Wajah Ken Dedes dalam patung-www.flickr.com
Mata saya tak sekalipun lepas memandang wajah dan tubuh Ken Dedes yang sekarang tepat berada di depan saya, tidur di dipan yang terbuat dari kayu jati. Permaisuri dari dua raja Singosari itu, yang selama ini hanya saya dengar dari cerita para guru sejarah dan hanya saya baca dari beberapa buku sejarah dan novel, ternyata memang jelita. Tuhan seolah menumpahkan semua kesempurnaan pada perempuan ini: Bibir tipis, hidung bangir, buah dada padat, leher jenjang, lengan halus, dan kulit langsat kuning dengan wangi yang tak habis saya hirup.

Oleh Rusdi Mathari
SUNGGUH tak keliru bila Tunggul Ametung, Ken Arok dan para lelaki di Singosari pada masa 1200-an begitu bernafsu untuk meniduri perempuan yang kemudian berjuluk Parameswari itu. Saya sampai harus menelan ludah ketika mata saya menatap urat-urat berwarna hijau yang samar di balik kulit lehernya. Dadanya naik turun.

Tak ada suara yang keluar dari mulut saya. Udara dingin yang masuk ke dalam ruangan berbatu kuno tempat saya berdiri saat ini, semakin membuat tenggorokan saya seperti tersekat oleh ribuan ludah kental. Saya lalu iseng mencoba mengulurkan tangan, mencoba meraba lengannya yang mulus ketika tiba-tiba Ken Dedes membuka matanya. “Apa yang engkau perhatikan pada diriku Rusdi?” kata Ken Dedes.

Saya terkejut dan malu meskipun sesungguhnya juga ingin tertawa mendengar ratu Jawa itu menyapa saya— orang yang memiliki nama Rusdi, sebuah nama yang sangat tidak Jawa dan pasti tidak ada nama seperti itu di zaman Singosari— tapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokan. Mulut saya hanya bisa tersenyum, atau lebih tepat disebut menyeringai. Malu. Tak percaya diri dan rasa bersalah menyergap batin. “Apa yang engkau perhatikan Rusdi?” kata Ken Dedes mengulangi.

“Tidak ada Yang Mulia, melainkan hanya mencocokkan cerita buku tentang kemasyhuran paras Yang Mulia dengan kenyataan yang saya lihat saat ini,” jawab saya.

“Lalu apa katamu?” tanyanya.

“Yang Mulia lebih cantik dari kata-kata dan kalimat yang ada pada buku dan lebih memesona dari ratusan patung diri Yang Mulia yang dibuat para pematung,” kata saya.

Saya semakin tertunduk tapi tetap berusaha mencuri pandang. Suara Ken Dedes yang pelan namun penuh dengan tekanan seolah telah menyihir saya menjadi patung. Dia bangun dari rebahan dan tangannya terlihat terangkat berusaha membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan. Dua bulatan di dadanya terlihat semakin menonjol, sekarang.

“Engkau lihatlah, manusia semacam diriku, pada masa apa pun hanya selalu menjadi dagangan,” katanya sembari mendekat ke arah saya. Saya semakin salah tingkah. Langkahnya khas perempuan Jawa, pelan, terukur, dan nyaris tanpa suara.

“Bahkan lelaki semacam dirimu, yang mengaku paling taat beragama dan berbakti kepada Tuhan, juga akan tak tahan untuk tidak menjadikan aku sebagai obyek semata.”

Sekarang saya diam, mungkin juga agak tersinggung. “Sok tahu benar Ratu Jawa ini menganggap saya orang yang taat beragama dan mengira saya juga bernafsu ingin menidurinya,” saya membatin. “Yang Mulia….” Saya mencoba memberanikan diri untuk menyela tapi jari telunjuk Ken Dedes memberi isyarat agar saya tak bersuara.

“Aku tahu Rusdi, ini bukan sepenuhnya kesalahan lelaki. Sikap lelaki semacam itu, sebagian juga disebabkan oleh perempuan itu sendiri yang selalu ingin mempercantik diri. Mungkin itu yang disebut kodrat. Sebagian perempuan itu, celakanya berdandan atau merias diri mereka hanya untuk terlihat menarik oleh para lelaki.

Di zamanku, ketika aku direngut paksa untuk dikawin oleh Tunggul Ametung- oleh perias pengantin kerajaan yang juga perempuan, aku pun ‘dipercantik’ dengan mangir, dibebat dengan wewangian dupa dan sebagainya, sekali lagi hanya agar penampilanku dapat memikat Tunggul Ametung, sosok lelaki yang sebenarnya tak pernah aku harapkan menjadi ayah dari anak-anakku bahkan jika itu ada dalam hayalan.

Kata Gede Mirah, perias kerajaan Singosari itu, agar wajahku tak terlihat pucat. Aku memang telah menangis selama empat puluh hari sebelum Tunggul Ametung merampas keperawananku, sejak lelaki itu menculikku dari desa. Akan tetapi dengan riasan dari Gede Mirah pada hari wadad pengantin itu, aku merasa tetap dijadikan obyek.

Pada zamanmu sekarang, aku bisa melihat semakin banyak perempuan yang berlaku dan diperlakukan semacam itu. Mereka yang berlaku secara sadar, sengaja berusaha mempercantik diri, memuluskan kulit, menebar pesona, agar makhluk yang bernama lelaki terpikat kepada mereka.

Itu juga tak sepenuhnya kesalahan para perempuan itu. Imaji yang sekarang diciptakan oleh banyak industri tentang sosok perempuan ideal yang harus cantik dan berkulit putih bersih, sedikit banyak telah ikut menyumbang perubahan perilaku para perempuan itu.

Mereka karena itu lalu mencoba berbagai kosmetik pemutih agar kulit mereka menjadi putih, melakukan operasi payu dara, menambal bokong agar terlihat sintal dan padat, melakukan diet dengan meminum jamu atau obat agar bentuk tubuh mereka tidak mekar dan sebagainya, seperti sihir reklame di koran, televisi dan radio itu.

Alasan para perempuan itu bermacam-macam. Mulai alasan ekonomis hingga psikologis tapi adakah semua itu dilakukan demi kepentingan perempuan itu sendiri, misalnya di depan cermin mereka lalu memuji-muji, ‘Aha wajahku putih, payudaraku berisi, bokongku padat?’ Kecuali perempuan narsis yang psikopat, menurutku semua usaha mempercantik diri itu ditujukan untuk satu maksud: memikat para lelaki.

Namun Rusdi, para lelaki, kaummu itu— sebagian besar memang hanya menjadikan perempuan sebagai obyek. Aku setuju dengan pernyataan Emmy Astuti, Sekretaris Wilayah-Sulawesi Tenggara Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi. Menurut dia, tubuh perempuan di era industrialisasi sudah dianggap komoditas yang dapat membawa keuntungan berlipat ganda.

Menjawab pertanyaan, bukankah perempuan melakukan semua itu dengan ikhlas tanpa paksaan sehingga karena itu apakah lantas bisa disebut sebagai eksploitasi— Emmy mengutip pendapat Myra Diarsi dari Komnas Perempuan. Kata Myra, ‘Eksploitasi harus ditinjau dari apa yang disebut relasi kuasa. Suatu perbuatan dianggap eksploitatif bila satu pihak dengan kekuasaan yang ia miliki mampu menggaruk, mencecap seluruh potensi yang dikuasainya, sehingga orang yang dikuasai teperdaya, tertipu, terperas. Jadi bukan soal tahu tidak tahu, sadar tidak sadar. Soal eksploitasi itu sendiri harus dikembalikan kepada korbannya. Di situ yang dilihat adalah soal kehendak. Jadi apakah yang ia lakukan betul-betul kehendak dia atau ada pihak yang berkuasa yang menentukan kontrak sepenuhnya.’

Berdasarkan pandangan Myra itu maka menurut Emmy, pelaku eksploitasi sangat jelas adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan yang menjadi korbannya adalah mereka yang rentan dan tidak berdaya, seperti perempuan dan anak-anak. Kekuasaan di maksud kebanyakan dikendalikan oleh para pemilik modal dan pengusaha dunia hiburan dan media, yang menggantungkan hidupnya dari komodifikasi tubuh perempuan dengan menonjolkan sisi-sisi sensualitas tubuh perempuan.

Emmy juga mengutip pendapat Andrea Dworkin dalam soal ini. Menurut Dworkin, ‘Di dalam budaya kita, tidak ada satu bagian pun dari tubuh perempuan yang tidak dijadikan obyek, tidak disentuh. Tidak ada satu bagian tubuh perempuan yang tidak terjamah oleh seni, kekerasan atau perbaikan (operasi plastik) … dari kepala hingga kaki, setiap bagian muka perempuan, tubuhnya dapat dimodifikasi, dipermak. Modifikasi dan permak atas muka tubuh perempuan merupakan proyek yang terus-menerus dilakukan, berulang-ulang kali.

Hal itu sangat penting untuk ekonomi, pembedaan yang terus-menerus ditegaskan untuk perempuan dan laki-laki lewat realitas fisik dan psikologis. Dari umur 11 hingga 12 sampai perempuan meninggal, perempuan akan mengeluarkan sebagian besar uangnya, waktu dan energinya pada upaya memermak, mempersolek, mencabut, mewangikan dirinya’”. (Lihat “Pergeseran Citra Tubuh Perempuan,” http://www.kendarieskpres.com, 28 Februari 2008).

“Eh…Yang Mulia, tapi…,” saya kembali menyela, kali ini dengan suara yang agak keras. Ken Dedes menatap saya dengan tajam. Saya tertunduk.

“Rusdi, pelan-pelan, nanti Ken Arok bangun,” katanya.

Ha.. Ken Arok? Masyaallah, di mana saya ini? Di dalam kamar Ken Arok dan Ken Dedes? Saya lantas terbayang dengan keris milik Ken Arok yang katanya sakti dan haus darah. Celaka, saya jelas bukan tandingan Ken Arok.

Tangan kanan saya tiba-tiba ada yang menarik. Ketika menoleh, saya lihat Voja anak saya, merengek mengajak pulang. “Ayo pulang Pa, bosan di museum terus,” kata Voja.

Masyaallah, saya baru tersadar saya sedang berada di Museum Nasional [Gajah] Jakarta dan sedang memandangi patung Ken Dedes yang ayu tapi terlihat sedih. Hari itu, hari Minggu, dan gerimis seolah tak henti turun, juga di sekitar Museum Nasional, tempat patung perempuan ayu dari Singosari itu membisu.