www.southwestern.eduDitembaknya Benazir Bhutto melengkapi daftar kematian tragis yang dialami oleh Keluarga Bhuto. Ali Bhutto (ayah Benazir Bhutto) tewas di tiang gantungan pada 1979, satu adiknya tewas ditembak pada 1996, satu lagi mati secara misterius pada 1985. “Kau harus mengorbankan segalanya demi tanah air.”

Oleh Rusdi Mathari

KELUARGA Bhutto adalah kisah kematian yang tragis. Sejak Ali Bhutto tewas di tiang gantungan pada 3 April 1979 kematian demi kematian yang memilukan dan mengejutkan lalu melanda keturunan Bhutto. Sebelum Benazir Bhutto, putri sulung Ali Bhutto tewas ditembak pada Kamis sore (27 Desember 2007) dua adik lelakinya Shahnawaz dan Murtaza juga mati secara tragis. Shahnawaz ditemukan tewas diracun di apartemennya di Riviera, Perancis, pada 1985 dan Murtaza tewas ditembak pada tahun 1996.

Di Pakistan keluarga Bhuto adalah legenda. Selain karena kaya dan menjadi tuan tanah, keluarga itu dikenal karena berasal dari keluarga yang terdidik secara mapan. Sir Shah Nawaz Bhutto ayah dari Ali Bhutto atau kakek dari Benazir adalah tokoh penting dalam gerakan kemerdekaan Pakistan. Negara itu merdeka pada 14 Agustus 1947 dengan tokoh utama Muhammad Ali Jinnah. Pakistan lahir terutama untuk mengikuti arus besar aspirasi umat Islam di India yang menginginkan negara dan pemerintahan sesuai dengan prinsip dan ajaran Islam. Kata-kata yang terkenal dari Ali Jinnah yang menjadi pemimpin pertama Pakistan adalah ”Kita tidak memperjuangkan berdirinya Pakistan semata-mata untuk mendapatkan sebidang tanah, tetapi kita menginginkan suatu wilayah dimana kita bisa menerapkan prinsip dan ajaran Islam.”

Selain Ali Bhutto, Shah Nawaz Bhutto memiliki dua anak lelaki yang lain yaitu Sikandar dan Imdad Ali. Kedua orang ini adalah kakak-kakak Ali Bhutto yang juga mati secara mengenaskan. Sikandar meninggal pada waktu kecil akibat menderita gangguan pernafasan (pneumonia) dan Imdad Ali meninggal dalam usia 39 tahun pada 1953 akibat penyakit lever. Yang tinggal hanyalah Ali.

Lahir dengan nama Zulfiqar Ali Bhutto pada 5 Januari 1928, Ali Bhutto menamatkan pendidikan di University of Southern California dan Oxford University untuk bidang ilmu politik. Kombinasi antara faktor keturunan dan pendidikan itulah yang telah menempatkan Ali menjadi tokoh berpengaruh di Pakistan sejak muda. Dia sudah menjadi menteri dalam usia 30 tahun ketika PM Muhammad Ayub Khan menunjuknya sebagai Menteri Energi pada 1958. Lima tahun kemudian, Ali diangkat menjadi Menteri Luar Negeri menggantikan Muhammad Ali Bogra.

Prestasi awal Ali sebagai politisi adalah ketika dia ikut menyusun rancangan Sino-Pakistan yang disepakati pada 2 Maret 1963. Ali juga sempat membantu Ayub dalam memuluskan hubungan dengan Turki dan Iran, sebelum akhirnya “meninggalkan” PM Pakistan itu pada 1966. Setahun kemudian pada 30 November 1967 Ali mendirikan Partai Rakyat Pakistan.

Partai baru ini sangat cepat mendapat perhatian dan simpati publik Pakistan karena kredonya yang mengusung Islam, demokrasi dan sosialisme. “Islam adalah agama kami, demokrasi adalah pijakan kami, dan sosialisme adalah ekonomi kami” adalah kata-kata yang menyihir rakyat Pakistan.

Pada 1969 Ayub yang tentara tak kuasa menghadapai gelombang pemogokan dan protes mahasiswa. Dia kemudian turun dari kekuasaan digantikan oleh Agha Muhammad Yahya Khan. Tugas Yahya menyiapkan pemilu pada 1970. Pemilu itulah yang mengantarkan Ali menjadi orang nomor satu di Pakistan, setelah partainya memenangkan perolehan suara dominan dalam pemilu yang disebut-sebut paling demokratis dalam sejarah Pakistan.

Tak lalu kemenangan Ali tanpa masalah. Dia menghadapi persoalan baru karena hanya memenangkan suara di Pakistan Barat sementara perolehan suara di Pakistan Timur didominasi oleh Sheikh Mujib-ur-Rahman. Ali sempat meneken perjanjian dengan Mujib tapi wilayah Pakistan Timur tak bisa lebih lama dipertahankan oleh Ali. Wilayah itu memerdekan diri dengan membentuk negara Bangladesh pada 20 Desember 1971. Selain karena pengkhianatan politisi Pakistan, kemerdekaan Bangladesh juga disebabkan campur tangan India yang “sakit hati” dengan pemisahan Pakistan dari India pada 1947.

Pada 1972 Ali melakukan nasionalisasi terhadap 10 perusahaan milik Inggris dan beberapa negara Barat lain yang berada di Pakistan. Ali menganggap Inggris dan negara-negara Barat ikut berada di belakang pendirian Bangladesh. Pada tahun itu juga, Ali melakukan reformasi agraria dan meneken Perjanjian Simla dengan India. Perjanjian itu antara lain berisi kesepakatan untuk mengembalikan sebagian wilayah Pakistan dan puluhan ribu tentara Pakistan yang ditawan dalam perang 1971. Parlemen lalu melantik Ali menjadi PM Pakistan pada 1973 dan sejak itu Ali banyak melakukan perubahan politik dan ekonomi di Pakistan.

Pada 1 Januari 1974 dia kembali melakukan nasionalisasi. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah seluruh bank asing yang ada di Pakistan. Nama Ali semakin popular karena pada 22 Februari 1974 dia menyelenggarakan KTT Islam kedua di Lahore yang dihadiri 38 negara Islam di dunia. Namun musuh-musuh politik Ali terus menyiapkan rencana penggulingan.

Pada awal musim panas 5 Juli 1977 militer garis keras yang dipimpin Jenderal Zia Ul Haq kemudian benar-benar mengkudeta Ali. Jenderal Zia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan pada waktu itu dan memiliki kedekatan dengan kelompok Islam garis keras. Usaha kudeta Zia karena didukung oleh Amerika Serikat melalui operasi intelejen yang dilakukan oleh CIA. Wahsington memang tak menyukai Ali yang anti kapitalis dan anti Barat. Ketidaksukaan Amerika terhadap Ali terutama karena Ali bersikeras mempertahankan program nuklir Pakistan yang dirintis oleh Ali sejak akhir 1950-an ketika dia menjabat sebagai Menteri Energi Pakistan. Ali juga dikenal sebagai motor utama pembangunan Pusat Energi Atom Pakistan di tahun 1950-an.

Tentang campur tangan dari Amerika dalam penggulingan pemerintahannya oleh Zia, Ali menuangkannya dalam buku If I am Assassinated (Vikas, New Delhi, 1979). Di dalam buku itu, Ali antara lain menulis tentang ancaman yang pernah dilontarkan Henry Kissinger. Pada 1976 menteri Luar Negeri Amerika itu, menurut Ali pernah mengancam akan memberikan “pelajaran” kepada Ali jika tidak mengikuti kemauan Washington. “We will make an example of you” adalah pernyataan Kissinger yang dikutip dalam buku itu.

Namun Jenderal Zia beralasan Ali digulingkan karena otoriter dan korup. Dua tahun dipenjara Ali lalu harus menghadapi tiang gantungan pada 3 April 1979. Eksekusi itu mendapat perhatian luas dari masyarakat dunia karena dianggap sebagai eksekusi terkejam terhadap seorang mantan pejabat. Jenderal Zia berkuasa sejak itu. Namun Zia tak menghiraukan protes dunia.

Ketika ayahnya digantung di depan publik Benazir sedang berada di penjara. Benazir ikut ditahan oleh militer Pakistan pimpinan Zia, karena dianggap sebagian dari rezim lama. Adiknya Murtaza mengungsi ke Afghanistan dan mendirikan kelompok bersenjata bernama Al Zulfikar untuk melawan pemerintahan militer di Pakistan. Adapun Benazir setelah dibebaskan dari penjara memilih pergi ke Inggris dan mendirikan Partai Rakyat Pakistan di London.

Benazir kembali ke Pakistan pada 1986 saat Jenderal Zia dengan dukungan Amerika berkuasa penuh atas Pakistan melalui kekuatan bersenjata. Setahun sebelum kepulangannya ke Paskitan, Shahnawaz adiknya ditemukan tewas pada 18 Juli 1985. Pejabat Perancis menyebut kematian Shah Nawaz misterius tapi keluarga Bhutto percaya lelaki itu mati akibat diracun.

Sebelas tahun bertahun kuasa, Jenderal Zia tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat pada 1988. Dalam pemilu yang diadakan pada 16 November 1988 Benazir tampil sebagai pemimpin Pakistan setelah partainya memperoleh suara terbanyak. Usianya waktu itu baru 35 tahun—Benazir lahir di Karachi Pakistan, 21 Juni 1953. Perempuan yang lulus dari Harvard University dalam bidang ilmu politik dan meraih pasca sarjana bidang filsafat, politik, dan ekonomi dari Oxford University itu menjadi PM Pakistan dalam dua periode.

Periode pertama 1988-1993, Benazir memimpin Pakistan dengan mulus dan nyaris tanpa pergolakan. Di masa kepemimpin Benazir, Murtaza sang adik kembali ke Pakistan pada 1993 dan menjadi salah satu anggota parlemen provinsi. Benazir kembali memenangkan pemilu Pakistan pada 1993. Namun kemenangannya kali ini hanya dia nikmati selama tiga tahun, karena pada 5 November 1996 dia dipecat sebagai PM Pakistan oleh parlemen dan posisinya digantikan Malik Meraj Khalid hingga 17 Februari 1997. Posisi PM Pakistan selanjutnya dipegang oleh Mian Muhammad Nawaz Sharif yang memenangkan pemilu pada 1997. Lima belas hari setelah pemecatan atas diri Benazir, pada 20 September 1996 Murtaza, adik Benazir tewas ditembak dan kasusnya belum terungkap hingga kini.

Pemecatan atas diri Benazir disebabkan oleh tuduhan korupsi dan pencucian uang di bank-bank Swiss. Suaminya, Asif Ali Zardari, mendekam selama delapan tahun di penjara meskipun dia tidak pernah terbukti bersalah. Zardari ditempatkan di sebuah tahanan tersendiri dan mengaku mengalami siksaan. Nawaz Sharif yang akhirnya digulingkan oleh militer pimpinan Pervez Musharraf pada 1999 dan mengalami nasib serupa dengan Benazir: hidup dalam pengasingan— belakangan meminta maaf atas keterlibatannya dalam penahanan yang berkepanjangan atas Zardari dan kasus-kasus yang diajukan melawan Benazir. Zardari dibebaskan pada bulan November 2004. Benazir meninggalkan Pakistan sejak 1999 dan tinggal berpindah-pindah di negara pengasingan: Dubai dan Uni Emirat Arab.

Pada 18 Oktober 2007, Benazir kembali ke Pakistan. Seperti halnya Sharif, Benazir akan menantang Jenderal Pervez Musharraf dalam pemilu yang akan berlangsung pada Januari 2008. Kedatangannya di tanah air pada hari itu disambut dengan ratusan ribu para pendukung Partai Rakyat Pakistan. Ketika konvoi mobil Benazir sedang dalam perjalanan dari bandara menuju Karachi dua ledakan menghentikan rombongan kendaraannya. Ledakan pertama berasal dari granat yang dilemparkan dan ledakan kedua berasal dari bom bunuh diri. Korban tewas akibat ledakan itu mencapai 140 orang tapi Benazir selamat. “Saya tahu pasti siapa yang ingin membunuh saya. Itu para tokoh terhormat bekas rezim Jenderal Zia yang hari ini berada di balik kelompok ekstremis dan fanatis,” kata Benazir.

Kamis kemarin (27 Desember 2007) Benazir benar-benar terbunuh setelah seseorang menembak dengan jitu tepat di leher dan dadanya, sesaat setelah Benazir hendak meninggalkan arena kampanye di Rawalpindi sebelah selatan Islamabad. Penembak kemudian meledakkan diri dan paling sedikit 15 orang ikut tewas.

Beberapa hari menjelang digantung Ali berpesan kepada Benazir, “Kau harus mengorbankan segalanya demi tanah air.” Kini Benazir benar-benar telah mengorbankan segalanya dengan kematian tragis menyusul kematian-kematian tragis yang dialami oleh ayah, dan dua adik lelakinya.

Iklan