http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=suicide&w=1&x=0&y=0

Bersama anak balitanya, seorang ibu di Kediri, Kamis kemarin bunuh diri. Dia melompat ke dalam lubang sumur. Persoalan ekonomi dan gangguan jiwa diduga menjadi latar belakang kejadian tragis itu. Menurut WHO, dalam dua tahun terakhir, terdapat 50 ribu kasus bunuh diri di Indonesia yang disebabkan oleh alasan kemiskinan. Maka pejamkanlah mata lalu dengar dan rasakan bahwa orang-orang miskin itu ternyata ada di sekitar kita, bahkan sangat dekat.

oleh Rusdi Mathari

MARWIYAH nama perempuan itu ditemukan mengambang di dalam sumur oleh ayahnya yang kebetulan hendak mengambil air sumur. Ketika tubuh Marwiyah diangkat oleh para tetangga, dia ternyata sedang menggendong anaknya yang berusia 3 tahun yang juga ditemukan tewas. “Beberapa saksi yang kami mintakan keterangan menyebutkan, b Marwiyah mengalami gangguan kejiwaan,” kata Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Kras, Aiptu Sigit Rahmanto (lihat “Ibu dan Anak Mati di Dalam SumurANTARA News, www.antara.co.id, Kamis 24 Januari 2008)

Namun Samidi ayah Marwiyah meyakini tindakan anaknya dilatarbelakangi oleh fakor ekonomi (kemiskinan). Marwiyah yang tinggal di Desa Bleber, Kediri, Jawa Timur punya tujuh anak dan anak yang ikut mati bersamanya adalah anak bungsu. Tak dijelaskan di dalam berita itu apakah Marwiyah selama bekerja atau tidak dan apakah masih punya suami atau tidak tapi keyakinan Samidi sebagai ayah, tampaknya lebih bisa dipercaya karena dia lebih mengetahui kondisi rumah tangga anaknya.

Kisah tragis Marwiyah dan anaknya bukan peristiwa bunuh diri pertama karena alasan kemiskinan yang terjadi pada tahun ini. Beberapa hari lalu (pada 15 Januari 2008), di Pandeglang, Banten, Slamet seorang pedagang gorengan gantung diri karena hasil dagangnya lebih kecil dari modal yang dikeluarkan. Setiap hari Slamet harus mengeluarkan modal Rp 50 ribu tapi yang bisa dibawa pulang hanya Rp 35 ribu.

Empat hari sebelum meninggal, Slamet pernah mengeluh kepada beberapa wartawan yang datang untuk menanyakan dampak kelangkaan minyak tanah dan kenaikan harga. Ia mengatakan terpaksa membeli minyak tanah dengan harga Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter. Setiap pagi sebelum berjualan, ia mengambil 2-3 liter minyak tanah di warung milik Enjen. Slamet baru membayar minyak tanah pada malam hari, sepulang berjualan. Namun, menurut Enjen, beberapa waktu terakhir Slamet memang mulai kesulitan membayar minyak tanah. Saat itu bersamaan dengan melonjaknya harga sejumlah bahan pangan, seperti tepung terigu, tepung tapioka, tahu, tempe, sayuran, dan minyak goreng. (lihat “Krisis Harga-Pedagang Gorengan Bunuh DiriKompas 16 Januari 2008)

Tahun lalu, seorang bapak di Kandis, Riau, nekat bunuh diri bersama tiga anak dan istrinya yang sedang mengandung dengan cara minum racun, karena tak tahan dengan penderitaan hidup yang serba kekurangan. Pada kisah-kisah lain yang diberitakan media massa, ada anak yang nekat mengakhiri hidup karena tidak membayar SPP, seorang ibu yang membekap anaknya karena terlilit utang dan sebagainya. Hidup orang-orang miskin itu lalu begitu sangat murah: hanya seharga sekilo beras, seliter minyak tanah dan belasan ribu uang sekolah.

http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=poor&w=1&x=0&y=0

Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan dalam dua tahun terakhir (2005-2007) ditemukan 50 ribu orang yang tewas dengan cara bunuh diri. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno faktor utama penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup. “Dengan demikian faktor bunuh diri di Indonesia lengkap sudah,” ujar Prayitno (lihat “Penyebab Utama Kemiskinan: 50.000 Orang Indonedia Bunuh Diri Tiap TahunVHRmedia.com, Jakarta¸8 Oktober 2007).

Mungkin akan dianggap naif dan terdengar hanya mengulang-ulang jika kemudian peristiwa-peristiwa dari orang-orang tak berdaya yang mengakhiri hidup dengan tragis itu dikaitkan dengan kegagalan pemerintah untuk menyediakan berbagai fasilitas kebutuhan dasar bagi warganya. Namun sebagai pihak penyelenggara negara yang pada musim kampanye telah menjanjikan mimpi kemakmuran dan meminta untuk dipilih, adalah juga sangat sulit untuk tidak dituding sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Anggaran belanja negara Republik Indonesia mencapai Rp 750 triliun hampir setiap tahun tapi sebagian besar anggaran itu habis hanya untuk melunasi utang, membayar gaji pegawai, dan memberi aneka tunjangan kepada anggota parlemen dan pejabat.

Seorang asisten bupati dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah, Kamis kemarin menjelaskan kepada saya, “Andai saja uang itu tidak berputar di Jakarta, dan dibagikan kepada 400-an kota kabupaten dan provinsi masing-masing Rp 1 untuk membangun kehidupan rakyat di daerah, persoalannya mungkin akan lain,” kata dia.

Saya mengiyakan penjelasan dia, sambil membayangkan indikator-indikator pembangunan sosial Indonesia yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lainnya. Hal itu antara lain tercermin dari angka kematian ibu di Indonesia yang dua kali lebih tinggi dari Filipina dan lima kali lebih tinggi dari Vietnam. Hampir setengah penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Sebagian besar sumber-sumber ekonomi masih dikuasai oleh segelintir orang. Perusahaan swasta dan BUMN dikelola dengan banyak pungli. Distribusi uang masih disalurkan kepada pemilik-pemilik modal besar, dan sebagainya.

Kompleksitas yang lain adalah tidak adanya angka pasti yang menyangkut jumlah orang miskin. Dengan pertumbuhan ekonomi pertanian yang rata-rata di bawah 3 persen per tahun dan laju pertumbuhan penduduk di pedesaan yang cukup tinggi, membuat lapangan pekerjaan juga semakin menyempit sehingga kemiskinan pun meningkat. Bappenas memperkirakan jumlah penduduk miskin Indonesia tahun ini akan mencapai 40 juta orang atau mencapai sekitar 25% dari total populasi. Jumlah ini bertambah sekitar 2 juta lebih dibandingkan jumlah penduduk miskin tahun lalu.

Jika mengacu pada hitungan UNDP bahwa yang disebut penduduk miskin adalah orang yang berpenghasilan kurang dari US$ 2 per hari – atau sekitar 17 ribu, niscaya jumlah penduduk miskin di Indonesia akan lebih banyak lagi jumlahnya. Dalam hitungan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini sudah mencapai 109 juta penduduk atau separuh dari total penduduk.

Namun kemudian saya percaya, soal kemiskinan tak selalu bisa diungkap dengan angka dan kemudian dikatakan dengan statistik. Ia adalah sesuatu yang semestinya harus dirasakan ketika angka dan data kemiskinan hendak diungkapkan. Lalu bayangkanlah orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang bahkan hanya untuk membeli tempe dan tahu sudah tak sanggup apalagi untuk membayar ongkos sekolah anak dan rekening listrik. Mereka ada di sekitar kita, menjadi tetangga, dan jumlahnya tak sesederhana hanya menyangkut soal angka dan data seperti yang diributkan oleh Presiden adn para menterinya, para ekonom dan anggota DPR dan juga para pengkhotbah.

Iklan