Koran-koran di Denmark memuat kembali karikatur yang mereka sebut sebagai wajah Nabi Muhammad saw. dan menghebohkan dunia, dua tahun lalu. Sebuah karikatur yang lucu, karena selain pembuatnya tak pernah tahu wajah Nabi yang sebenarnya, gambar karikatur di koran itu lebih mirip dengan wajah Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah atau wajah kebanyakan para lelaki India.

oleh Rusdi Mathari
MATA melotot, kumis tebal melintang menyatu dengan kumis, alis lebat dan serbannya diikat dengan padat dan digambarkan sebagai bola dunia. Di atas serban ada sebuah gambar bom dengan sumbu menyala, dan di tengahnya ada lafal Arab bertuliskan “Laa Ilaha Illa Allah Muhammadur Rasulullah”— tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Itulah karikatur imajinasi dari Kurt Westergaard, kartunis koran Jylland-Posten yang sejak Rabu (13 Februari 2008) dimuat kembali oleh Jylland-Posten dan 17 koran Denmark yang lain (lihat “Murder plot against Danish cartoonist,” Jylland-Posten, 12 Februari 2008)

Entah dari mana asal-usulnya, karikatur itu lantas disebut sebagai wajah Nabi Muhammad karena bahkan ditafsirkan secara paling bebas sekalipun, wajah dalam karikatur itu lebih mirip dengan wajah Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah (lihat juga geocities.com) atau wajah kebanyakan lelaki keturunan India atau Pakistan (lihat Fotos Von, ahmadiyya.at).Bedanya foto Mirza tidak dengan mata melotot.

Barangkali di sanalah letak kelucuan karikatur Westergaard itu: mencoba berimajinasi terhadap sesuatu yang tidak pernah dijumpai dan dilihatnya dan kemudian memang keliru sama sekali. Para redaktur koran-koran yang memuat gambar itu berpendapat, pemuatan ulang karikatur itu sebagai sikap tegas untuk mendukung kebebasan berbicara.

Karikatur itu pulalah yang dua tahun lalu menyulut aksi protes sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, di banyak negara: Mesir hingga Somalia, Palestina-Turki, Iran-Afghanistan, India hingga Indonesia. Jylland-Posten yang memuat karikatur itu pada 30 September 2005, dianggap menghina Nabi, melecehkan Islam dan sebagainya. Hingga Februari 2006, korban tewas akibat aksi protes itu mencapai 6 orang; lima orang mati di Afghanistan dan satu remaja tewas di Somalia. Semuanya tewas ditembak oleh polisi (lihat “Protes Kartun Nabi Telan Korban,” syirah.com 7 Februari 2006).

Nabi Muhammad adalah sosok yang disanjung dan menjadi panutan seluruh umat Islam. Lahir di Mekkah, Muhammad terlahir dari garis keturunan Nabi Ibrahim as. (lihat juga Jewish Virtual Libabry). melalui Nabi Ismail as. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Ismail sendiri berarti “Tuhan telah mendengar”. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.

Dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik yang ditulis oleh Martin Lings, asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum— pribadi dan perilaku Nabi secara lahiriah, digambarkan sebagai pria yang tampan, santun, jujur, dan cerdas. Beberapa hadis juga mengungkapkan hal yang sama. Salah satu sebab orang-orang Quraisy (salah satu suku yang paling keras menentang ajaran Muhammad) tak mampu mengusir dan mengucilkan Nabi, karena perilaku Muhammad yang santun, jujur, dan cerdas bahkan sejak kanak-kanak. Sehingga dalam semua persoalan, mereka yang menentang keras Muhammad pun selalu meminta Nabi untuk menjadi penengah atau pemutus perkara.

Keterangan Lings tersebut, niscaya juga berlaku pada semua nabi dan orang-orang saleh yang lain. Pada mereka seolah berlaku ketetapan bahwa ucapan dan perbuatan kadarnya sama benar. Tidak ada misalnya, sejarah dari para nabi dan orang-orang saleh, apa pun agama yang dibawa oleh mereka, kemudian antara ucapan dan perbuatannya tidak sesuai apalagi misalnya mengajarkan kebencian dan permusuhan. Wajah mereka, semuanya juga digambarkan sebagai wajah yang teduh, sehingga membuat banyak orang merasa aman berada di samping mereka atau diputus perkaranya oleh mereka.

Berdasarkan beberapa hadis, persoalannya, ajaran Islam melarang orang membuat gambar dan menyimpannya. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dikabarkan oleh Bukhari, yang menyebut, “Bahwasanya Nabi ketika melihat gambar-gambar di rumah, beliau tidak mau masuk sebelum gambar itu dihapus.” Apa alasan Nabi waktu itu, hal itulah yang tak diterangkan oleh hadis tersebut sehingga penafsirannya juga bisa beraneka macam.

Ada sebuah cerita yang menarik waktu Nabi memasuki Mekkah untuk kali pertama sejak dia berpindah (hijrah) ke Madinah. Ketika mendekati Ka’bah, semua patung yang mengelilingi Ka’bah dirubuhkan olehnya. Nabi lalu masuk ke dalam Ka’bah, di belakangnya ikut masuk Ustman bin Thalhah dan Bilal ibn Ribah atas ajakan Nabi. Pintu Ka’bah kemudian dikunci kembali.

Diterangkan oleh Lings, selain gambar Perawan Maria, Yesus, dan sebuah lukisan seorang lelaki tua yang digambarkan sebagai Ibrahim, dinding bagian dalam Ka’bah dipenuhi berbagai gambar tuhan berhala. Nabi dengan hati-hati meraba gambar-gambar itu dan menyuruh Ustman agar menghapus semuanya kecuali gambar Ibrahim. Penjelasan Lings ini, terutama merujuk kepada Kitab al Maghazi, seputar dakwah-dakwah Nabi yang ditulis oleh Muhammad ibn ‘Umar al Waqidi meskipun menurut Lings, dalam riwayat yang lain, Nabi menyuruh Utsman menghapus semua gambar tanpa kecuali.

Sebagian ulama karena itu lalu sepakat bahwa tentang pelarangan gambar oleh fikih Islam, terutama dimaksudkan agar tidak ada usaha untuk mengultuskan seseorang atau individu bahkan jika seseorang atau individu itu adalah seorang nabi sekali pun. Konteksnya adalah kelakuan orang-orang pagan Quraisy yang cepat bahkan terlalu cepat, menjadikan “sesuatu” (dari gambar atau patung) sebagai sesembahan mereka. Sementara Nabi membawa ajaran yang mengajak manusia untuk hanya mengultuskan Tuhan, bukan yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan, Nabi sebenarnya mengajak manusia untuk selalu mengasah dan mengutamakan rohani ketimbang meributkan persoalan lahiriah yang tampak, seperti gambar dan patung-patung dari kaum pagan saat itu. Tidakkah agama memang sebuah ajaran yang mendasarkan pada kekayaan rohani agar dari sana kemudian terbentuk perilaku lahiriah?

Selain hadis dari Bukhari itu, tidak ada hadis yang secara langsung dan terang menjelaskan hal itu. Tidak juga di dalam al Quran. Namun jika Nabi sendiri sudah menghapus semua gambar di Ka’bah maka logikanya lukisan atau gambar tentang dirinya juga dilarang. Kira-kira begitulah pendapat sebagian ulama, meskipun perdebatan tentang hal itu tidak akan pernah selesai, tentu saja.

Lalu bagaimana dengan karikatur dari koran Denmark itu? Pada suatu hari, datanglah Jibril kepada Nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah akibat dihujani lemparan batu oleh penduduk Thaif yang tak bersedia menerima ajarannya. “Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan berkata kepada Jibril, “Tidak Jibril, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu. Kalau mereka musnah bagaimana ajaran Allah akan aku sampaikan kepada mereka.” Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk Thaif.

Bukan sekali itu Nabi memperoleh perlakuan sadis melainkan hampir setiap hari sepanjang hidupnya. Pernah seorang Yahudi selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya, setiap kali Muhammad akan lewat di depan rumah itu menuju masjid. Lalu dari atas rumahnya si Yahudi selalu menyiramkan kotoran unta kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula, Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Muhammad sampai ke masjid tanpa mendapat siraman kotoran dari si Yahudi.

Sepulang dari masjid bertanya Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” kata para tetangga. Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk dan ketika menemui si Yahudi yang sedang terbaring tak berdaya, Muhammad berkata, “Aku berdoa agar engkau cepat sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramku dengan kotoran unta.” Si Yahudi lalu menangis dan setelah sembuh, dia selalu menceritakan tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.

Maka karikatur dari Jylland-Posten yang katanya menggambarkan Nabi Muhammad itu, tak perlu disikapi dengan sangat reaktif apalagi dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Muhammad tak akan pernah berkurang hanya karena sebuah gambar yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghinanya maupun yang menyanjungnya. Perilaku yang melecehkan dan mengecilkan peran Nabi, sesungguhnya tak akan pernah berhenti bahkan ketika orang-orang Islam sudah mencontoh perilaku Nabi sekali pun. Pemuatan karikatur itu juga tak menggambarkan atau mewakili seluruh pendapat dari orang Denmark (lihat “Warga Denmark Protes Publikasi Kartun Pelecehan Nabi Muhammad Saw,” eramuslim.com 14 Februari 2008)

Maka lihat dan amatilah, wajah di karikatur itu pun, sesungguhnya sama sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis yang juga diakui kaum orientalis sebagai wajah yang penuh keteduhan. Westergaard, pembuatnya, sekali lagi hanya berimajinasi dan celakanya imajinasi itu memang keliru besar karena tampaknya dia memang tak pernah punya bayangan dan referensi sama sekali akan wajah dan perilaku Nabi melainkan hanya mencocokkan gambar wajah dari Mirza Ghulam Ahmad. Westergaard, seharusnya banyak belajar kepada almarhum Affandi tentang imajinasi melukis wajah atau kepada GM Sidharta tentang imajinasi menggambar karikatur.

*Artikel terkait “Wajah Nabi Muhammad.”

Iklan