http://www.sxc.hu/photo/311255Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke Banda Aceh. Dalam gelap saya terisak:  merasa tak berarti dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu menyusun hidup baru setelah tsunami merenggut semuanya dari mereka, tiga tahun lalu.

oleh Rusdi Mathari
DARI Banda Aceh, saya mengawali perjalanan pada sebuah pagi di bulan Agustus tahun lalu. Tujuannya menyusuri garis pantai barat Aceh, sebuah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami 26 Desember 2004. Garis pantai itu menghubungkan dua kota besar: Banda Aceh dan Meulaboh.

Sani, sopir yang hendak mengantar saya, pagi-pagi sekali sudah menunggu di halaman parkir penginapan. Dia memberi saran: semakin pagi berangkat akan semakin leluasa menyaksikan sisa-sisa kehancuran pantai barat. “Kalau sudah agak malam tidak ada penerangan.”

Saya mengiyakan usulannya. Kami berangkat dari Banda Aceh setelah jarum kecil di arloji saya menunjuk pada angka tujuh.

Banda Aceh-Meulaboh berjarak sekitar 250 kilometer. Dalam keadaan normal ketika jalan antara dua kota itu belum hancur oleh terjangan ombak tsunami, jarak itu bisa ditempuh dalam waktu empat jam dengan kendaraan umum. Namun jalan di antara dua kota itu, telah berubah menjadi jalan darurat. Sungguh darurat.

Sebetulnya, jalan darurat itu sudah lumayan bagus dibandingkan dengan masa-masa awal setelah tsunami. Hingga masa tanggap darurat, jalan itu tak bisa dilalui kendaraan apa pun karena beberapa ruas jalan terputus total. Jembatan ambruk,  sebagian badan jalan sudah tidak berbekas akibat digerus air laut. Tentara dari Zeni Konstruksi 13 TNI-AD Srengseng Sawah, Jakarta dan Zeni Marinir Cilandak, Jakarta, kemudian membangun jalan darurat  dengan membuka hutan, membelah bukit tidak jauh dari jalan lama yang sudah hancur. Beberapa jembatan darurat juga dibangun oleh para tentara.

Tapi darurat tentu saja bersifat sementara. Setahun setelah dibangun, sebagian dari jalan itu sudah hancur.

Mobil pick up dua gardan yang saya kendarai melonjak-lonjak menapaki jalan darurat yang hanya berupa timbunan pasir dan kerikil. Berkali-kali mobil itu harus dikendalikan dengan terampil untuk menghindari kubangan lumpur, jembatan darurat, atau genangan air laut yang menggerus daratan. Di kiri-kanan jalan, beberapa genangan air laut itu terlihat membentuk telaga, seolah terjebak oleh daratan dan tak bisa kembali ke samudera. Di kejauhan, di atas bukit, tampak satu-dua tenda putih bertuliskan “U.N” terlihat kusam. Sebagian  terlihat sudah robek.

Dan karena jalan yang hancur itu, perjalanan saya hanya sampai di Calang. Saya sebenarnya ingin meneruskan perjalanan ke Meulaboh, tapi Sani mengingatkan, mobil yang kami tumpangi, sudah harus ada di Banda Aceh sebelum subuh. Mobil itu memang kendaraan pinjaman dari sebuah instansi.

Hari itu, saya tidak pernah sampai di Meulaboh. Tidak pernah minum kopi di sana.

Dan memasuki Calang menjelang ashar, saya seperti disergap kesenyapan yang perih. Kota itu termasuk yang paling hancur di Aceh. Jejak kota lamanya bahkan tak tampak karena digantikan oleh ombak samudera. Sekitar 80 persen penduduknya hilang atau tewas akibat tsunami.

Di Calang yang senyap itulah, saya bertemu dengan Dina Astina, seorang guru SMP yang terus membangun harapan untuk dirinya dan orang-orang lain di sana. Perempuan itu hanya tinggal bersama suaminya, Usman Ahmady, Kepala Dinas Pemukimam dan Prasarana Wilayah Calang. Tiga anak lekakinya yang berusia 10, 8 dan 5 tahun,  hilang ditelan ombak tsunami. Petaka yang sempat membuat Dina dan suaminya kehilangan harapan.

Hari ketika tsunami menerjang Aceh, suami-istri memang sedang tidak bersama anak-anak mereka karena sedang berada di Banda Aceh menghadiri pernikahan seorang kerabat mereka. Mereka berangkat dari Calang ke Banda Aceh selepas subuh, sementara anak-anaknya ditinggal di rumah bersama seorang pengasuh. Dina sempat mencium anak-anaknya yang masih terlelap, sebelum benar-benar berangkat pada subuh itu, dan itulah ciuman terakhirnya. “Rencana kami akan pulang-pergi dan sehabis dhuhur sudah kembali ke Calang,” kata Dina.

Jam tujuh pagi, sewaktu Dina dan suaminya mendengar ada gempa lalu disusul air laut yang naik, dia mencoba menghubungi rumahnya di Calang melalui telepon, tapi tak jawaban. Hingga orang-orang di Banda Aceh berlarian karena panik, Dina dan Usman tetap mencoba mengontak Calang walau hasilnya sama: tak ada jawaban. Kepanikan pasangan itu mencapai puncaknya setelah mendengar kabar bahwa Calang tidak berbekas lagi, tapi mereka terus berusaha.

Menggunakan kendaraan pribadi, keduanya mencoba menembus ke Calang tapi jalan Banda Aceh ke Calang sudah terputus. Hari itu, mereka  tertahan di Banda Aceh. Mereka kembali menginjak tanah Calang setelah dua hari tsunami berlalu. Itu pun dengan menggunakan kapal motor dari Banda Aceh.

Mula-mula dicarinya rumah mereka tapi sudah tak ada lagi bahkan jika itu harus berupa bekas bangunan atau pondasi. Sepanjang mata memandang, hanya genangan air laut yang terlihat. Rumah mereka lenyap.

Setiap orang di Calang yang mereka temui, lalu ditanya soal nasib anak mereka. Ada yang mengatakan tidak tahu atau tidak melihat, sebagian menjawab sempat melihat tapi tak tahu nasib mereka selanjutnya. Ada yang bercerita ketiga anak lelaki mereka selamat dan sedang mengungsi di bukit, tapi ketika tempat pengungsian di sekitar Calang disisir oleh mereka, tak satu pun yang menampung anak-anak mereka.

Mereka kembali ke “pantai” tempat rumah mereka semula berdiri. Menghabiskan sekian hari di sana, pada setiap sore dan pagi, Dina bertanya pada air laut di mana anak-anaknya. “Saya sempat kehilangan harapan, sebelum menyadari semua itu suratan takdir,” kata Dina.

Dina kini terlibat dalam sebuah penerbitan yang dibiayai UNDP sembari tetap mengajar Bahasa Inggris di SMP Calang. Tulisan dia kirim lewat internet untuk dicetak di Banda Aceh, edisi cetaknya beredar di Calang.

Di pesisir barat Aceh dari Banda Aceh hingga Calang, banyak orang yang bernasib seperti Dina dan Usman, dan sikap mereka pun sama: menerima semua yang terjadi sebagai takdir. Di Gampong Pande, Banda Aceh, saya bertemu dengan Ismail Sarong, seniman peniup serunai Aceh. Dia kini tinggal bersama Rusdianto, anak bungsunya. Keempat anaknya yang lain dan juga istrinya telah ditelan ombak pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang, salah seorang anaknya bahkan mengandung tujuh bulan. “Semuanya habis,” kata Ismail.

Ismail dan Dian bisa selamat, karena pada hari itu dia sedang pentas di pusat kota Banda Aceh. Istri dan anak-anaknya yang lain, dia tinggalkan di rumah yang hanya berjarak puluhan meter dari bibir pantai. Bapak dan anak itu sempat timbul tenggelam ditelan air bah yang masuk ke pusat Banda Aceh. Serunainya ikut mengambang. “Saya katakan kepada serunai, ‘Kamu kok mau ikut saya terus, bencana sudah begitu berat’”, kata Ismail.

Ketika mendapatkan kenyataan bahwa istri, anak-anak dan rumahnya telah tiada, Ismail mengutuk lautan. Dia melemparkan apa saja ke lautan sambil berteriak, “Kenapa bukan aku yang engkau telan. Ayo datanglah kembali, telanlah aku.” Namun kata Ismail, lama-lama dia merasa bodoh karena hanya sanggup mengutuk lautan dan mengganggap seolah tidak ada lagi harapan. “Saya melihat Dian, dan sadar hidup ini harus dilanjutkan,” kata Ismail.

Ismail kini tetap meniup serunai dan Dian menjadi penabuh gendangnya. Dia dan anaknya banyak diundang untuk pentas, termasuk oleh Sardono W. Kusomo, seniman tari dan rektor IKJ, yang sejak awal bencana memberi semangat dan bantuan kepada Ismail.

Saya juga menjumpai Husaini yang tinggal Lamteungoh, Aceh Besar. Sarjana pertanian ini sempat putus asa, karena kehilangan semua orang-orang yang dicintai dan mencintainya: ibu, tiga saudara laki-laki, istri dan anaknya yang baru berusia dua tahun. Anak perempuan itu lepas dari gendongan Husaini ketika ombak besar setinggi dua pohon kelapa menghantamnya.

Ketika bunyi dentuman ombak pertama terdengar dari rumahnya, yang hanya berjarak 300 meteran dari pantai, Husaini berusaha membawa anggota keluarganya lari menuju ke bukit. Namun jalan-jalan menuju ke bukit sudah sesak dengan orang yang juga berlarian dan panik. Ketika sampai di bawah pohon kelapa, Husaini melihat air sudah berada di atas pohon kelapa. Ujung ombaknya seperti lidah raksasa namun belum menyentuh tanah. Dia mendekap sang anak lebih erat, namun ombak terlalu kuat menghempas. Anak itu lepas, bersama harapan Husaini.

Selama hampir tiga bulan sejak tsunami, dia tak mau melakukan pekerjaan apapun termasuk membangun kembali rumahnya. Satu-satunya foto kenangan yang tersisa adalah foto dia, istri dan anaknya yang tersimpan di dompet. “Saya terus diburu perasaaan bersalah,” kata Husaini.

Keadaan berubah ketika Chris Valley dan Christoper Lee dari USAID masuk ke Lamteungoh dan datang menemuinya. Husaini terpilih sebagai salah satu peserta pelatihan wirakarya. Seminggu lamanya dia berkumpul dengan orang-orang senasib, berdiskusi dengan orang asing, dan mengorganisir masalah. Intinya mereka diingatkan untuk tak larut dalam duka dan segera bangkit membangun rumah-rumah mereka.

Tiga hari setelah pelatihan, Husaini mengajak beberapa tukang untuk mengumpulkan kayu bekas dan membangun dapur yang sudah tiga bulan hanya dipikirkannya. Dananya berasal dari USAID. Sampai Juli 2005, bukan hanya dapur yang selesai dibangun Husaini. Rumah dan sebuah warung kecil yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari seperti minyak tanah, gula, beras, sabun, dan rokok selesai dia dirikan. Di depan warungnya tertulis “Operacy”, nama pelatihan yang pernah diikutinya. Dia juga mendapat bantuan komputer sebagai sarana untuk menulis laporan kemajuan usaha dan kelompoknya. “Sekarang saya sudah memikirkan calon pendamping hidup saya.”

Di Meuraxa, Banda Aceh, Firman menjumpai saya dengan senyum. Dia baru kelas dua SMU dan sudah tidak memiliki siapapun: semua saudaranya, dan kedua orang tuanya hilang ditelan air, di depan matanya. Dia kini aktif berlatih musik bersama teman-temannya di Meuraxa, tapi Firman tak tahu siapa yang akan membiayai hidupnya. Tahun ini dia akan lulus dari SMU itu.

Sungguh, meskipun pemandangan laut di sisi pesisir barat Aceh mempesona tapi saya tidak menikmati perjalanan hari itu, sebuah perjalanan di Aceh yang saya rencanakan untuk sebuah penulisan buku. Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan kunang-kunang berkejar-kejaran.

Itulah sorot lampu aneka mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke Banda Aceh. Dalam gelap, di dalam mobil, saya terisak: merasa tak berarti dibandingkan orang-orang Aceh yang hebat itu. Dan ketika pagi ini menulis artikel ini, air mata saya kembali jatuh di atas keyboard. Saya mengenang mereka semua. Orang-orang Aceh yang luar biasa.

Iklan