Tari Liong-iklantiming.com

Kamis ini adalah hari Cap Go Meh, sebuah perayaan yang pada masa sekarang tak lagi sekadar untuk memperingati kelahiran Siang Goan Thian Koan, dewa penguasa langit dan bumi, memohon ampun; berkunjung kepada kerabat; dan upacara untuk mengusir musim kering– melainkan sudah menjadi media untuk tujuan wisata dan bertransaksi bisnis dengan nilai yang mungkin tak bisa dianggap kecil.

oleh Rusdi Mathari

DATANG ke areal Jakarta International Expo di Kemayoran, Jakarta, Sabtu malam, pekan lalu saya disergap Barongsai dan Liong yang meliuk-liuk dengan tetabuhan yang berisik dan pesta kembang api. Anak-anak muda yang membawakan tarian itu, terlihat begitu lentur dan bersemangat. Olah tubuh mereka tampaknya hasil dari latihan sekian lama. Dung dung teng, dung dung teng, Barongsai dan Liong berputar-putar, mengelilingi lapangan yang berada di tengah JIExpo sebelum kemudian masuk ke areal di dalam gedung, seolah hendak memberi restu.

Sejauh mata memandang, yang tertangkap adalah dominasi warna merah menyala: Lampion kecil, lampion besar dengan berbagai bentuk mulai dari tikus raksasa hingga perahu besar yang bertengger di tengah lapangan, gantungan dan hiasan lain. Cina, suasana dan budayanya seolah pindah ke Kemayoran. Dung dung teng, dung dung teng, Barongsai dan Liong terus berputar-putar.

Festival Cap Go Meh begitulah bacaan yang tertera di spanduk dan baliho yang di pasang di areal JIExpo. Festival ini jauh dari suasana sakral seperti yang umum disaksikan di kelenteng-kelenteng ketika merayakan Cap Go Meh. Tak ada aroma hio, bunyi lonceng, dan doa-doa dari para tokoh agama kelenteng karena Festival Cap Go Meh di JIExpo, 90 persen adalah sarana hiburan dan ajang bisnis, tentu saja. Di festival itu Barongsai dan Liong hanyalah pemikat atau simbol, selebihnya adalah 100 persen usaha dagang.

Maka ketika masuk ke dalam gedung-gedung beratap tinggi dan luas di arena Festival Cap Go Meh itu, ratusan pramuniaga dari 300 ratusan gerai kurang lebih, akan menyambut pengunjung dengan ratusan jenis dagangan. Separuh dari gerai-gerai itu memang menjual barang atau aksesori yang “berbau” Cina; lampion, giok, pedang Cina, dan chong sam tentu saja—baju perempuan khas Cina berwarna merah menyala. Sisanya menjual barang-barang sehari yang sering ditemui di pasar atau mal: sepatu, sandal, barang elektronik, dan sebagainya. Sebagian dari mereka membuka stand kesehatan mulai pijat refleksi hingga alat elektronik yang katanya bisa menghasilkan air murni.

Perayaan Cap Go Meh pada masa sekarang kelihatannya memang tak lagi sekadar untuk memperingati kelahiran Siang Goan Thian Koan dewa penguasa langit dan bumi, membagi kue keranjang, berkunjung kepada kerabat dan upacara untuk mengusir musim kering. Ia sudah menjadi media untuk tujuan wisata dan bertransaksi bisnis dengan nilai yang mungkin tak bisa dianggap kecil. Tahun lalu, JIExpo mencatat terjadi transaksi bisnis hingga Rp 1,8 miliar pada perayaan festival serupa dan tahun ini, transaksi ini diharapkan bisa melonjak hingga dua kali lipat dari hasil tahun lalu itu. Dan ajang serupa tak hanya berlangsung di Jakarta dan kota-kota lain seperti Bogor, Tangerang, atau Singkawang, melainkan juga di beberapa negara.

Cap Go Meh adalah hari kelima belas dari tahun baru Imlek sehingga karena itu Cap Go Meh disebut pula sebagai malam pertama bulan purnama pertama pada setiap tahun. Tahun ini acara itu jatuh pada 21 Februari. Di Cina, perayaan Cap Go Meh lebih dikenal dengan sebutan Pesta Goan Siauw. Perayaan secara besar-besaran pernah dilakukan pada zaman Tong (Tang) tepatnya di masa Kaisar Tong Jwee Cong (710-712) yang konon membuat replika pohon yang dihiasi oleh 50 ribu lilin.

Tapi perayaan Cap Go Meh ternyata tidak berdiri di atas sejarah yang tunggal. Masyarakat Cina bahkan mengenal ada tiga versi Cap Gomeh. Versi pertama menyebut Cap Go Meh dimaksudkan untuk memperingati hari lahir Siang Goan Thian Koan. Dia adalah dewa yang memerintah bumi dan langit. Pada hari Cap Go Meh, Siang Goan Thian Koan turun ke bumi untuk mengampuni umat manusia.

Versi yang kedua menyebutkan Cap Go Meh dirayakan sebagai pesta musim bunga terbesar untuk menghormati matahari yang muncul pada musim dingin. Maka hari itu orang-secara beramai-ramai akan mengadakan permainan Barongsai, Liong ataupun Kilin sebagai lambang musim bunga, hujan dan kesuburan pada malam purnama. Cap Go Meh dirayakan dengan memasang lampion berwarna-warni sambil menikmati bulan yang terang.

Adapun versi lainnya, menyebut Cap Go Meh sebagai perayaan untuk bertobat atau memohon ampunan agar manusia dijauhkan dari musim paceklik. Versi ini terutama didasari cerita tentang seorang raja yang telah melakukan kesalahan karena telah memecahkan botol seorang pertapa Botol yang dilarang untuk dibuka itu, ternyata adalah peristirahatan Dewa Kekeringan. Si pertapa lalu kesal dengan kelakuan rajanya. Dia lantas meninggalkan negerinya yang sejak itu dilanda kekeringan. Untuk menebus kesalahan, raja lalu berpuasa selama 40 hari 40 malam. Di akhir puasanya, hujan pun turun dan itu dipercaya sebagai awal dari kemakmuran.

Puncak acara Festival Cap Go Meh di JIExpo akan terjadi pada 21 Februari malam hari. Tapi pada malam itu, akan sulit bisa menyaksikan bulan purnama itu di langit Jakarta karena mendung yang disertai hujan, sudah selama dua pekan terus menutup langit. Dewa Kekeringan dalam botol itu, tampaknya memang sudah pergi jauh meskipun kekeringan moral dan perilaku tetap saja terjadi di negeri ini. Dung dung teng, dung dung teng, Barongsai dan Liong yang mendekat ke arah saya lalu membuyarkan lamunan saya tentang dewa yang katanya memberikan kemakmuran itu.

Iklan