http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=allah&w=1

Sungguh patut dikasihani, orang-orang yang mengaku sebagai pemimpin sementara dia bukan manusia yang mengenal Allah dengan seluruh sifat, asma dan perbuatan-Nya.

oleh Rusdi Mathari

SUATU hari datanglah seseorang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya soal pemimpin. Menjawab pertanyaan orang itu, Nabi berpesan agar berhati-hati dalam memilih atau menunjuk seorang pemimpin. Seseorang yang meminta untuk dipilih, kata Nabi diharamkan untuk dipilih karena kelak jika menjadi pemimpin biasanya orang semacam itu akan khianat dan tak melayani orang yang dipimpin. “Sayyidul qaum qadimuhu,” kata Nabi. “Pemimpin suatu kaum wajib berkhikmat (melayani) kepada kaum yang dipimpin.”

Karena hakikat pemimpin menurut Nabi adalah pelayan, mestinya semua orang tidak akan bersedia menjadi pemimpin melainkan hanya mereka yang sabar. Perhatikanlah pekerjaan pelayan. Di restoran mereka bukan saja harus mencatat pesanan makanan atau minuman para pembeli, merapikan ruangan restoran, serta membereskan meja dari piring dan gelas kotor tapi juga harus rela menerima perintah bahkan makian dari pembeli. Di rumah-rumah orang kaya, para pelayan harus bangun lebih awal dan tidur lebih akhir dibanding majikannya. Karena tugasnya melayani semua keperluan sang tuan, dia mengerjakan hampir seluruh pekerjaan di rumah itu. Mulai dari mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, memasak lalu menyiapkan makan dan minum bagi tuannya, menjaga anak-anaknya dan sebagainya. Kadang-kadang pelayan akan mendapat bentakan dari majikannya jika dia lalai dalam pekerjaannya atau pekerjaannya dinilai tak becus.

Lalu siapakah yang sanggup melakukan semua pekerjaan semacam itu? Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, seorang arifin yang hidup antara masa pemerintahan Al Mu’tashim Billah (Bani Saljuk) dan Al Mustakfi Billah I (Bani Abbasiyah) sekitar 1242-1302 masehi pernah mengatakan, hanya mereka yang berpaling dari dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalim-nya dunia.

Dalam pandangan Asy Syadzili, menjadi pemimpin adalah keramat (kemuliaan) yang diberikan oleh Allah kepada seseorang. Sementara keramat tidak diberikan oleh Allah kepada orang yang mencarinya, tidak dianugerahkan kepada orang yang menuruti nafsunya dan tidak dilekatkan kepada orang yang jasmaninya digunakan untuk mencari keramat. Setiap keramat dari Allah datang bersamaan dengan rida Allah, kepada orang yang senang kepada Allah dan senangnya Allah. Manusia yang diberi keramat oleh Allah hanyalah mereka yang tidak merasa diri dan merasa beramal, akan tetapi mereka yang selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah, dan tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.

Karena keramat datang hanya dari Allah dan hanya orang-orang yang ditentukan oleh Allah yang berhak mendapatkannya maka tidak semua orang bisa menjadi pemimpin dalam pemahaman pemimpin yang adil dan amanah, baik untuk urusan dunia (jasmani) maupun yang terutama untuk urusan keagamaan (ruhani). Hanya mereka yang dijuluki sebagai waliyyan mursyidan seperti yang ditegaskan ayat ke 17 surat Al Kahfi, orang-orang yang mampu menjadi pemimpin dalam pengertian yang sebenar-benar pemimpin. Mereka, para waliyyan mursyidan dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk menjadi tempat bersandar orang-orang yang lemah, menjadi harapan manusia yang ketakutan, menjadi panutan bagi manusia yang dinistakan oleh manusia lainnya, menjadi tempat mengadu orang-orang yang tidak pernah didengar suaranya, memberi inspirasi bagi manusia yang kelelahan, dan sebagainya.

Tentang siapa saja orang yang berhak disebut waliyyan mursyidan, penjelasan Asy Syadzili tentang keramat Allah adalah jawabannya. Penghulunya adalah Nabi Muhammad SAW, para rasul dan para nabi, dan para sahabat Nabi. Ketika memimpin pemerintahan Islam dengan seluruh urusan jasmani dan ruhani, Nabi memimpin dengan hati, dengan jiwa dan tak sekadar memimpin dengan jasad lahiriah. Tujuannya agar manusia mencontoh lalu melaksanakan agar tidak terlena dan tidak diperbudak oleh dunia (nafsu). Karena hanya dengan menafikan dunia (nafsu), menurut Nabi, manusia akan benar-benar menjadi khalifah seperti yang disebutkan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 30 dan kemudian akan menjadi contoh, menjadi panutan.

Dalam konteks kekinian, ketika Nabi, para rasul dan para sahabat, sudah tidak ada, hanya ada satu pihak yang berhak memimpin dan mendapat julukan pemimpin (waliyan mursyidan). Mereka adalah orang-orang saleh dan para ulama. Nabi mengukapkan hal ini, jauh sebelum para ulama dan julukan ulama itu sendiri muncul. Dalam kitab Kanz Al ‘Ummal, dikutip penjelasan Nabi bahwa “Para ulama adalah kepercayaan Allah untuk makhlukNya” dan “Ulama adalah pemimpin dan orang-orang bertakwa adalah penghulu”

Perbuatan dan Perkataan

Di zaman sekarang gampang mencari ulama apalagi hanya mereka yang berjuluk ulama. Di televisi, di radio, di media cetak dan di banyak tempat, akan didapati orang-orang semacam itu berserakan seperti tak ada habisnya. Sebagian dari mereka bahkan hanya menjadi pembenar tindakan penguasa yang tidak taat kepada Allah dan RasulNya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Abdillah, Nabi pernah mengatakan, “Para fuqaha’ adalah kepercayaan para Rasul selagi mereka tidak masuk ke dalam (urusan) dunia.”Ketika ditanya seorang sehabat, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan masuk ke dunia?” Nabi menjawab, “Mengikuti penguasa (sultan). Jika mereka mengerjakan itu maka waspadailah mereka atas agama kalian.”

Jadi ulama yang dimaksud oleh Nabi adalah mereka yang mewarisi perilaku Nabi dan mereka itu tak banyak jumlahnya. Mereka adalah yang dimaksud oleh Al Quran dalam ayat ke 28 surat Al Fathir, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama.”

Ahli tafsir Allamah Al Thabathaba’i menjelaskan, yang dimaksud dengan ulama oleh ayat tersebut adalah orang-orang yang mengenal Allah beserta asma’-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Sehingga dengan semua itu, hati mereka tenang, tak ada keraguan dan ketakutan. Pengaruh mereka terlihat dalam perbuatan mereka yang nyata, dan perbuatan mereka tak lain adalah bukti dari ucapan mereka. Sementara untuk kata takut, Al Thabathaba’i menafsirkan sebagai perbuatan yang diikuti dengan kerelaan untuk tunduk lahir dan batin.

Beranjak dari tafsir tersebut maka yang dimaksud dengan perilaku Nabi yang utama adalah mengenal dan dekat dengan Allah, serta adanya kesesuaian ucapan dan perbuatan (akhlaq). Nabi bahkan lebih sering memberi teladan dengan perbuatan dan bukan sekadar dengan kata-kata. Nabi tak akan menyeru orang untuk shalat melainkan telah lebih dulu shalat bahkan melebihi shalat yang dilakukan umatnya, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Nabi tak akan menyuruh pemimpin agar memutus perkara dengan adil kecuali dia sebagai pemimpin umat telah mengancam anaknya (Fatimah) dengan hukuman potongan tangan. Nabi tak akan menyuruh orang agar mendekatkan diri kepada Allah melainkan sudah lebih dulu sampai kepada Allah.

Empat sahabat yang memerintah sepeninggal Nabi juga melakukan hal yang sama. Ketika dilantik menjadi amirul mukminin dan khalifah yang pertama, Abu Bakar menegaskan posisinya sebagai pemimpin adalah tempat perlindungan bagi mereka yang tak berdaya, dan sebaliknya merupakan ancaman bagi para pesohor dunia. Dia lebih lapar dari orang yang miskin yang kelaparan, lebih beriman daripada umatnya yang beriman. Para ulama yang memimpin umat juga demikian perilakunya.

Sebagai pewaris Nabi, mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab yang hampir sama, kalau tidak bisa dikatakan sama dengan Nabi; melayani umat dengan hanya berharap kepada Allah. Mereka bukan saja memimpin dengan tindak laku jasmani melainkan juga sikap hati dan jiwa (ruhani). Sesuai ucapan dan perbuatan, terbukti teori dan perilaku. Ketika mengeluarkan pernyataan (ucapan) dia tak akan menyakiti hati kaum yang dipimpin, pada saat berbuat dia tak bersedia dipuji dan menghitung-hitung. Itu sebabnya kepemimpinanya lantas memiliki pengaruh dan dampak pada perilaku kaum yang dipimpin. Dia akan disegani bukan karena kedudukannya sebagai pemimpin melainkan karena perilakunya.

Isyarat itu niscaya berbanding terbalik dengan kebanyakan manusia yang mengaku sebagai ulama dan pemimpin pada saat ini. Kebanyakan dari mereka jika dipilih atau ditunjuk sebagai pemimpin niscaya akan dengan sombong mengaku sebagai yang terbaik, paling ahli, paling pintar, paling punya pengaruh dan paling-paling lainnya. Dia ingin menjadi dan dijuluki sebagai pemimpin hanya agar manusia mengakuinya sebagai pemimpin, sebagai orang yang berkuasa memerintah, menghukum, memperkaya diri dan sebagainya. Dia ingin menjadi pemimpin, hanya agar manusia mengakui dialah yang paling pintar, paling ahli dan sebagainya. Padahal kedudukan mereka sebagai pemimpin, bukan dalam pengertian pemimpin yang sebenarnya; dipercaya, ditaati, dan dicontoh oleh seluruh kaum yang dipimpin secara lahir batin.

Presiden sebuah negara bukan pemimpin rakyat dari negaranya, karena tidak semua rakyatnya bersedia menaati apa yang dikatakannya. Direktur perusahaan bukanlah pemimpin atas karyawan karena tidak semua karyawannya dengan ikhlas menjalankan aturan yang dibuatnya. Ketua yayasan bukan pemimpin karena tak semua orang yang bernaung di bawah yayasannya setuju dan bersedia patuh kepada keputusan-keputusannya. Lebih celaka lagi, karena mereka juga berharap mendapat imbalan. Presiden meminta bisa dipilih kembali. Direktur berharap mendapat upah dan fasilitas yang lebih banyak lagi. Ketua yayasan meminta dipatuhi dan daikui pengaruhnya.

Selain sekadar pentadbir (pengurus) yang mengurusi hal-hal yang bersifat duniawi, tak ada julukan lain yang lebih pantas bagi manusia seperti itu. Atau kalaupun harus dijuluki sebagai pepimpin, mereka hanyalah pemimpin stempel. Mengherankan karena itu ketika banyak manusia berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin padahal dia sebenarnya bukan golongan orang yang sabar yang bersedia melayani umat. Dan sungguh patut dikasihani ketika ada orang-orang yang mengaku sebagai pemimpin sementara dia bukan manusia yang mengenal Allah dengan seluruh sifat, asma’, perbuatan-Nya.

Iklan