http://www.stockxpert.com/browse.phtml?f=view&id=7659251Perusahaan Toyota yang kini menjadi pesaing General Motor di pasar otomotif global, sering dipuji karena efisien dan fleksibel menggunakan tenaga kerja. Namun Nyonya Uchino, punya pandangan yang berbeda. Menurut dia, sangat banyak pekerja di Toyota yang tidak mendapat uang lembur sehingga perusahaan itu meraup keuntungan.

Oleh Rusdi Mathari

HARA-KIRI adalah bunuh diri ala Jepang yang sudah dikenal luas oleh banyak orang di dunia. Tindakan itu biasanya dipilih jika orang Jepang merasa bersalah atau tak sanggup menanggung malu. Caranya dengan menusuk sebilah pedang ke lambung lalu merobeknya secara horisontal. Menjelang kekalahan dalam PD II, tentara Jepang terutama para perwiranya banyak yang memilih melakukan hara-kiri daripada harus menanggung kekalahan atau menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

Namun pelaku hara-kiri dewasa ini sudah jarang dijumpai di Jepang. Sebagai gantinya muncul Karoshi alias “bunuh diri” dalam bentuk lain atau kematian yang diakibatkan oleh kerja yang berlebihan. Berbeda dengan hara-kiri, ahli waris dari “pelaku” Karoshi bisa mendapat santunan dari pemerintah dan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka, para ahli waris itu, bahkan bisa menerima ganti rugi US$ 20 ribu per tahun dari pemerintah dan kadang-kadang ada perusahaan yang sanggup membayar hingga US$ 1 juta.

Mungkin karena adanya santunan ganti rugi itu, sejak awal 1980-an kasus kematian akibat Karoshi yang diklaim kepada pemerintah terus meningkat sehingga sebagian terpaksa ditolak oleh pengadilan. Pada 1988 klaim yang dibayar oleh pemerintah kepada ahli waris Karoshi mencapai 4 persen. Angka itu kemudian meningkat menjadi 40 persen pada 2005 (lihat “Jobs for life”, The Economist, 19 Desember 2007).

Kini banyak perusahaan Jepang yang kewalahan oleh Karoshi. Akhir November lalu, permohonan klaim Karoshi dari Kenichi, istri mendiang Uchino yang bekerja di Toyota dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Nagoya. Uchino ditemukan telah meninggal pada pukul 4 pagi pada suatu hari di tahun 2002 dalam usia 30 tahun. Dia meninggalkan dua orang anak berusia tiga tahun dan satu tahun. Sejak enam bulan sebelum tewas, Uchino telah menghabiskan lebih dari 80 jam untuk kerja lembur setiap bulan. “Satu hal yang membuatku bahagia adalah ketika aku dapat tidur,” kata Uchino kepada istrinya, seminggu sebelum tewas.

Sebagai manajer pengendali mutu, tanggung jawab Uchino memang tidak kecil. Dia antara lain bertanggungjawab untuk memberikan pelatihan kepada pekerja, menghadiri pertemuan-pertemuan dan menulis laporan bagian produksi. Namun perusahaan Toyota memperlakukan semua waktu secara fakultatif dan tidak ada uang lembur bagi karyawan yang bekerja melampaui jam kantor. Kerja lembur yang dilakukan Uchino karena itu dianggap sebagian bagian dari pekerjaan yang harus dilakukannya. Hasilnya pada 14 Desember 2007, pemerintah memutuskan untuk tidak melakukan banding terhadap keputusan Pengadilan Negeri Nagoya.

Kasus “free overtime” di Jepang memang sebuah ironi. Para pekerja dituntut untuk bekerja keras agar mendapatkan penilaian prestasi kerja termasuk dengan bekerja di luar jam kantor tapi mereka sama sekali tidak mendapatkan upah lembur. Hal semacam itu, tentu saja akan menimbulkan pertanyaan kepada perusahaan-perusahaan di Jepang: berapa lama mereka akan bertahan dengan cara mereka?

Seorang pejabat pemerintah menyebutkan, orang Jepang menghabiskan waktu sekitar 1.780 jam dalam setahun untuk bekerja. Angka itu lebih kecil bila dibandingkan dengan rata-rata jam kerja dari orang Amerika yang mencapai 1.800 jam setahun namun di atas dari jumlah rata-rata jam kerja orang Jerman (1.400). Tapi angka statistik tersebut bisa salah terutama karena tidak melibatkan jam lembur yang tidak dibayar, yang banyak dilakukan oleh oleh pekerja Jepang.

Diperkirakan, satu dari tiga pekerja laki-laki yang berusia 30-40 tahun telah menghabiskan waktu hingga 60 jam dalam seminggu. Separuh dari jumlah pekerja itu, tidak mendapatkan uang lembur alias tidak dibayar. Nasib pekerja pabrik lebih parah. Mereka datang ke tempat kerja lebih awal dan pulang paling akhir. Juga tanpa upah tambahan atau ganti rugi, termasuk ketika mereka harus mengikuti pelatihan pada akhir pekan.

Banyak perusahaan di Jepang selama 20 tahun terakhir telah menerapkan sebuah sistem kerja baru dengan menempatkan pekerja paruh waktu untuk menggantikan pekerja tetap. Atau para staf regular itu tetap dipertahankan dengan kewajiban bekerja lembur sembari secara perlahan posisi mereka dibuat temporer. Faktor budaya menguatkan kecenderungan ini: kerja keras merupakan perilaku yang terhormat di Jepang dan pengorbanan untuk orang banyak dianggap lebih berharga daripada pengorbanan untuk pribadi.

Toyota yang kini menjadi pesaing General Motor di pasar otomotif global, sering dipuji karena efisien dan fleksibel menggunakan tenaga kerja. Namun Nyonya Uchino, punya pandangan yang berbeda. Menurut dia, sudah sangat banyak pekerja di Toyota yang tidak mendapat uang lembur sehingga perusahaan itu meraup keuntungan.

“Aku berharap sebagian dari keuntungan itu dapat digunakan untuk membantu karyawan dan keluarga mereka. Hal itulah yang akan menempatkan Toyota sebagai produsen otomotif terkemuka di dunia,” kata Kenichi. Toyota berjanji untuk mencegah karoshi di masa mendatang.

Iklan