//www.bukukita.com/infodetailbuku.php?idBook=6371

Empat perempuan Arab menggugat lembaga perkawinan, kesewenang-wenangan lelaki dan ketamakan kaum maskulin itu terhadap seks, dan sebagainya. Para perempuan itu juga menggugat budaya yang kaku, yang tidak membolehkan seorang perempuan tidak mengenakan cadar, pergi tanpa didampingi kerabat lelaki dan sebagainya. Sebuah gugatan yang betapa pun sangat menelanjangi perilaku kehidupan para lelaki Arab, tapi juga menelanjangi kehidupan para perempuan itu sendiri, yang berasal dari keluarga kaya raya, yang tak berdaya melakukan apa-apa hanya karena tak mampu menentang adat Arab.

Judul: The Girls of Riyadh

Penulis: Rajaa Alsanea

Penerjemah: Syahid Widi Nugroho

Penerbit: Ramala Books (Ufuk Press), Jakarta

Cetakan I: Desember 2007

Jumlah Halaman: 406

Oleh Rusdi Mathari

MEMBACA buku ini, saya teringat dengan kisah Anis, perempuan Arab tetangga rumah saya di Situbondo. Waktu itu sekitar awal 80-an, saya masih duduk di bangku SMA dan Anis pun masih remaja. Di kampung nama Anis menjadi buah bibir, karena berwajah cantik, kulitnya putih bersih, dan mau bergaul dengan anak-anak tetangga seusianya yang bukan Arab. Di Situbondo, Anis menumpang hidup di rumah kakak perempuannya yang menikah dengan lelaki Arab asli Situbondo dan tinggal persis di depan rumah saya. Saya tak tahu Anis dan kakaknya berasal dari mana. Saya hanya tahu, panggilan suami kakak Anis adalah Yek Amak. Dia sudah cukup berumur, bahkan lebih tua dari bapak saya.

Suatu hari, kami para tetangga Anis dikejutkan dengan pemasangan tenda di halaman rumahnya. Kami semakin terkejut, karena tenda itu untuk persiapan pernikahan Anis. Anis mau menikah? Tidakkah Anis baru berumur 16 atau 17 tahun? Begitulah pertanyaan para tetangga.

Ketika waktu pernikahan tiba, kami para tetangga semakin terkejut, karena ternyata calon suami Anis adalah seorang lelaki tua, seusia Yek Amak ipar Anis, atau bahkan lebih tua. Calon suami Anis itu, katanya adalah seorang yang bergelar Habib. Tinggalnya di Probolinggo dan konon kaya raya.

Kabar yang beredar di tetangga, Anis sebenarnya menolak dinikahkan dengan Habib itu. Selain bukan pilihannya, usianya juga terpaut sangat jauh. Seperti jarak usia seorang kakek dengan usia cucunya. Selama seminggu hingga hari pernikahan itu Anis, menangis. Seorang tetangga yang datang ke rumah Yek Amak, sempat melihat, mata Anis membengkak akibat banyak menangis tapi Anis dan Habib tua itu tetap menikah.

Malam harinya dengan mengenakan sarung dan peci saya ikut menari-nari bersama teman-teman yang lain di pesta pernikahan Anis. Musik pengiringnya irama gambus lengkap dengan tabuhan rebana dan nyanyian Arab yang saya tak mengerti artinya. Hidangannya parutan jahe dicampur gula putih. Sambil menari, saya (dan pasti juga teman-teman saya) membayangkan Anis yang cantik itu akan kehilangan keperawanannya malam itu.

Lebih dua puluh lima tahun peristiwa itu saya lupakan, hingga saya membaca buku ini. Sebuah buku yang sebagian isinya mirip dengan kisah yang dialami Anis: perempuan Arab dinikahkan dengan lelaki yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Dalam beberapa kasus, calon suami mereka juga sering berusia lebih tua, bahkan jauh lebih tua, seolah hubungan cucu dan kakeknya. Lalu apakah seorang pria tua yang menikah dengan gadis bau kencur adalah sebuah perilaku yang keliru dan tak pantas?

Tentu ini bukan soal keliru atau tak pantas dan sebagainya. Orang-orang Barat dan para pesohor di Hollywood yang sudah kakek-kakek atau nenek-nenek, banyak yang menikahi artis muda yang berusia sama dengan anak-anak mereka. Michael Douglas dan Demi Moore, milsanya menikah dengan pasangan yang usianya berjarak puluhan tahun dengan usia mereka. Maka kisah semacam itu, dua manusia yang berjarak usia dan mengikat pernikahan— sebenarnya sangat wajar.

Tapi bagi komunitas Arab, pernikahan semacam itu, persoalannya sering dilakukan dengan “paksaan” bukan misalnya atas dasar suka sama suka. Anis yang menangis selama seminggu sebelum dinikahkan adalah sebuah pertanda bahwa dia tak suka dinikahkan, tak suka dengan calon suaminya, minimal karena dia belum pernah mengenal si calon suami. Pihak wali lelaki, dengan mendasarkan pada dalil tertentu di dalam hadis, sering “memaksa” kaum perempuan untuk menikah dengan lelaki yang sama sekali belum pernah mereka kenal. Sebuah tindakan yang sebenarnya juga sangat bertentangan dengan banyak dalil di al Quran dan Hadist itu sendiri.

Buku novel ini, menurut keterangan yang tertera di sampul depannya dibuat berdasarkan kisah nyata. Empat perempuan Arab Saudi yang tinggal di Riyadh, dan berasal dari keluarga berada, saling mencurahkan isi hati dan kehidupan yang mereka alami. Mereka adalah Qamra, Sedhim, Michelle, dan Lumais. Di tulis di novel ini, misalnya tentang kisah Michelle –seorang perempuan blasteran (Arab-Amerika) yang harus menerima kenyataan bahwa laki-laki pilihannya menolak memperjuangkan dirinya hanya karena Michelle adalah perempuan setengah Arab.

Ada juga cerita Qamra, yang dipaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, dan kemudian bercerai meninggal Qamra yang digambarkan cantik itu sebagai janda, hanya beberapa bulan sebelum perempuan itu melahirkan anak buah dari pernikahan itu. Qamra menghadapi situasi yang sebenarnya bisa dialami oleh perempuan mana pun, yang kebetulan memiliki orang tua pemaksa dan mau menang sendiri. Sebuah situasi yang bisa membuat ikatan pernikahan menjadi sebuah belenggu. Bagi mereka perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal dan duka cita

Pendek kata, the Girls of Riyadh yang ditulis oleh Rajaa Alsanea ini, merupakan “rangkuman” gugatan dari empat gadis terhadap lembaga perkawinan, kesewenang-wenangan lelaki dan ketamakan kaum maskulin itu terhadap seks, dan sebagainya. Para perempuan itu juga menggugat budaya yang kaku, yang tidak membolehkan seorang perempuan tidak mengenakan cadar, pergi tanpa didampingi kerabat lelaki dan sebagainya. Mereka lantas mengekspresikan gugatan itu dengan mencoba-coba melepas cadar dan pergi tanpa lelaki pendamping yang sah (muhrim), untuk menggugat ketidakadilan. Sebuah gugatan yang betapa pun sangat menelanjangi perilaku kehidupan para lelaki Arab, tapi juga menelanjangi kehidupan para perempuan itu sendiri, yang berasal dari keluarga kaya raya, yang tak berdaya melakukan apa-apa hanya karena tak mampu menentang adat Arab.

Saya tak tahu, di mana Anis menetap sekarang. Dari Abdullah, keponakannya yang masih tinggal di Situbondo, yang saya jumpai awal Januari lalu, saya mendapat kabar, suami Anis yang tua itu sudah lama meninggal. Anis sudah menjanda ketika usianya mungkin belum 30 tahun, pada waktu suaminya meninggal.

Iklan