www.portfolio.com

Gempa krisis keuangan dari Wall Street, New York, Amerika Serikat akhirnya merembet ke seluruh dunia hanya dalam waktu dua hari. Dampaknya cukup parah karena dalam dua hari itu sejak Senin (21 Januari) hampir semua bursa saham utama dunia mulai memperlihatkan kecenderungan penurunan akibat dipenuhi oleh aksi jual. Bank sentral Amerika Serikat juga mulai memangkas suku bunga dan memperingatkan pelaku pasar keuangan akan terjadinya krisis berkepanjangan.

Oleh Rusdi Mathari

SEPERTI paduan suara, bursa saham dunia lalu satu per satu melorot seperti saling menyusul. Hingga pembukaan perdagangan hari itu penurunan paling tajam diderita oleh bursa Jerman (Dax Index) dan India (Sensex30 Index) yang mencapai lebih 7 persen disusul bursa saham Hong Kong (Hang Seng Index), Cina (Shanghai Composite), dan Inggris (FTSE 100) hingga di atas 5 persen dan bursa Jepang (Nikkei 225) 3,9 persen (lihat “Global Stocks Plunge as U.S. Crisis Spreads“, the Washington Post, Selasa 22 Januari 2008 Halaman A1)

Setelah pembukaan perdagangan pada bursa Jepang mengalami tekanan sebesar 4,4 persen bursa saham di sejumlah negara Asia kemudian juga mengalami aksi jual. Pembukaan perdagangan pada bursa India kemudian juga mengalami tekanan hingga mendekati angka 10 persen pada saat penutupan perdagangan bursa. Satu-satunya bursa saham Asia yang naik hanya bursa saham di Sri Lanka tetangga India. “Keadaan seperti sekarang sudah diperkirakan sebelumnya,” kata Wesley Fogel, analis strategi pasar HSBC.

www.equities-news.com

Sehari (22 Januari) kemudian aksi jual masih terus mewarnai bursa saham dunia dengan tekanan yang lebih kuat. Di India pembukaan perdagangan di Sensex30 diawali dengan penurunan hingga mendekati angka 11 persen. Begitu juga dengan pembukaan perdagangan di Nikkei Jepang yang terus ditekan hingga turun 5,65 persen. Secara akumulatif, bursa saham Nikkei sudah anjlok 18 persen pada tahun ini. Keadaan yang tidak lebih baik juga menimpa Hang Seng Hong Kong yang dipaksa turun 8,65 ketika mengawali pembukaan perdagangan atau anjlok sebesar 30 persen sejak akhir Oktober silam.

Sehari sebelumnya pada Senin (21 Januari) para pejabat dari bagian Departemen Keuangan di bank sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve) sudah menghubungi sejumlah kolega mereka dari bank-bank sentral di beberapa negara. Para pejabat bank sentral di beberapa negara itu diminta oleh bank sentral Amerika Serikat agar bersiap dan memantau perkembangan bursa saham di Wall Street.

Gejala krisis keuangan Amerika Serikat sudah terlihat sejak September tahun lalu. Saat itu sejumlah perusahaan investasi keuangan ternama dunia mengalami gagal bayar atau kerugian menyusul mulai ambruknya sektor properti Amerika Serikat yang dililit kredit macet. Gejala itu lalu menjadi kenyataan ketika pada November 2007 harga-harga saham dari perusahaan investasi keuangan itu anjlok (lihat “Korban Berikutnya Bernama Cruz“).

Morgan Stanley, Citigroup Inc. dan Merrill Lynch adalah beberapa perusahaan investasi keuangan raksasa yang terkena dampak serius dari melonjaknya kredit macet di sektor perumahan di Amerika Serikat. Perusahaan itu tercatat menderita kerugian US$ 3,7 miliar (Morgan Stanley), US$ 6,1 miliar (Citigroup Inc.) dan US$ 8,9 miliar (Merrill Lynch).

Morgan lalu menjadi perusahaan pertama yang mengumumkan penghapusbukuan (write off) atas kredit macet senilai US$ 2,5 miliar. Namun pengumuman tersebut justru disusul dengan kejatuhan sahamnya di bursa New York setelah spekulasi yang menyebutkan perusahaan keuangan itu akan melakukan write off jauh lebih besar dari angka US$ 2,5 miliar. Faktanya total kredit macet yang dihapusbukukan oleh Morgan Stanley adalah sebesar US$ 6 miliar.

Karena kecemasan investor di pasar modal dianggap bisa menggerogoti saham Morgan Stanley, perusahaan itu akhirnya memecat Zoe Cruz, CEO Morgan Stanley. Perempuan berusia 52 tahun itu dipecat karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas sejumlah kredit macet Morgan Stanley. Posisinya kemudian digantikan oleh John Mack.

Sejak itu para pelaku pasar di bursa Wall Street lantas memperlihatkan perilaku kapitalisme –yang mengusung pasar sebagai panglima— aslinya dengan menggerogoti banyak saham-saham perusahaan lain melalui aksi jual. Bursa Wall Street lalu tak sempat bernapas untuk menghentikan sejenak aksi para spekulan. Puncaknya terjadi pada Senin lalu dan langsung berimbas kepada anjloknya bursa saham dunia .

Anjloknya pasar saham dunia itu merupakan yang terburuk dalam enam tahun terakhir dan telah menguapkan nilai bursa saham hingga US$ 5 miliar pada tahun ini. Kabar terbaru menyebutkan, dalam 48 jam terakhir bursa Dow Jones sudah anjlok hingga 500 poin.

Mungkin karena melihat tanda-tanda yang semakin tidak membaik, the Federal Reserve pun lantas memangkas suku bunga hingga 3,4 persen pada hari Selasa (22 Januari) (lihat “Fed Cuts Key Interest Rate as Global Markets Drop for Second Day“, http://www.washingtonpost.com, Selasa 22 Januari 2008). Penurunan suku bunga tersebut bisa diduga sebagai jawaban atas anjloknya bursa saham dunia dan peringatan kepada pasar-pasar keuangan dunia akan munculnya kebijakan politik yang mungkin akan diambil oleh banyak negara.

Dunia tampaknya sedang kembali berada di tubir resesi ekonomi. Dan di Indonesia hal itu sudah ditandai dengan merangkaknya harga-harga kebutuhan pokok meskipun para menteri ekonomi dari Kabinet SBY masih percaya diri atau tepatnya terlalu keblinger dengan menyebutkan bahwa inflasi pada tahun ini akan lebih stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Iklan