M Jusuf Kalla-www.indonesia-ottawa.org

Salah satu tanda membaiknya ekonomi Indonesia adalah jalanan di Jakarta yang macet, karena semakin banyaknya mobil. Semakin macet, itu berarti semakin banyak orang yang memiliki mobil. Pemadaman listrik juga berarti semakin banyak orang yang menggunakan AC. Itu kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Seoul. Akan tetapi di London, seorang pejabat PBB menyatakan Indonesia adalah salah satu negara yang rakyatnya, banyak mengalami kelaparan.

Oleh Rusdi Mathari

PAK Kalla yang terhormat, saya percaya, Anda tentu tidak bermaksud bermain-main dengan pernyataan yang disampaikan di depan masyarakat Indonesia di Korea Selatan yang berkumpul di Kedutaan Besar Indonesia di Seoul (lihat “Jangan Suka Cela Negara Sendiri-Wapres Kunjungi Korea Selatan,” Kompas, halaman 2, 25 Februari 2008). Akan tetapi sulit untuk tak mengatakan, bahwa Anda terlalu menggampangkan persoalan. Pernyataan Anda mirip dengan pernyataan Menteri Olahraga dan Pemuda di zaman Orde Baru yang mengatakan olahraga golf sebagai indikator kemakmuran bangsa.

Bahwa semakin banyak mobil berseliweran di Jakarta dan juga kota-kota besar lain, adalah fakta yang sulit dibantah. Produksi kendaraan bermotor beroda empat hingga September 2007, misalnya, sudah naik 30 persen sehingga jumlahnya menjadi 300 ribu unit dibandingkan produksi setahun sebelumnya. Bahkan menurut Menteri Perindustrian Fahmi Idris, pada 2007 itu daya serap pasar domestik sudah tumbuh menjadi 40 persen. “Sehingga pada akhir 2007, penjualan secara kumulatif mencapai 318 ribu unit,” kata Fahmi (lihat “Produksi Mobil 2007 Naikhttp://www.tempointeraktif.com, Selasa 6 November 2007)

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia alias Gaikindo menyebutkan, penjualan mobil 2007 bahkan mencapai angka 434.449 unit, sementara penjualan pada 2006 hanya mencapai 318.904 unit. Data Gaikindo juga memperlihatkan hampir semua merek mobil memperoleh kenaikan penjualan. Tiga merek mobil berhasil mencatatkan peningkatan pangsa pasar, yakni Daihatsu, Nissan, dan Mazda (lihat “Pasar Mobil 2007 Naik 36,2%,” http://www.opinimasyarakat.com, 17 Januari 2008)

Dari data statistik diketahui pula berbagai indikator ekonomi makro saat ini disebut-sebut lebih baik dibandingkan dengan masa-masa awal krisis ekonomi. Antara lain, ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terus berjalan, inflasi yang semakin rendah, transaksi berjalan surplus, dan cadangan devisa yang terus bertambah. Ekonomi mikro pun dikatakan telah membaik melalui isyarat rasio kecukupan modal perbankan yang sudah mencapai 20,29 persen dengan kualitas kredit yang katanya juga jauh lebih baik dibandingkan kondisi sepuluh atau sebelas tahun silam. Lalu dengan semua indikator itu, sudahkah kondisi perekonomian semakin membaik seperti kata Anda?

Benar, mobil sudah banyak diproduksi dan terbukti banyak yang laku, tapi siapa yang membeli. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sejak awal memang sudah kaya dan membeli mobil baru bagi mereka adalah sebuah keniscayaan yang antara lain, misalnya, untuk menambah jumlah mobil di garasi rumah mereka. Sebagian lagi membeli mobil karena kemudahan kredit yang diberikan oleh banyak lembaga pembiayaan termasuk bank. Golongan yang satu ini, sesungguhnya tak sanggup membeli mobil tapi karena ada fasilitas kredit mereka memaksakan diri. Celakanya dengan tingkat suku bunga kredit yang aduhai mahal, sebagian besar dari mereka kemudian juga tak sanggup mencicil pembayaran pelunasan kredit mobilnya (lihat “Kredit Macet Kendaraan Bermotor,” Republika, 08 Juni 2006).

Indikator ekonomi adalah sebuah instrumen yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan ketidakberhasilan pembangunan yang dilakukan oleh sebuah negara. Tujuannya antara lain untuk memantau perilaku perekonomian, kepentingan analisis, dasar untuk mengambil keputusan dan dasar perbandingan internasional. Pada awalnya, indikator pembangunan yang paling dikenal adalah produk kotor domestik atau GDP. Ini adalah indikator untuk tentang nilai uang atau nilai moneter semua barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara pada suatu periode tertentu. Meliputi konsumsi, belanja atau pengeluaran pemerintah, investasi, serta ekspor bersih (ekspor dikurangi impor). GDP merupakan indikator yang baik untuk menilai kesehatan ekonomi suatu negara. Dan biasanya diukur secara tahunan, meskipun perhitungan bulanannya juga diumumkan. Namun seiring kemajuan zaman dan semakin rumitnya masalah yang dihadapi maka muncul indikator-indikator pembangunan yang lain.

Apa pun namanya, indikator ekonomi hanyalah sebuah data yang bisa tepat dan juga bisa tidak tepat. Dalam beberapa kasus, antara data dan realitas bahkan sering bertentangan dan kontradiktif. Dulu selama hampir satu dasawarsa, antara periode 1990-2000, pernah disebutkan bahwa pendapatan penduduk dunia meningkat hingga 2,5 persen. Faktanya penduduk miskin dunia yang hidup dengan kemiskinan bertambah hingga 100 juta orang.

Untuk kasus di Indonesia, merangkaknya indikator GDP ternyata juga tidak otomatis menurunkan tingkat pengangguran. Selama tiga tahun (2002-2004) indikator GDP menunjukkan peningkatan. Jika pada 2002 hanya 4,38 persen, pada 2003 menjadi 4,88 persen dan kemudian menjadi 5,13 persen. Namun di sisi lain, tingkat pengangguran juga semakin bertambah: dari 9,06 persen pada 2002, menjadi 9,5 persen pada 2003, dan pada 2004 kembali meningkat menjadi 9,86 persen.

Lantas ketika di Seoul itu, Anda sesumbar bahwa perekonomian Indonesia sudah membaik, Direktur Program Pangan PBB, Josette Sheeran di London mengatakan penduduk Indonesia banyak yang mengalami kelaparan. Kondisi rakyat Indonesia bahkan disamakan dengan kondisi kelaparan yang dialami oleh rakyat Meksiko dan Yaman. Salah satu penyebabnya adalah naiknya harga-harga pangan yang bahkan mencapai empat puluh persen pada tahun lalu. Kenaikan harga-harga itu terutama dipicu oleh adanya kenaikan permintaan dari negara-negara berkembang dan karena kenaikan harga minyak (lihat “UN poised to ration food aid as prices soarFinancial Times, 25 Februari 2008)

Penyebab lainnya banyak. Antara lain semakin banyaknya kelompok masyarakat yang lain yang menjadi semakin makmur setelah dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini diperparah oleh pertambahan populasi sehingga membuat permintaan akan bahan pangan semakin besar, termasuk daging dan harga-harga biji-bijian yang digunakan sebagai bahan pakan ternak juga ikut naik. Kondisi itu juga disebabkan oleh penggunaan bahan bakar bio yang dipakai untuk angkutan merupakan faktor lain yang membuat bahan pangan itu meningkat dan harga naik.

Pak Kalla, Anda mungkin saja benar dengan pernyataan Anda tapi saya juga percaya Sheeran juga tidak sedang membual, tentu saja. Lalu mana yang fakta, dan mana yang hanya data di atas kertas? Bagi rakyat seperti saya, yang semakin hari semakin merasakan beban ekonomi yang terus berat, pernyataan Anda bukan saja menggampangkan persoalan melainkan juga terlalu “lucu.” Anda, Presiden SBY dan para pejabat pemerintah yang lain, tak pernah merasakan sumpeknya kendaraan umum kami karena Anda selalu di dalam mobil mewah ber-AC dan dikawal mobil patroli; tak pernah merasakan para istri kami berutang kepada tukang sayur; tak pernah merasakan anak-anak kami belajar di sekolah yang atapnya terbuka; tak pernah merasakan penderitaan teman-teman kami yang digusur dagangannya.

Daripada Anda melucu, akan lebih baik bila Anda dan tentu Presiden SBY secepatnya menyelesaikan pengusutan korupsi BLBI, menekan Aburizal Bakrie agar bertanggung jawab atas kasus lumpur Lapindo, memberhentikan Nurdin Halid sebagai Ketua PSSI, dan menghentikan kebohongan-kebohongan para pejabat dan pengusaha. Soal bagaimana kami akan makan dan bertahan hidup di Republik Indonesia, biarlah kami mencari dan mengurusnya sendiri.

Iklan