rekaman itu (lihat“Waterboarding Recounted” harian the Washington Post, 11 Desember 2007 halaman A01).

Kamis minggu lalu, Hayden mengakui bahwa rekaman itu telah dihancurkan pada tahun 2005 untuk melindungi identitas para agen CIA yang terlibat dalam penyiksaan tersebut. Kantor berita Associated Press (Kamis 6 Desember 2007) mengungkapkan sebuah surat yang dikirim oleh Hayden kepada seluruh agen dan karyawan CIA. Di dalam memo itu, Hayden menjelaskan alasan pemusnahan rekaman video penyiksaan terhadap tersangka Al Qeada.

Menurut Hayden, CIA memutuskan untuk menghapus isi video tersebut karena tidak memiliki “alasan hukum atau internal” untuk terus menyimpannya sehingga berpotensi memunculkan risiko keamanan yang serius. “Jika rekaman itu bocor akan memungkinkan identifikasi sejawat CIA Anda yang bertugas di dalam program, dan menghadapkan mereka dan keluarga mereka pada pembalasan dari Al Qaeda dan para simpatisannya,” demikian antara lain, isi memo Hayden.

Beberapa lembaga di Amerika Serikat memprihatinkan cara-cara yang dilakukan oleh CIA dalam memperoleh informasi melalui penyiksaan dan menyesalkan telah dilakukan pemusnahan terhadap rekaman video penyiksaan kepada tersangka teroris. Mereka kini memulai usaha serius untuk menyelidiki tentang adanya penyiksaan tersebut dan usaha untuk memusnahkan hasil rekaman video penyiksaan.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan Inspektur Jenderal CIA telah memulai usaha penyelidikan tentang pemusnahan rekaman video penyiksaan tersebut menyusul pernyataan dari beberapa anggota komisi pengawas investigasi peristiwa 11 September 2001, yang berkali-kali mengatakan bahwa CIA tidak memiliki rekaman video penyiksaan. Sebelumnya beberapa hakim telah memerintahkan kepada CIA dan agen-agen intelejen pemerintah yang lain agar semua dokumen penangkapan dan interogasi terhdap tersangka teroris yang dituduh terlibat dalam serangan 11 September 2001, disimpan dan dijaga.

Sementara itu komisi intelejen (D-Tex) yang diketuai Silvestre Reyes juga melakukan penyelidikan yang sama. Penyelidikan mereka terutama berkaitan dengan pernyataan Hayden yang menyebutkan bahwa komisi intelejen telah diberitahu tentang adanya pemusnahan rekaman video penyiksaan itu. “Hal itu tidak benar,” kata Hoekstra.

Kekhawatiran publik Amerika Serikat terhadap cara-cara interogasi yang dilakukan oleh para agen CIA melalui penyiksaan disebabkan oleh hukum di negara itu yang tidak membenarkan adanya penyiksaan dalam memperoleh informasi. Biro penyelidik federal atau FBI bahkan sudah lama meninggalkan teknik “memaksa” karena informasi yang diperoleh dari cara-cara semacam itu tidak dapat dipercaya dan sebaliknya bisa menimbulkan kontra produktif.

Kenyataannya, informasi yang keluar dari mulut Abu Zubaida saat disiksa— kemudian telah dijadikan salah satu argumen oleh aparat pemerintahan Bush untuk menangkapi para tersangka teroris termasuk kemungkinan adalah orang-orang yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan terorisme. Mohmoad Abdah seorang jaksa dari Yaman, karena itu menuduh CIA telah melakukan kejahatan.

Kini Kiriakou mengakui perasaannya sedang bercampur aduk. Pengakuannya muncul hanya berselang sehari sebelum para pejabat CIA dimintai keterangan oleh parlemen Amerika Seikat perihal adanya penyiksaan terhadap tersangka teroris dan usaha penghancuran rekaman video penyiksaan terhadap Abu Zubaida dan tersangka lain bernama Abd al-Rahim al-Nashiri. Dia mengaku mendapat informasi adanya penyiksaan itu dari beberapa mantan agen CIA yang lain.

Mengapa Kiriakou memutuskan untuk memberikan pengakuan kepada publik? Dalam penjelasan kepada kantor berita ABC News, mantan agen CIA itu mengatakan, pengakuannya adalah untuk koreksi terhadap mispersepsi tentang peran dari para agen CIA pada bulan-bulan awal kampanye perang melawan teroris. “Sangat gampang untuk menyebut sebuah kegagalan intelejen, tapi publik harus tahu kesulitan yang dihadapi oleh para agen untuk membuat mereka aman,” kata Kiriakou.

Dia paham teman-teman sejawatnya melakukan itu untuk mencegah kemungkinan serangan teroris, tapi di sisi lain dia juga yakin apa yang dilakukan para agen rahasia CIA terhadap para tersangka teroris itu adalah sebuah penyiksaan. Mestinya kata dia, “Amerika bisa menjadi lebih baik.”

Iklan