http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=terrorist&w=1&x=0&y=0

PBB dan Uni Eropa dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam penyusunan daftar hitam pihak yang diduga terlibat dalam terorisme. Siapa yang namanya tercantum dalam daftar tersebut, maka ia sudah tidak punya harapan lagi.

Radio Deutsche Welle

DEMIKIAN inti pernyataan laporan Dick Marty. Pejabat khusus Dewan Eropa ini dalam laporannya menuduh PBB dan Uni Eropa telah melakukan pelanggaran. Usai serangan 11 September 2001, kedua organisasi ini memiliki daftar hitam yang berisi nama-nama orang dan organisasi yang diduga terlibat dalam terorisme. Lebih dari 100 perhimpunan Islam dan lebih dari 350 nama warga Muslim tercantum di sana.

“Dalam beberapa kasus, ada nama-nama yang sudah tercantum dalam daftar tersebut selama 6 tahun. Padahal tidak ada yang bisa dituduhkan kepada mereka. Tapi nama mereka tetap ada dalam daftar hitam. Ini sama saja artinya dengan kematian sosial. Mereka terisolasi, tidak bisa melewati perbatasan, dan semua yang mereka lakukan dalam hidup mereka, hilang begitu saja.“

Dick Marty anggota parlemen yang berhaluan liberal, terkenal senang menampilkan dirinya sebagai pembela hak asasi manusia yang terancam di dunia. Terakhir, ia melaporkan tentang penjara rahasia Amerika Serikat di Eropa Timur dengan fakta dan petunjuk yang tidak jelas. Ini sempat merusak nama baiknya.

Kali ini Marty mendapat dukungan dari mantan menteri kehakiman Jerman Sabine Leutheusser-Schnarrenberger. Ia juga duduk sebagai anggota parlemen Dewan Eropa dan yakin bahwa daftar hitam tersebut melanggar prinsip hukum negara.

“Praduga tak bersalah diabaikan di sini. Ini terlihat jelas dalam beberapa contoh kasus dalam laporan ini. Menurut saya ini sangat mengerikan.“

Youssef Nada mungkin adalah salah satu kasus yang dimaksud. Ia seorang pengusaha asal Mesir. Ia berusia 76 tahun dan tinggal di Swiss. Karena ia diduga membiayai kelompok teroris Islam, rekening banknya ditutup dan ia tidak bisa bepergian semaunya. Tetapi Nada, masih bisa dihubungi melalui telepon.

“Coba Anda bayangkan, semenjak 6 tahun saya seperti menjadi tahanan rumah. Saya tidak bisa pergi dari sini. Saya tidak lagi menjadi manusia. Saya sepeti menjadi perabotan tambahan bagi rumah saya.“

Laporan Marty menyatakan, tidak bisa dibuktikan hubungan antara Al Qaida dan Youssef Nada. Tetapi dalam laporan tersebut juga tidak diungkap, bahwa Nada memang memiliki kontak dengan kalangan kaum Muslim. Nada adalah salah satu tokoh terkemuka dari organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir.

“Saya menjadi anggota Ikhwanul Muslimin sudah selama 60 tahun. 20 tahun saya berada di Eropa dan bertanggung jawab bagi hubungan organisasi ini dengan dunia internasional. Kami menolak aksi kekerasan. Ini adalah tuntutan agama kami.“

*Dikutip lengkap dari Radio Deutsche Welle, 24 Januari 2008

Iklan