Halaman Sebuah Situs Internet-www.opinimasyarakat.com

Para guru di Inggris menyatakan prihatin bahwa belakangan banyak murid mereka menjiplak tulisan yang dimuat di situs internet. Kini aparat pendidikan Inggris terus melakukan berbagai perubahan dan perbaikan untuk mengimbangi imbas kemajuan teknologi yang sangat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan bernama internet itu.

Surat dari London (BBCIndonesia.com)

Teknologi informasi seperti telepon genggam yang semakin canggih dan situs internet yang marak sudah jelas banyak sekali manfaatnya. Akan tetapi kita juga sudah mendengar akan bahayanya yang besar apabila disalahgunakan. Beberapa waktu yang lalu seorang guru kenalan saya di Jakarta mengeluhkan penggunaan telepon genggam di kelas oleh muridnya. Hal seperti ini juga terjadi di Inggris dan barangkali di banyak negara lain. Tak pelak lagi ada murid yang memanfaatkan untuk saling kirim teks pendek dan saling menyontek. Tetapi dengan kebijakan keras melarang telepon genggam di kelas, persoalan ini bisa diredam.

Namun membungkam telepon genggam rupanya tidak mengakhiri persoalan contek-menyontek di kalangan siswa. Para guru di Inggris menyatakan prihatin bahwa belakangan banyak murid mereka menjiplak tulisan yang dimuat di situs internet.

Menurut sebuah survey Perhimpunan Guru dan Dosen wilayah England, Wales dan Irlandia Utara, lebih dari separuh jumlah pengajar yang mereka survey menuturkan tentang parahnya masalah penjiplakan atau plagiarisme ini. Seorang guru memberi contoh ketika dia memberi tugas muridnya untuk membuat karya tulis yang membahas kisah Romeo dan Juliet, ada dua siswa yang sangat terlambat menyerahkan tugas.

Ibu Guru ini terkesima ketika melihat kedua tulisan yang diterima persis sama isinya. Dan, sebagai guru yang mengenal betul kemampuan muridnya, dia merasa karya tulis yang baru saja diserahkan itu terlalu bagus untuk kedua muridnya tersebut.

Ada pula murid yang barangkali saking bersemangat menjiplak sampai dia memindahkan kalimat-kalimat dari internet itu dengan cara copy dan paste, tetapi lupa menghapus iklan yang menghiasi halaman internet. Ini benar-benar terjadi, seperti dituturkan oleh seorang guru dari kota Leeds. Barangkali ini cerita yang menggelikan dan sekaligus menyedihkan.

Sebelum menghakimi para pelajar, pasti banyak sekali pertanyaan di benak para guru mereka; apakah para siswa melakukan karena kemalasan, kebodohan atau kesengajaan melanggar aturan? Ada guru yang berpendapat sebagian besar murid melakukan penjiplakan atau plagiarisme tanpa maksud untuk menipu, melainkan ketidaktahuan kalau plagiarisme tidak hanya melanggar etika namun juga salah.Kalau ditanya, anak-anak muda itu mengatakan ingin sekali berhasil atas usaha sendiri.

Menurut survey, sebagian besar murid tidak memahami arti kata plagiarisme dan tidak tahu bahwa menyunting mentah-mentah dari halaman situs internet lain merupakan tindakan plagiat. Mereka tidak menyadari bahwa keterampilan mereka sendiri jadi tak terasah akibat tindakan mencaplok karya orang lain. Dan, namanya mencaplok karya orang lain –mentah-mentah dan tanpa izin pula— tentu tidak bisa dibenarkan.

Hampir semua pengajar yang ikut dalam survey itu mengkhawatirkan dampak jangka panjang plagiarisme. Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Guru dan Dosen, Dr Mary Bousted, survey ini menyoroti salah satu risiko dari terlalu banyaknya penekanan untuk lulus test dan mendapatkan nilai tinggi dengan berbagai cara.

Para murid itu, kata Dr Bousted, menggunakan segala cara yang ada untuk mendongkrak nilai mata pelajaran dan sering kali dengan mengorbankan perlunya pemahaman yang sesungguhnya terhadap topik yang mereka pelajari. Walaupun seandainya guru mereka tidak mendeteksi bahwa karya sang murid adalah hasil jiplakan –dan dengan murahnya memberikan nilai bagus– maka yang rugi adalah si murid. Soalnya nilai baiknya tidak merupakan pencerminan dari penguasaan atau pemahaman mata pelajaran yang ditekuni.

Karena itulah aparat pendidikan Inggris terus melakukan berbagai perubahan dan perbaikan untuk mengimbangi imbas kemajuan teknologi yang sangat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan.

*Dikutip secara lengkap dari BBCIndonesia.com berjudul “Guru Prihatin Murid Jiplak Internet” edisi 22 Januari 2008. Lihat juga “Bahaya Internet” dan “Dampak Buruk dari Ponsel

Iklan