http://www.sxc.hu/photo/916103Tidak semua bangsa merayakan tahun baru pada tanggal 1 Januari meskipun kemudian terjadi “penyesuaian”. Cina, Yahudi, Islam, Thailand, dan suku-suku tertentu memiliki tradisi sendiri merayakan tahun baru sesuai kalender mereka. Sejak kapan 1 Januari digunakan sebagai tahun baru?

Oleh Rusdi Mathari

SATU Januari yang dipakai banyak manusia sebagai pergantian tahun bersandar pada hitungan yang merujuk pada Kalender Gregorius yang diciptakan oleh orang Romawi. Kalender itu pada mulanya hanya terdiri atas 10 bulan yang diawali dari bulan Maret. Seorang penguasa Romawi kemudian memutuskanmenambah dua bulan untuk mengakhiri bulan terakhir dalam tahun kalender. Dua bulan itu adalah Januari dan Februari yang lalu dijadikan dua bulan pertama dalam tahun kalender Romawi.

Nama Januari diambil dari nama dewa Janus yang memiliki dua muka; menghadap ke depan yang dimaknai sebagai masa depan dan yang menghadap ke belakang dimaknai sebagai masa lalu. Bulan ini diberi nama Januarius dalam bahasa Inggris disebut January. Sementara Februari bernama latin februum yang berarti “membersihkan”. Bulan ini disebut Februarius yang dalam bahasa Inggris disebut February.

Bagaimana dan sejak kapan perhitungan waktu tadi digunakan oleh manusia? Ada beberapa temuan seputar penggunaan kalender (almanak, atau penanggalan) terutama soal dasar perhitungannya. Karena tidak semua manusia merujuk pada kalender yang sama, dasar perhitungan itu pun berbeda antara kalender yang dipakai kelompok manusia yang satu dengan kalender yang dipakai kelompok lainnya. Hampir setiap kelompok manusia, ras, agama, bangsa bahkan suku manusia, diketahui memang menggunakan kalendernya masing-masing.

Kalau sekarang Kalender Masehi yang paling banyak digunakan manusia di jagat bumi sebagai rujukan waktu, tidak berarti kalender tersebut lantas juga dipakai kelompok agama, ras, bangsa dan suku manusia seluruhnya. Kalender Masehi dipakai, lebih karena penyebarannya yang luas. Sementara kalender-kalender tertentu, hanya digunakan untuk kalangan terbatas.

Orang Jawa kuno masih suka memakai Kalender Jawa. Begitu juga orang Dayak dan Batak memakai kalendernya sendiri. Sebelum akhirnya menyamakan diri, orang Thailand pun banyak merujuk pada kalendernya. Hal yang sama terjadi pada orang Cina. Singkat kata, setiap suku bangsa memang punya cara menghitung hari, meski tentu tidak seperti “Menghitung Hari”-nya penyanyi Kridayanti.

Seperti halnya Kalender Masehi, kalender-kalender lokal itu, sudah ada sejak berabad-abad lampau bahkan lebih tua dari Kalender Masehi. Beberapa suku kuno, seperti Mesir Kuno, Sumeria, Babilonia, Persia dan Indian Kuno, sudah mengenal kalender dengan teknik perhitungan dan patokan yang berbeda. Angka atau nomor, atau sebutlah sesuatu yang dianggap angka dan nomor yang digunakan itu pun berlainan. Begitu juga cara penulisannya. Ada yang digambar di dinding gua, ditulis di kayu, dipahat di batu, ada pula yang diterakan di daun-daun.

Ihwal nama-nama harinya, itu hanya salah satu cara untuk memudahkan penggunanya untuk mengingat. Istilah hari Senin dan seterusnya yang biasa dipakai di Indonesia, itu merujuk pada penyebutan angka dua dalam bahasa Arab: Isnani, dan seterusnya. Pertanyaannya, darimana dan bagaimana sebenarnya perhitungan kalender itu?

Penyusunan kalender biasanya meskipun tidak selalu, didasarkan pada fenomena astronomis benda-benda langit yang berulang secara ‘periodik’. Namun yang banyak digunakan terutama pergerakan bulan dan matahari. Pemanfaatan matahari dan bulan sebagai landasan penyusunan kalender ini disebabkan oleh penampakan dan fenomena yang berkaitan dengan kedua benda langit tersebut sangat mudah dikenali. Siang ditandai dengan matahari, malam dengan bulan.

Kalender Masehi didasarkan pada perputaran bumi mengelilingi matahari dengan bulan-bulan yang sudah kita kenal, mulai Januari, Februari, Maret hingga Desember. Kalender ini tidak mempunyai keterkaitan dengan pergerakan bulan. Kalender yang hanya didasarkan pada pergerakan bumi mengelilingi matahari disebut sebagai “Solar Calendar” alias Kalender Matahari. Di lain pihak Kalender Hijriah dan Saka Jawa hanya didasarkan pada pergerakan bulan mengelilingi bumi dan perhitungan tahunnya tidak berkaitan dengan peredaran semu matahari. Kalender semacam ini dikenal sebagai Luni Calendar atau Kalender Bulan.

Sementara kalender Yahudi dan Cina (Imlek) merupakan kalender yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi untuk perhitungan bulannya dan bumi mengelilingi matahari untuk perhitungan tahunnya. Kalender yang didasarkan pada fenomena matahari dan bulan tersebut dikenal sebagai Luni-Solar calendar atau Kalender Bulan-Matahari.

Ada satu titik acuan yang sering digunakan untuk menyusun kalender, yaitu equinox dan solstices. Ini adalah posisi semu matahari. saat melintasi garis equator (langit). Ada dua titik equinox yaitu vernal equinok (musim semi) yang terjadi pada tanggal 20 Maret dan autum equinox (musim gugur) yang terjadi pada tanggal 22 September. Sementara solstice merupakan posisi (semu) matahari saat berada di atas belahan bumi paling utara (+23.5) atau di atas belahan bumi paling selatan (-23.5). Dari sini kita mengenal winter solstice (musim dingin) dan summer solstice (musim panas).

Dengan mengetahui posisi matahari seseorang dapat memperkirakan musim yang bakal terjadi. Keterkaitan posisi (semu) matahari secara langsung dengan musim yang terjadi di bumi menjadikan Kalender Matahari cocok digunakan sebagai kalender petani. Kalender yang bersandar pada waktu edar matahari inilah yang lantas banyak digunakan manusia di dunia. Namun ada kalender-kalender lain di luar Kalender Masehi.

Salah satunya adalah Kalender Hijirah. Kalender ini terutama digunakan oleh kaum muslim. Tidak seperti perhitungan tahun Masehi yang menggunakan peredaran matahari, tahun Hijriah menggunakan perhitungan yang berdasarkan peredaran bulan. Jika menurut peredaran matahari masa tahun Masehi sebanyak 365 hari maka pada Hijriah yang ditetapkan berdasarkan peredaran bulan, lamanya tahun adalah 344 hari.

Dasar perhitungannya adalah perubahan penampakan bulan dari hari ke hari dapat digunakan sebagai acuan perhitungan hari dalam satu bulan. Jika penampakan bulan setengah lingkaran di garis meridian saat matahari tenggelam menandakan umur bulan 7 hari (hari ke 7) dan tampak lingkaran (purnama) di horison Timur saat matahari tenggelam menandakan umur bulan 14 hari (hari ke 14). Kemudahan dalam mengetahui hari dengan mengenali penampakan bulan inilah yang menjadikan Kalender Bulan cocok sebagai acuan dalam peribadatan.

Tahun Hijriah pertama kali diterapkan pada tahun 638 Masehi oleh Khalifah Umar bin Khattab (592-644 M). Dia mencoba merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang dipakai pada saat itu, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Bangsa Arab pada saat itu sudah mengenal penanggalan yang berdasarkan bulan tapi tidak mengenal perhitungan tahun. Untuk mengetahui suatu tahun, mereka menamakannya berdasarkan suatu peristiwa penting. Misalnya Tahun Gajah yang merupakan tahun penyerangan tentara gajah Abrahah yang gagal untuk meruntuhkan Kabah di Mekkah dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan Kalender Imlek? Tidak banyak dari orang Cina yang berjumlah semiliar orang itu, tahu sejarah dan asal usul Tahun Baru Imlek. Mereka hanya merayakannya dari tahun ke tahun bila kalender penanggalan Imlek telah menunjukan tanggal satu bulan satu. Jenis dan cara merayakannya pun bisa berbeda dari satu suku dengan yang lain. Mungkin penyebabnya adalah luasnya daratan Cina dengan beraneka ragam kondisi alam, dan banyaknya etnis.

Imlek ada yang dimulai dengan pemmujaan kepada Thian dan para Dewa, serta leluhur, ada pula yang dimulai dengan makan ronde, maupun kebiasaan-kebiasaan lain sebelum saling berkunjung antar sanak saudara sambil tidak lupa membagi-bagi Ang Pau atau Hong Bao untuk anak-anak, yang tentu saja menerimanya dengan penuh kegembiraan.

Sebenarnya penanggalan Cina dipengaruhi oleh dua sistem kalender, yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29,5 hari. Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, sehingga pembagian musim ini terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen.

Ada sekitar 24 pembagian musim. Diantaranya permulaan musim semi yang merupakan hari pertama pada musim perayaan Tahun Baru, atau saat dimulainya Perayaan Musim Semi (Chun Jie). Musim hujan, di mana hujan mulai turun. Musim serangga saat serangga mulai tampak setelah tidur panjangnya selama musim dingin, dan lain-lain.

Selain pembagian musim tadi, dalam penanggalan Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Tapi bisa disimpulkan penanggalan Cina tidak hanya mengikuti satu sistem saja tapi ada beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu musim, 5 unsur, angka langit, shio, dan sebagainya.

Perayaan hari Imlek tidak ada hubungan langsung dengan agama, kepercayaan ataupun keyakinan. Ini berbeda dengan penanggalan Islam, Hijrah yang berlatar belakang perjuangan Nabi Muhammad. Juga tidak sama dengan tahun Masehi. Imlek sangat erat hubungannya dengan masalah pengurusan pertanian. Dalam bahasa Inggris Imlek disebut “Spring Festival”, artinya festival musim semi. Dalam masalah pengurusan usaha bidang pertanian, musim semi adalah musim dimulainya penyebaran bibit semai. Ini berlaku bagi wilayah di bagian bumi ini yang mengalami empat musim dalam setahunnya. Pada hari Imlek itu orang-orang Hok Kian menyatakan “Konghei Fat Choi” artinya, kalau tidak salah, “semoga dapat untung”, dilimpahi kebahagiaan.

Bangsa Thailand sebenarnya juga punya kalender sendiri. Kalender ini terutama digunakan untuk menentukan hari raya keagamaan. Mulanya kalender yang dipakai memakai matahari sebagai patokan. Tapi lantas diubah menggunakan penanggalan berdasarkan bulan. Walaupun Thailand mengubah tahun barunya menjadi sama dengan negara-negara yang mayoritas memeluk agama Kristen, tetapi perhitungan tahunnya berbeda. Perhitungan kalender Thailand tidak menggunakan Masehi tetapi Buddhist Era atau BE.

Buddhist Era dimulai 543 tahun lebih cepat daripada era Kristen. Jadi tahun 2000 masehi sama dengan tahun 2543 BE. Pada cap di perangko, penanggalan sesuai dengan kalender Buddhist Era. Tetapi untuk penanggalan di bank, digunakan perhitungan kalender Kristen.

Sejak tahun 1940 Thailand mengubah Tahun Barunya, dari tanggal 13 April menjadi 1 Januari. Hal ini dilakukan agar Thailand dapat merayakan Tahun Baru bersama-sama dengan semua negara di dunia. Sampai saat ini, Tahun Baru Thailand (Songkran) merupakan hari libur dan dirayakan secara meriah seperti pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari.

Jadi memang ada bermacam-macam kalender yang digunakan oleh manusia di dunia ini. Meski cara perhitungan dan acuan yang dipakai berbeda, tujuannya bisa disebut sama: memudahkan manusia mengatur hidupnya. Dan tanggal 1 Januari diperingati sebagai tahun baru, baru terjadi sejak tahun 1500-an.

Iklan