http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=smoke&w=1&x=0&y=0
Para perokok dan produsen rokok tampaknya makin tak mendapat tempat di Eropa. Setelah Inggris, Norwegia, Swedia, Irlandia, Italia dan Spanyol, kini giliran pemerintah Prancis dan Jerman yang menerapkan kebijakan bebas asap rokok di bar, café, dan restoran sejak 1 Januari 2008. Sebuah keputusan yang ditentang kaum perokok, tentu saja.

oleh Rusdi Mathari
SEBELUM diberlakukan pada tahun baru lalu, pemerintah Prancis sebenarnya sudah menyosialisasikan keputusan tersebut tiga tahun sebelumnya. Waktu itu, Prancis memberlakukan larangan merokok di rumah sakit, sekolah, dan kantor-kantor pemerintah. Sosialisasi tersebut ternyata sukses sehingga disusul keputusan untuk melarang merokok di tempat-tempat yang identik dengan merokok yaitu bar, café dan restoran pada tahun ini.

Keputusan tersebut kontan mendapat reaksi keras dari para perokok di Prancis yang berjumlah 13 juta orang. Apalagi keputusan itu disertai pengenaan denda sebesar €450 bagi mereka yang mencoba tetap membakar tembakau di tempat-tempat yang sudah dinyatakan terlarang bagi asap rokok (lihat “Larangan Merokok di ParncisBBC 1 Januari 2008). Penolakan terhadap kebijakan itu terutama muncul dari masyarakat pedesaan di Prancis yang memiliki tradisi bertemu di cafe dengan teman dan tetangga sambil merokok dan minum kopi. Dengan kata lain, merokok sudah menjadi bagian dari kegiatan sosial sehari-hari di Prancis.

Di Jerman penentangan terhadap larangan merokok datang dari para pengelola restoran dan pub. Menurut mereka, kebijakan bebas rokok bukan hanya menghapus potensi pendapatan mereka tapi juga dianggap bertentangan dengan sejarah. Di masa pemerintahan Adolf Hitler, Jerman memang memberlakukan larangan merokok sehingga keputusan yang keluar pada awal tahun ini oleh beberapa pihak dianggap sebagai kebijakan negatif. Catatan terakhir menyebutkan, dari total penduduk Jerman yang mencapai sepertiganya tercatat sebagai perokok.

Dengan keputusan Prancis dan Jerman itu, maka para perokok di Eropa semakin tak leluasa untuk mengepulkan asap rokoknya di tempat-tempat umum termasuk di tempat kerja, rumah makan, dan juga bar. Selain mengenakan ancaman hukuman kepada para perokok yang ketahuan merokok di area publik, Eropa juga mulai memasang cukai tinggi untuk pabrik rokok. Di Irlandia, pajak itu bahkan mencapai 94 persen. Artinya harga rokok akan makin mahal untuk dibeli.

Bagi para produsen rokok Eropa seperti Britain’s Gallaher Group (diakuisisi oleh Japan Tobacco), the Franco-Spanish Altadis, dan Britain’s Imperial Tobacco— pembatasan merokok tersebut tentu akan semakin menyesakkan. Nasib bisnis mereka terancam bergeser ke jurang kerugian. Tanpa kebijakan yang tegas –seperti tidak boleh merokok di bar— itu saja, sudah sejak empat tahun lalu industri rokok Eropa terpukul menyusul seruan Uni Eropa untuk tak memberi tempat bagi iklan dari pabrik rokok. Dalam catatan lembaga riset pemasaran, Euromonitor Internasional, waktu itu penjualan rokok di Irlandia jatuh sampai 8,7 persen, atau merosot lebih besar dibanding tahun sebelumnya (3,4 persen).

Penjualan rokok di Jerman lebih buruk lagi. Setelah negara itu menetapkan tarif pajak tinggi, angka penjualan rokoknya jatuh sampai 13,6 persen. Kemerosotan penjualan rokok di Jerman bahkan pernah mencapai 15 persen pada 2004. Prancis juga mengalami penurunan penjualan rokok sampai 12,8 persen. http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=smoke+cigaret&w=1&x=0&y=0

Tak lalu karena semua pembatasan yang dilakukan sejumlah negara kepada perokok dan industri rokok, menyebabkan industri rokok Eropa benar-benar padam. Sejumlah analis pasar justru melihat pembatasan bagi perokok dan produsen rokok, sebagai satu penundaan untuk mengantongi keuntungan. Pembatasan itu dinilai memang bisa untuk menakut-nakuti tapi tidak akan memengaruhi laba para produsen.

David Adelman, analis dari Morgan Stanley New York, tiga tahun lalu, pernah menghitung, secara keseluruhan volume penjualan rokok dari produsen-produsen Eropa justru meningkat 3,9 persen dalam 10 bulan terakhir. Total nilai penjualannya mencapai US$ 8,72 miliar atau lebih tinggi 8 persen dari nilai penjualan tahun sebelumnya. Dari laporan keuangan terakhir para produsen rokok Eropa juga terungkap, bahwa keuntungan mereka pada tahun lalu meningkat 4,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka-angka itu, terutama didorong oleh arus pembelian yang meningkat di Eropa Timur dan di negara-negara pecahan Uni Soviet.

Keuntungan para produsen rokok Eropa ditaksir akan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya karena mereka juga semakin agresif membuka pasar baru di sejumlah negara Afrika, Asia Tenggara, dan Eropa Timur. Mutuals.com’s Vice Fund pernah mengemukakan analisisnya bahwa rokok-rokok Eropa saat ini sedang menggantikan merek yang sudah punya nama. Mutuals Fund selama ini dikenal sebagai perusahaan yang banyak berinvestasi di bisnis tembakau, alkohol, perjudian, dan industri senjata.

Karena itu, meski ada pembatasan merokok bisnis tembakau dunia justru meraup keuntungan dalam 10 tahun belakangan. Margin yang diperoleh produsen rokok diperkirakan akan berkisar 50 persen lebih tinggi ketimbang produk-produk konsumen lainnya. Di Inggris sendiri, yang mengenakan cukai rokok paling tinggi di Eropa, pendapatan produsen rokoknya mencapai US$ 2 miliar.

Hanya memang tak bisa diabaikan bahwa pembatasan rokok dalam masa yang akan datang bisa akan mematikan industri rokok. Saat ini, para perokok mungkin saja masih bisa merokok di rumah-rumah mereka setelah dibatasi merokok di bar atau restoran. Namun kampanye anti-rokok yang dicantumkan di bungkus-bungkus rokok dengan peringatan akan bahaya rokok bagi kesehatan, misalnya, dalam jangka panjang bisa mempengaruhi generasi berikutnya untuk tak merokok.

Iklan