Hasil penelitian Pusat Pengkajian dan Penelitian Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia memunculkan istilah perlokutif dalam kajian pembingkaian terhadap pemberitaan Tempo tentang dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri. Sayangnya mereka gagal menjelaskan apakah perlokusi boleh atau tidak boleh digunakan oleh wartawan.

Oleh Rusdi Mathari

PERLOKUTIF. Kata itu beberapa kali disebut oleh Wahyu Wibowo dalam seminar “Kasus Pajak Asian Agri” di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (18 Desember 2007). Dia menjadi pembicara yang memaparkan hasil penelitian dari Pusat Pengkajian dan Penelitian Institut Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia lembaga tempat dia bekerja— terhadap pemberitaan majalah Tempo dan Koran Tempo tentang Asian Agri Group. Wahyu dan P3 ISIP UI mencoba meyakinkan peserta seminar bahwa perlokutif telah menjadi ciri-ciri dari Tempo dan Koran Tempo dalam menulis berita. Dengan menggunakan perlokutif, Tempo dan Koran Tempo menurut mereka mengharapkan ada efek yang timbul pada khalayak pembaca.

Perlokutif (perlokusi) pada dasarnya bagian dari tindak tutur terutama secara lisan namun dapat pula dimaknai sebagai tindak tutur dalam tulisan. Menurut Arief Rijadi dari Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jember, perlokusi bisa diterjemahkan sebagai tindak tutur yang dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur. Arief terutama mengacu kepada batasan tentang perlokusi dari John Langshaw Austin, seorang yang dianggap paling bersemangat menyelidiki bahasa pergaulan sehari-hari. (lihat Kertas Kerja “Ungkapan Penerimaan dan Penolakan dalam Bahasa Indonesia” KIPBIPA 2001).

Karya Austin yang termashur adalah How to Do Thing with Wordses. Dalam buku itu Austin antara lain menulis, mengatakan sesuatu acapkali menimbulkan pengaruh yang pasti terhadap perasaan, pemikiran atau perilaku si pendengar atau si penutur itu sendiri, ataupun bagi orang lain. Hal itu dapat dilakukan dengan cara merancang, mengarahkan atau menetapkan tujuan tertentu pada perkataan yang akan kita ungkapkan. Efek atau pengaruh yang muncul dari mengatakan sesuatu itulah yang disebut sebagai tindakan perlokusi. (lihat albertmangasi.wordpress.com)

Perlokusi karena itu lebih dominan menggunakan kata kerja. Kata-kata yang digunakan dipilih secara sengaja (sadar) dengan tujuan mempengaruhi pendengar (pembaca) secara maksimal. Albert Mangasi memberi contoh. Apabila dikatakan “saya membutuhkannya agar ia mau meminjami saya uang”, maka terkandung upaya si penutur (saya) untuk memperoleh pinjaman uang dari seseorang melalui cara-cara tertentu. Artinya, sesuatu tindakan perlokusi merupakan hasil yang diinginkan atau telah diperhitungkan sebelumnya oleh si penutur. Dengan kata lain, tujuan si penutur untuk mempengaruhi pendengar (pembaca) itulah yang paling menonjol dalam tindakan perlokusi.

Dari batasan tentang perlokutif maka menjadi jelas, tak ada yang salah dari digunakannya tindak perlokutif oleh wartawan yang serius menekuni profesi jurnalistik. Sebab memang tidak ada kata yang tidak direncanakan dan tidak ada wartawan yang tidak bermaksud membuat karya jurnalistik yang tidak untuk mempengaruhi orang lain. Melalui kata-kata (tindak tutur) para wartawan paling tidak mengharapkan karyanya bisa menarik minat pembaca atau pemirsanya. Hanya wartawan bodoh yang membuat karya untuk kepentingan mempengaruhi diri sendiri.

Perlokutif digunakan oleh wartawan, terutama karena sebuah fakta seringkali tidak cukup mudah untuk ditulis, misalnya karena alasan istilah teknis. Beberapa media, karena itu mengajarkan kepada para wartawannya untuk mengemas fakta yang mengandung istilah teknis dalam bentuk bahasa tutur yang mudah dipahami oleh siapa saja (para pembaca atau pemirsa).

Maksud lain dari tindak perlokutif yang digunakan wartawan harus juga dipahami sebagai usaha untuk menghindari tindak perlokutif dari pembuat fakta (sumber berita) melalui pernyataan atau siaran pers. Banyak contoh dari berita yang dibuat wartawan yang hanya mengandalkan penulisan atau penyiaran berita dari siaran pers, tidak menimbulkan dampak (wawasan) apa-apa kepada pembaca atau pemirsa. Padahal, selain dituntut untuk jujur, wartawan juga dituntut mampu memberikan pengaruh kepada publik dari apa yang mereka publikasikan melalui tulisan atau siaran.

Bahwa tindak perlokutif kemudian mengandung risiko, tentu saja hal itu tidak bisa dihindarkan. Beberapa contoh dari risiko itu antara lain berupa misalnya penyangkalan dari sumber berita. Mereka, sumber berita (di Indonesia) paling sering menggunakan frasa “pelintiran wartawan” untuk menyangkal sesuatu yang telah ditulis atau disiarkan oleh wartawan yang akhirnya sesuatu itu menimbulkan pengaruh pada publik.

Dalam kasus hasil penelitian dari P3 ISIP UI yang mempersoalkan perlokutif dalam pemberitaan Tempo tentang Asian Agri, sayangnya tidak dijelaskan apa yang salah dari digunakannya tindak perlokutif oleh Tempo, andai hal itu benar telah digunakan oleh Tempo dalam pemberitaan menyangkut dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri. Peserta seminar yang membaca executif summary hasil penelitian mereka dibiarkan menebak-nebak. Meminjam istilah perlokutif yang digunakan oleh Wahyu, efek paling ekstrem dari tidak adanya kejelasan apakah tindak perlokutif boleh digunakan atau tidak boleh digunakan dalam menulis atau menyiarkan berita, hasil penelitian P3 ISIP UI bisa ditafsirkan sedang berusaha mempengaruhi publik agar percaya dengan hasil penelitian mereka.

Jika itu benar, sayangnya, mereka keliru dan harus banyak belajar bagaimana menggunakan tindak perlokutif, justru dari wartawan. Mereka juga harus belajar untuk memahami bahwa wartawan bukanlah segerombolan orang yang bisa percaya hanya dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar tanpa melibatkan naluri dan detak profesi. Kecuali sejauh ini, mereka hanya mengenal wartawan yang bisa dibayar untuk menulis atau tidak menulis berita, seperti halnya sikap mereka yang meminta upah dari Asian Agri untuk sebuah penelitian ilmiah.

Iklan