http://www.sxc.hu/photo/570321Banjir dan longsor yang terjadi hampir secara serentak di beberapa wilayah Indonesia, sebenarnya sudah diprediksi oleh para ahli lingkungan sejak empat hingga lima tahun lalu. Jika tak ada penanganan serius terhadap keseimbangan ekosistem, hanya dalam waktu lima belas tahun ke depan akan disaksikan manusia yang tak lagi memiliki kekebalan tubuh, bayi-bayi banyak yang mati atau yang hidup dari mereka akan mengalami mutasi genetik.

Oleh Rusdi Mathari

PUNTA Arenas suatu hari. Di kota yang terletak paling selatan di planet bumi itu, para penduduknya terlihat menggunakan kaca mata hitam, memakai topi sombrero, kemeja lengan panjang serta celana panjang dan losion pelindung kulit pada bagian tubuh yang tidak terlindung. Sementara halaman rumah mereka, sudah lama tak ditumbuhi pohon atau tanaman. Pemandangan semacam itu, sudah sembilan tahun terakhir terlihat di Punta Arenas antara bulan September-Desember setiap tahun.

Kota yang paling dekat dengan Kutub Selatan (Benua Antartika) itu, mestinya adalah kota yang bersih, sejuk dan tidak panas seperti kota-kota yang berada di garis katulistiwa dan sekitarnya. Penduduknya hanya sekitar seratus ribuan sementara kendaraan bermotor bisa dihitung dengan tangan. Masuk dalam bagian negara Amerika Latin; perbatasan bagian selatan kota itu membentang sampai ke Benua Antartika. Jika ada wilayah yang lebih jauh lagi ke arah selatan, itu pastilah wilayah para penguin. Karena itu, pemandangan penduduk yang memakai losion anti sinar matahari dan mengenakan kacamata hitam, membuat Punta Arenas menjadi aneh.

Namun hilangkan rasa aneh itu. Punta Arenas menjadi perhatian dunia karena lubang ozon terlihat di sana. Lubang itu – oleh penduduk setempat disebut sebagai El Agujero— ukurannya bahkan sudah mencapai 29 jutakilometer persegi. Punta Arenas lalu menjadi satu-satunya daerah yang terpapar bulat-bulat sinar ultraviolet B, penerobos lubang ozon. (lihat “Hidup Di Bawah Lubang Ozon” Intisari Januari 2001)

Diukur dengan spectroradiometer kepekatan lapisan ozon di sana sudah kurang dari 200 unit Dobson di skala pengukur ozon, atau telah menipis 200 Dobson dibanding ketipisan ozon batas normal 400 Dobson. Lubang itu, setiap saat bisa bolong sama sekali, seperti yang terjadi di Kutub Selatan. Berbeda dengan lubang ozon yang pernah dilihat di tempat lain, lubang ozon di Punta Arenas muncul setiap tahun tahun selama beberapa hari antara 1 September dan 31 Desember.

Pada periode itu setiap hari Badan Meteorologi dan Geofisika setempat menyiarkan ramalan cuaca; laporan perkembangan besarnya lubang ozon di langit mereka. Pada saat itu, keadaan biasanya lalu dinyatakan “siaga merah” dan tidak salah jika kemudian para penduduknya dianjurkan oleh pihak berwajib, agar memakai topi sombrero yang lebar tepiannya, kaca mata hitam, kemeja lengan panjang, celana yang panjang juga, dan losion pelindung kulit pada bagian badan yang tidak terlindung, kalau berada di luar rumah. Kalau tidak, risiko menderita kanker kulit sangat besar.

Untuk berjaga-jaga, agar orang tak terlambat mengetahui ambang batas ketipisan ozon, mereka memasang solar stoplight di beberapa tempat. Di perempatan jalan, pasar swalayan, dan tempat umum lainnya, tak luput dari pemasangan alat pemantau ambang batas ketipisan ozon tersebut. Bentuknya seperti jam dengan jarum yang dapat menunjuk ke warna hijau jika normal, dan berwarna merah kalau sudah gawat.

Punta Arenas bukan satu-satunya wilayah yang langitnya berlubang karena ozon. Di Teluk Mexico, lubang ozon yang disebut sebagai Zona Maut, juga pernah terlihat meski ukurannya jauh lebih kecil dibanding lubang di Punta Arenas. Lalu pada September 2002, lubang maut itu juga pernah terlihat di atas bumi sejumlah negara Asia Selatan dan Tenggara. Lubang yang dijuluki sebagai Awan Perang Asia itu berwujud awan setebal 3 kilometer dengan warna kuning keperakan dan melayang-layang di atas Burma, Bangladesh, India, Thailand dan Malaysia.

Pada 1985, para ahli dan peneliti yang diprakarsai oleh Inggris mengumumkan bahwa lapisan ozon di atas Hally Bay Antartika, telah menunjukkan adanya penipisan yang drastis. Antara 1950 sampai dengan 1970 terukur rata-rata lapisan ozon 300 Dobson. Akan tetapi pada kurun waktu antara Oktober 1978 sampai Oktober 1984 lapisan ozon terukur hingga titik terendah sampai 125t Dobson. Penipisan lapisan ozon yang drastis di Antartika disebut “lubang ozon”. Dalam citra satelit, kadar ozon yang rendah tersebut menyerupai sebuah lubang.

Seperti halnya udara dan air, lapisan ozon sangat berarti bagi manusia. Secara sederhana, ozon adalah lapisan tipis gas O3 yang secara secara alami menyelimuti permukaan bumi. Sinar matahari dibiarkan masuk namun panasnya dijebak agar tidak langsung mengenai bumi. Dari bentuknya, sinar matahari merasuki permukaan bumi pada berbagai panjang gelombang. Sinar tampak berada pada panjang gelombang 400-700 nanometer, sinar infra merah pada panjang gelombang di atas 700 nanometer, sedangkan sinar ultraviolet pada panjang gelombang di bawah 400 nanometer.

Ada tiga macam sinar ultraviolet, yaitu UVA, UVB, dan UVC. UVA berada pada panjang gelombang yang sangat dekat dengan sinar tampak (sekitar 320-400 nanometer) dan dapat menembus lapisan-lapisan selimut bumi ini dengan mudah. UVB (270-320 nanometer) tidak bisa semudah itu melewati tameng ozon yang perkasa ini. Sebagian sinar UVB (tidak semua) dihalangi oleh ozon sehingga tidak bisa masuk untuk merusak makhluk hidup termasuk manusia. UVC (150-300 nanometer) dapat diserap hampir seluruhnya (97-99 persen) sehingga tidak menjadi masalah bagi kehidupan bumi. Jadi ozon melindungi bumi dari UVC dan sebagian UVB. Coba saja bayangkan, bagaimana jadinya tanpa ozon.

Masalahnya, kegiatan yang dilakukan manusia banyak yang tak bersahabat bahkan cenderung merusak. Misalnya pengunaan zat-zat kimia berbahaya seperti chlorofluorocarbon (CFC) atau lebih dikenal dengan Freon yang mengandung khlorin, yang banyak dipakai lemari es, AC, pembuatan busa, dan pendingin kimia. Selain CFC bahan perusak ozon (BPO) lainnya adalah halon, yang digunakan untuk pemadam kebakaran dan metil bromida yang mengandung bromin yang biasa digunakan untuk menyemprot hama, pengawet kayu dan hasil pertanian seperti beras, jagung, kedelai, kopi dan sebagainya. Ada lagi hasil pembakaran industri, kendaraan bermotor, pembakaran hutan yang makin lama makin banyak menghiasi angkasa.

Selain itu jumlah pencemaran gas rumah kaca dari tahun ke tahun terus meningkat. Salah satu jenis gas rumah kaca, yakni CO2 emisinya bahkan terus bertambah dari tahun 1990 sebesar 1,34 miliar ton, dan pada tahun 1997 sebesar 1,47 miliar ton. Sumber utama CO2 dari 30 negara maju saja, yang berpenduduk 20 persen dari penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi salah satu gas rumah kaca tersebut.

Molekul-molekul kimia dari klorin dan bromin itulah yang menyebabkan lapisan ozon berubah menjadi oksigen aktif. Reaksi itu akan mengurangi jumlah ozon yang ada di lapisan stratosfir sehingga lapisan ozon semakin menipis. Mirip dengan kaus kaki yang dipakai terus-menerus sehingga semakin menipis dan menjadi berlubang

Jika lapisan itu makin tipis atau bolong, taruhan yang harus dibayar manusia sungguh akan menjadi sangat mahal: Pemanasan global akan mempercepat mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan, sementara jatuhnya sinar ultraviolet (UVB) ke muka bumi akan mengakibatkan kerusakan jaringan pada tubuh mahluk hidup terutama manusia. Menurut para ahli lingkungan jika pemakaian zat-zat kimia yang berpotensi merusak ozon terus digunakan tanpa ada pembatasan, maka pada 2020, manusia akan menyaksikan bumi yang rusak, karena ketidakseimbangan ekosistem.

Saat itu, musim hujan dan musim kemarau tak bisa lagi ditebak waktunya. Sebagian wilayah mengalami kekeringan yang parah, pada saat yang sama wilayah lainnya malah kebanjiran. Permukaan air laut lebih tinggi dari biasanya. Sebagian besar penduduknya mulai banyak yang menderita katarak, TBC, malaria, kanker kulit, sesak pernapasan dan sebagainya. Sebagian yang lain malah sudah tak memiliki kekebalan tubuh sama sekali. Bayi banyak mati, karena ketiadaan air bersih, sementara yang hidup mengalami mutasi genetik. Pada saat itu, vaksinasi serta imunisasi menyebabkan tidak berguna lagi.

Sampai saat ini saja, menurut Program Lingkungan PBB (UNEP) kerugian dunia akibat semua pencemaran yang merusak lapusan ozon itu, sudah mencapai US$ 300 miliar setiap tahun. Dan ongkos untuk mengatasi dampak pemanasan global pada 50 tahun mendatang memerlukan dana sekitar US$ 300 miliar. Itulah salah satu dampak buruk yang lain dari industrialisasi bagi umat manusia, selain proses pemiskinan.

Ramalan tersebut, memang boleh saja diabaikan. Namun faktanya, sepanjang abad ke-20 saja, terjadi 10 kasus tahun terpanas hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas yang berdampak terjadinya kebakaran hutan di Indonesia, Brasil, Australia atau negara lainnya dan kemarau panjang yang memusnahkan panen seperti di Afrika, serta bencana iklim lainnya akibat fenomena El-Nino.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change, sampai seratus tahun mendatang kenaikan temperatur bumi akan meningkat 2,5 sampai 10,4 derajat Celcius. Dan pada 2008 diprediksi akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter. Pada waktunya jika itu terjadi, lapisan es di kutub akan mencair dank arena itu akan mengubah sabuk iklim dunia. Zona iklim lalu akan bergerak ke utara.

Negara-negara dingin yang berada di garis lintang Eropa seperti Perancis, Jerman, dan Inggris akan menjadi subtropis. Spanyol yang cerah dan Italia akan terbakar menjadi padang gurun. Afrika Utara yang panas kering akan menjadi sabana yang sangat luas.

Pemanasan global juga akan mengubah pola curah hujan. Wilayah dengan curah hujan teratur sepanjang tahun akan menghadapi musim dengan hujan lebat yang mengakibatkan banjir. Di luar semua itu, dunia mulai tampak berbeda. Piramida Mesir, misalnya tak akan berdiri lagi di gurun tapi di padang rumput hijau. Tanaman iklim hangat dan spesies hewan bermigrasi ke utara yang mungkin akan membawa “tamu” tak diundang, seperti lalat tsetse dan nyamuk malaria ke Eropa dan Amerika Serikat.

“Ramalan” para ahli lingkungan itu kini telah terjadi di mana-mana di hampir seluruh bumi: iklim sudah tak teratur. Di Indonesia, ramalan itu ditandai dengan bencana banjir, longsor dan kebakaran hutan yang terjadi hampir setiap tahun di hampir sebagian wilayah. Dan menjelang tahun 2008, bencana itu kembali terjadi lewat banjir di Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bandung, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, dan Madura. Permukaan air laut yang naik hingga lebih dari 1 meter juga terjadi di hampir seluruh lautan nusantara.

Barangkali inilah saatnya bagi kita untuk menyelamatkan bumi dengan menolak semua penggunaan zat kimia berbahaya dan tak sekedar berwacana tentang menyelamatkan bumi apalagi dengan menghabiskan dana hingga Rp 114 miliar seperti acara di Bali, awal Desember lalu. Kecuali dalam tiga belas atau lima belas tahun mendatang, kita bersedia menyaksikan anak cucu tertimpa bencana yang lebih dahsyat.

border=”0″ style=”float: right; margin: 0px 10px 10px 0px”

Iklan