I Gede Winasa-http://www.winasa.info/

Usul Ikranegara menarik dan perlu didukung. Di milis Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia, aktor yang kini tinggal dan mengajar di Amerika Serikat itu mengusulkan agar mulai mewacanakan I Gede Winasa sebagai calon Presiden RI 2009. Alasan Ikranegara sederhana: Di Jembrana, Bali, Winasa menggunakan uang negara hanya untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan pribadi. Siapa Winasa?

oleh Rusdi Mathari

LAHIR di Denpasar 9 Maret 1950, Winasa adalah doktor lulusan Universitas Airlangga, Surabaya, yang menjabat sebagai Bupati Jembrana sejak 2000. Pembawaannya kalem, tidak mentang-mentang, dan selalu menyenangkan. Semenjak menjabat Bupati Jembrana, sejumlah terobosan yang sangat pro rakyat, banyak dilakukan Winasa. Dialah kepala daerah pertama dan mungkin satu-satunya di Indonesia yang membebaskan seluruh biaya pendidikan dari SD hingga SMU. Benar-benar gratis, bukan retorika seperti yang dilakukan di beberapa daerah misalnya di DKI Jakarta. Semua sekolah negeri di Jembrana, sama sekali tak ada pungutan atas nama apa pun dari sekolah.

Para siswa yang berasal dari keluarga tak mampu dan bersekolah di swasta, Pemkab Jembrana memberikan beasiswa bagi mereka, tanpa syarat apa pun. Kebijakan Winasa itu bertentangan dengan pemberian beasiswa yang lazim selama ini, yang hanya memberikan subsidi kepada para murid yang berprestasi. Semua itu dimungkinkan, karena Winasa benar-benar menjalankan amanat UUD 1945: menganggarkan biaya untuk pendidikan minimal 20 persen. Di Jembrana, Winasa bahkan menganggarkan dana untuk pendidikan hingga 34 persen dari APBD.

Jika ada warga sakit apalagi yang tidak mampu, tak perlu takut tidak bisa berobat karena semua dokter di Jembrana telah diinstruksikan memberikan pelayanan gratis berikut pemberian obat-obatnya. Dan orang-orang miskin yang kemudian berobat di rumah sakit, benar-benar dirawat layaknya orang yang membayar dan sama sekali tidak dipungut uang apa pun. Bandingkan kenyataan itu, misalnya dengan kebijakan di DKI Jakarta, di mana banyak orang miskin yang berobat gratis ke rumah sakit lalu dipersulit, disepelekan dan kemudian masih dipungut macam-macam biaya.

Untuk pengurusan dokumen kependudukan, mulai dari KTP, kartu keluarga, akta kelahiran, dan sebagainya juga dikeluarkan secara gratis dan ditambah dengan asuransi kematian. Di DKI Jakarta, menurut aturan, pembuatan dan perpanjangan KTP memang gratis. Namun sudah bukan rahasia lagi, petugas di kelurahan dan kecamatan masih sering mengutip uang dari warga untuk keperluan semacam itu, atau urusannya jadi berbelit. Sementara para pejabat di atasnya juga seolah merem, pura-pura tidak tahu praktek pungli di kelurahan dan kecamatan, juga di kantor walikota

Petani di Jembrana juga bisa sedikit menyimpan hasil taninya, karena di sana mereka dibebaskan untuk membebaskan PBB sawah. Para petani itu juga diberikan dana talangan pada saat musim panen tiba. Winasa bahkan mengupayakan terobosan dalam penyediaan kesempatan kerja dengan cara penguatan profesi yang sudah ada di bidang pertanian dengan memberikan fasilitas modal melalui dana bergulir dan mengikutsertakan mereka dalam program magang ke Jepang dan Malaysia dan beberapa negara lain. Tentang keunggulan Pemkab Jembrana dan keberpihakan Winasa terhadap kesejahteraan rakyat, selengkapnya bisa dilihat di http://www.winasa.info atau www.jembranakab.go.id.

Tahun ini Winasa mendapat penghargaan Tiga Pilar Award 2007 dari Tiga Pilar Kemitraan, forum penggiat anti korupsi yang digagas oleh multistakholder tiga unsur yakni penyelenggara pemerintahan, dunia usaha dan masyarakat madani (civil society). Di dalamnya ada unsur KADIN, Kementerian PAN, Masyarakat Transparansi Indonesia, Indonesia Procurement Watch, Indonesia Partnership dan Transparancy International Indonesia. Oleh Tiga Pilar Kemitraan, Winasa dinilai memiliki semangat anti korupsi yang luar biasa yang berhasil membersihkan pemerintahannya dari upaya korupsi.

Winasa juga dinilai telah berhasil menerapkan manajemen pemerintahan yang terbukti mampu mencegah upaya korupsi serta mendorong lembaga pemerintahan lainnya untuk mencegah korupsi seperti halnya Jembrana. Penularan anti korupsi selalu dilakukannya pada saat memberikan penjelasan kepada tamu-tamunya yang melakukan studi banding ke Jembrana yang jumlahnya mencapai 900 kunjungan. “Di tengah kondisi bangsa yang saat ini seakan dipenuhi oleh koruptor, Pak Winasa layak menjadi panutan bagi masyarakat dan pemimpin bangsa,” kata Zulfikar Albar, Sekjen Tiga Pilar Kemitraan (lihat “Prof. Winasa Dapat Anugerah Anti Korupsiwww.jembranakab.go.id 4 Februari 2008).

Karena prestasi Winasa yang langkah itulah, Ikranegara lalu mengusulkan agar Bupati Jembrana itu perlu diusung dan didukung sebagai nama calon Presiden RI. Usulan yang menarik dan harus dicoba, di tengah apatisme publik terhadap kondisi negara dan bangsa yang kian hari kian tak keruan: korupsi, premanisme, pejabat hanya mementingkan partai dan kelompoknya, dan sebagainya. Mungkin akan ada penentangan, terutama dari kaum status quo –dari rezim Orde Baru dan rezim Reformasi- dan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama dan sebagainya.

Namun tampaknya menurut Ikranegera, bangsa ini memang perlu melakukan sebuah terobosan untuk menembus pemeo politik yang sudah tidak sesuai dengan UUD 1945. Pemeo politik itu misalnya, mengharuskan presiden itu harus dari “suku tertentu” dan “agama tertentu.” “Aturan main yang diadatkan di bidang politik dan pemerintahan semacam itu sudah waktunya dihapus karena tidak sesuai dengan UUD kita,” tulis Ikranegera.

Usulan Ikranegara terutama “diilhami” oleh keberhasilan Barack Obama, yang melesat sebagai calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Di Amerika ada semacam pemeo politik yang serupa dengan di Indonesia. Di negara itu, syarat tidak tertulis dari seorang calon dan Presiden Amerika adalah harus beragama Kristen Protestan dan berkulit putih. Dalam sejarahnya, Amerika memang hanya sekali memiliki presiden beragama Katolik, yaitu John Fitzgerald Kennedy tapi itu pun tak lama, karena Kennedy akhirnya mati ditembak. Sebagai warga kulit hitam, peluang Obama niscaya memang jauh lebih kecil untuk keluar sebagai kandidat presiden tapi terbukti Obama dan pendukungnya bisa.

Menurut Winasa keadaan bangsa Indonesia masih jauh dari sejahtera, karena itu dia mengajak agar semua orang berperilaku sebagaimana seharusnya. “Saya pikir apa yang saya lakukan merupakan hal yang semestinya dilakukan oleh pemimpin,” kata Winasa usai menerima penghargaan Tiga Pilar Award 2007 yang diserahkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI, Taufik Effendi di Balai Serbaguna Kementerian Negara PAN, Jakarta, 31 Januari silam.

Winasa juga berpendapat bahwa perilaku korupsi disebabkan oleh dua faktor utama yang saling bertemu dan bersinergi yaitu keinginan dan kesempatan. Jika dua faktor bertemu maka akan bersinergi, sehingga jadilah korupsi. Winasa, karena itu percaya bahwa pencegahan korupsi harus menyentuh dua hal tersebut dan untuk mengatasinya, Winasa mengaku belajar dari filsafat air. Karena hanya air bersih yang menurutnya dapat membersihkan sesuatu yang kotor. “Pemerintah saya ibaratkan sebagai sumber air sehingga harus pertama-tama berperilaku bersih,” kata Winasa.

Dalam memerangi korupsi, Winasa karena itu lebih mengedepankan aspek pencegahan terjadinya korupsi ketimbang pemberantasan. “Saya ini dokter, kalau dokter kan bilang selalu lebih baik mencegah daripada mengobati. Nah itu juga saya lakukan dalam mengatasi korupsi,” kata Winasa.

Maka ide Ikranegara untuk mengusung nama Winasa menjadi calon Presiden RI pada Pemilu 2009, sekali lagi memang perlu didukung. Bangsa ini sudah terlalu bosan dengan sandiwara dan perselingkuhan politik antar para penguasa (juga para pengusaha) dan karena itu memerlukan perubahan drastis di semua lini kehidupan, kecuali kita memang tak mau bangun dari mimpi buruk.

Iklan