http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=blind+man&w=1&x=0&y=0

Maka bayangkan sepasang mata yang pernah melihat aneka warna kembang tiba-tiba tak bisa melihat apa pun selain gelap dan pekat. Bayangkan sepasang mata yang belum pernah melihat indah sinar matahari dan warna pelangi. Bayangkan ketika orang-orang buta itu berusaha untuk tak menjadi beban orang lain. Bayangkan…

Oleh Rusdi Mathari

MEMASUKI halaman sebuah kantor di ujung jalan di sudut wilayah Jakarta Selatan, saya seolah disergap dunia yang luar biasa. Ketika masuk ke dalam kantor dua lantai itu, pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya semakin tegas ditangkap oleh mata. Sebuah pemandangan yang saya rasakan seolah hadir mengejek saja atau mungkin malah sedang mengajarkan agar saya lebih menghormati manusia dan menghargai hidup. Saya mungkin memang kampungan.

Di lantai bawah di ruangan tengah, saya melihat anak-anak berseragam SMU laki-laki dan perempuan belajar mengetik menggunakan sepuluh jari. Beberapa teman mereka mengetik sedang di komputer. Sebagian yang lain tampak mengambil air wudu dan bersiap mendirikan salat asar. Bambang Basuki Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra terlihat berdiskusi dengan beberapa orang dan sedang menyusun surat. Di ujung ruangan di lantai bawah, Irwan Dwi Kuntoro yang menjadi wakil Basuki asyik membaca buku. Di lantai atas, Aria Indrawati Humas Yayasan, sedang sibuk melayani wawancara seorang reporter stasiun televisi.

Mereka semua, orang-orang yang beraktivitas di kantor itu tak bisa melihat seperti manusia kebanyakan yang dilengkapi sepasang mata yang awas. Namun di kantor itu, di dalam dan di luar ruangan, puluhan orang tunanetra itu bukan hanya sanggup berjalan-jalan, lincah menapaki anak tangga, keluar masuk ruangan tanpa alat bantu apa pun –tak juga dibantu oleh tongkat seperti yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang buta—dan lalu tak terbentur atau membentur apa pun melainkan juga sedang berusaha untuk tidak tergantung pada orang lain. “Mereka sebelumnya sudah melakukan orientasi pengenalan ruang,” kata Aria.

Itulah kantor Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan sejak 1991 untuk upaya peningkatan kualitas dan partisipasi para tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja. Di yayasan itu, setiap tunanetra bukan saja dididik untuk tidak tergantung kepada orang lain, melainkan juga dibangkitkan semangat dan potensinya bahwa mereka juga berguna dan tidak sia-sia. Mereka dilatih, diajarkan, dibangkitkan semangatnya agar tidak menyesali hidup dan yang lebih penting bisa setara dengan orang yang memiliki penglihatan awas.

Ada enam program yang dikerjakan oleh organisasi itu yaitu rehabilitasi, pendidikan, informasi komunikasi, tenaga kerja, penelitian dan pengembangan, dan publikasi. Untuk rehabilitasi mereka menyediakan konseling dengan konselor sesama tunanetra, pelatihan orientasi dan mobilitas, dan pelatihan membaca dan menulis Braille. Ada pun untuk pendidikan, ada layanan pendampingan, kursus kemandirian, dan perpustakaan. Di bidang informasi komunikasi, ada produksi buku untuk tunanetra dalam bentuk buku Braille, perpustakaan online, internet dan milis.

Sementara untuk bidang tenaga kerja, yayasan memberikan bimbingan karir, mengembangkan model peluang kerja alternatif, dan melakukan promosi. Lalu untuk penelitian dilakukan penelitian teknologi yang berguna bagi tunanetra, dan di bidang publikasi menyelenggarakan pameran, diskusi dan sebagainya. Sarana penunjangnya juga cukup lengkap, mulai dari komputer, studio, hingga alat-alat lain yang semuanya bisa digunakan oleh penyandang tunanetra.

Saya lalu duduk terpaku di sudut ruangan tengah sesudah menyaksikan semua “pemandangan” itu , di samping seorang pelajar SMU yang sibuk belajar mengetik dengan 10 jari. Kerongkongan saya tiba-tiba menjadi sesak bagai diguyur air yang dituangkan sangat deras. “Oke mas Rusdi, pak Irwan sudah siap diwawancara,” sapa seorang perempuan, staf kantor yang tidak buta membuyarkan lamunan.

Kedatangan saya ke kantor itu pada Jumat sore minggu silam memang bermaksud menemui dan berbincang dengan Irwan, yang dua hari sebelumnya meluncurkan antologi puisi berjudul Angin pun Berbisik. Buku itu berisi kumpulan puisi yang ditulis oleh Irwan, Siti Atmamiah dan Zeffa Yurihana. Dua nama terakhir adalah istri dan anak sulung Irwan dan keduanya bisa melihat (bukan tunanetra). Dua hari sebelumnya, keluarga itu membacakan puisi-puisi mereka di Gedung Kesenian Jakarta. Irwan antara membaca puisi berjudul Seandainya.

”…Engkau yang mewarnai sendiri matamu dengan jemari/Melukis langit/Memahat lembah/Dan menorehkan pelangi pada sudut cakrawala?Seandainya aku….tetapi kau hanyalah seorang buta!”

“Silakan duduk Mas,” kata Irwan memulai perkenalan. Saya lantas duduk di sebelahnya, pada sebuah sofa berlapis imitasi berwarna hijau tua. Saya mencoba menatap Irwan dan dari bentuk matanya yang terlihat seperti bukan tunanetra Irwan tampak juga sedang berusaha menatap saya. “Saya dapat melihat mas Rusdi tapi hanya dalam bentuk bayangan, tidak detil, hanya putih semua,” kata Irwan.

http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=blind+man&w=1&x=0&y=0

Kisah Irwan adalah cerita tentang ketegaran dan kesedihan. Kedua mata Irwan sebenarnya sempat melihat layaknya manusia kebanyakan hingga dia berumur 9 tahun. Suatu hari ketika sedang mengikuti pelajaran di sekolahnya di SD 08 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Irwan merasa semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Tidak ada tanda, tak ada isyarat, semuanya terjadi begitu saja. “Sekarang saya hanya sempat mengingat beberapa warna yang kali terakhir saya lihat,” kata Irwan.

Irwan sejak itu menjalani hidup pada sebuah dunia yang sama sekali tak pernah dia bayangkan meskipun dia bisa menyelesaikan semua jenjang pendidikan formalnya dari SD-SMA. Namun itu pun antara lain karena mengandalkan indra pendengaran dan dibantu orang lain. Misalnya ketika guru mengajar, Irwan dengan serius menyimaknya atau jika ada bahan ajar yang harus dibaca, dia meminta bantuan teman atau saudaranya untuk membacakannya. Irwan hingga masa itu masih sanggup menulis meskipun bentuk tulisannya sudah tak keruan dan harus dibaca dengan penuh kesabaran, karena kadar kebutaan matanya tak terlalu parah.

Lulus SMA daya penglihatan Irwan semakin kecil. Tak terhitung sudah upaya keluarganya untuk mengobati penglihatan Irwan. Mulai dari berobat secara media, pengobatan alternatif hingga paranormal. Tapi indra penglihatan Irwan semakin meredup dan akhirnya tak bisa melihat apa pun kecuali semuanya terlihat oleh Irwan hanya dalam bentuk siluet. Dia lalu memutuskan untuk belajar mengetik sepuluh jari dari sebuah yayasan bernama Panti Sosial Bina Netra Jakarta Selatan. “Harga diri saya tinggi dan saya tak mau bergantung pada orang lain,” kata Irwan.

Persoalan mulai muncul pada saat Irwan kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta pada Jurusan Filsafat Pendidikan pada 1987 bersamaan dengan tingkat kebutaan matanya yang semakin parah: dia tak sanggup mengikuti ujian semester layaknya mahasiswa lain. Irwan sebenarnya berusaha meyakinkan para dosennya agar bahan ujian itu dibacakan dan dia akan menuliskan jawaban di mesin ketik. Namun kampus itu malah memutuskan mengeluarkan Irwan sebagai mahasiswa. “Alasannya seorang guru tidak boleh buta,” kata Irwan, mengulang pernyataan yang dikeluarkan pihak IKIP Muhammadiyah.

Di tengah kemarahan dan kesedihan karena merasa diperlakukan tak adil, Irwan berkat bantuan seorang teman kemudian diterima melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hiyatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta, Red). Di kampus itulah Irwan lalu mengenal Yayasan Mitra Netra dan juga Atmamiah istrinya. Dia sering didampingi dan dibantu terutama dalam pengadaan alat-alat belajar seperti kaset untuk merekam, sementara Atmamiah membantu membacakan bahan kuliah. Dari kampus itulah, Irwan lalu lulus sebagai sarjana filsafat. “Saya mengerjakan skripsi selama dua tahun dan harus mendengarkan ratusan rekaman kaset,” kata Irwan yang kini melanjutkan kuliah S2 pada kampus yang sama.

Nasib yang kurang lebih sama dengan Irwan juga dialami oleh Aria yang mengalami kebutaan sejak berusia 2 tahun. “Saya masih bisa melihat tapi harus dari jarak dekat itu pun hanya dalam bentuk cahaya,” kata Aria dengan senyum.

Sempat dulu, Irwan mengaku marah kepada Tuhan karena tidak tahu kesalahan dan dosa yang telah dibuatnya hingga matanya dibuat menjadi tidak awas. Belakangan Irwan mengaku memahami bahwa kecacatan fisiknya punya hikmah tersendiri antara lain menurut Irwan agar bisa mendidik para orang buta yang lain agar tidak mengalami nasib yang sama dengan dirinya dikeluarkan dari bangku kuliah.

Pada halaman ucapan terima kasih di buku ini, ada sebuah tulisan Irwan yang menarik. “Tatkala masa fisikku tak lagi sempurna dan memproyeksikan benda-benda ke dalam otak dan pikiranku maka hati dan jiwaku menggantikannya dengan ketajaman penglihatan yang sungguh dahsyat. Begitulah aku dihadiahkan oleh Tuhan dan alam kasih sayang melimpah, aku dibiarkan untuk mengenali diri-Nya dengan caraku sendiri; cara yang menurut banyak orang menggelikan bahkan terkadang menyedihkan.”

Dalam perjalanan pulang dari kantor itu, di atas jok sepeda motor, saya lalu merasa malu. Mereka, orang-orang buta itu berusaha menghasilkan karya agar orang-orang yang awas bisa juga menikmatinya. Sementara orang-orang yang kedua matanya sanggup melihat seperti saya, hanya menghasilkan karya untuk orang-orang yang awas, atau bahkan tidak.

Iklan