Seorang ibu menyusui bayi-asi.blogsome.com

Hasil penelitian IPB tentang susu formula dan makanan bayi yang dikabarkan tercemar oleh bakteri enterobacter sakazakii ternyata dilakukan pada sampel yang dipasarkan pada April-Juni 2006. Hasil penelitian yang dikutip sepotong-sepotong oleh banyak media termasuk para blogger itu juga mengundang ruang perdebatan dan pada akhirnya menimbulkan kecurigaan: jangan-jangan penelitian itu merupakan pesanan dari produsen tertentu.

Oleh Rusdi Mathari

BAYANGAN tentang susu formula dan makanan bayi yang mengandung gizi tinggi, dan menyehatkan; sekarang buyar di mata Riafinola Ifani Sari, penyanyi dari kelompok AB Three. Bagi dia sudah tak ada lagi konsumsi yang aman bagi dua anaknya. “Mungkin perlu dicari alternatif lain seperti makanan organik,” katanya kepada liputan infotemen di sebuah stasiuan televisi.

Kecemasan Nola adalah kecemasan para ibu yang memiliki anak balita. Selama sepekan, berita soal susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri berbahaya menghiasi banyak pemberitaan media massa termasuk blog. Seorang pembaca di sebuah situs blog, bahkan mengingatkan agar mereka yang mempunyai anak bayi berhati-hati memilih susu formula. Ada pula yang berkomentar, kejadian itu sebagai kegagalan pemerintah dalam hal ini Badan Pemeriksa Obat dan Makanan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh empat dokter hewan IPB itu sebenarnya merupakan peringatan agar konsumen terutama yang memiliki anak balita agar lebih selektif dan berhati-hati memilih susu formula dan makanan untuk anak-anak mereka. Bakteri enterobacter sakazakii yang disebut-sebut oleh para peneliti telah mencemari banyak produk susu formula dan makanan bayi, adalah bakteri yang berbahaya. Bakteri ini kata mereka menghasilkan enterotoksin yang mampu bertahan pada suhu panas. Berdasarkan pengujian pada bayi mencit (tikus percobaan), enterotoksin dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak) (Lihat “Makanan dan Susu Formula Bayi yang beredar di Indonesia Terkontaminasi Enterobacter sakazakii,” www.ipb.ac.id, 15 Februari 2008)

Tanpa bermaksud meragukan hasil penelitian ilmiah para akademisi itu, tapi ada beberapa hal yang tidak dijelaskan kepada publik oleh keempat dokter hewan itu menyangkut penelitian dan hasilnya sehingga berpeluang untuk diperdebatkan. Misalnya untuk tujuan penelitian yang tidak dijelaskan, apakah untuk kepentingan IPB sebagai pusat penelitian, untuk kepentingan perkuliahan, kepentingan pemerintah, kepentingan publik atau untuk kepentingan bisnis produsen tertentu. Pertanyaan itu penting diajukan, karena sampel yang mereka teliti adalah produk susu formula dan makanan bayi yang beredar atau dipasarkan antara April-Juni 2006. Lalu mengapa hanya produk pada periode itu yang dijadikan sampel dan sejak kapan mereka melakukan penelitian, pada 2006 atau 2007?

Katakanlah penelitian itu dilakukan sejak 2006 atau beberapa minggu setelah mereka memperoleh sampel produk-produk itu, haruskah penelitian itu memakan waktu selama hampir dua tahun hingga mereka mengumumkan pada 15 Februari 2008 dan kemudian dijelaskan kepada wartawan pada 19 Februari 2008? Kalau memang harus dilakukan selama itu, apa alasannya? Atau kalau pun penelitian mereka dilakukan pada akhir 2007, tidakkah obyek penelitian atau produk-produk yang dipasarkan pada periode itu sudah pasti banyak ditarik dari pasaran karena lazimnya sebuah produk yang diawetkan memiliki waktu beredar paling lama satu tahun? Lalu dari mana mereka mendapatkan sampel-sampel kedaluwarsa itu?

Hasil penelitian yang disampaikan kepada wartawan itu, juga tidak detail menjelaskan tentang enterotoksin yang disebut tahan panas itu; misalnya seberapa tahan dan pada suhu panas berapa derajat bakteri itu masih bisa bertahan dan tidak bisa bertahan? Dan jika benar hasil penelitian bersifat ilmiah, mengapa tidak pula dinyatakan, merek susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri itu?

Penjelasan bahwa salah seorang dari peneliti IPB sudah melakukan kunjungan secara pribadi untuk melihat-lihat fasilitas salah satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia, juga bisa ditafsirkan tidak tepat oleh konsumen dan publik. Apalagi kemudian ada penjelasan bahwa fasilitas pabrik dari perusahaan itu sudah memenuhi standar operasional prosedur perusahaan susu formula bayi. Untuk apa kunjungan itu? Untuk mencocokkan hasil penelitian, sekadar kunjungan biasa, atau kunjungan undangan dari produsen? Mengapa pula kunjungan itu disebut “secara pribadi” jika peneliti yang bersangkutan jelas-jelas merupakan anggota tim penelitian? (Lihat paragraf terakhir “Makanan dan Susu Formula Bayi yang beredar di Indonesia Terkontaminasi Enterobacter sakazakii,” www.ipb.ac.id,15 Februari 2008).

Penjelasan detail semacam itu menjadi niscaya, kalau para peneliti itu misalnya, memang bermaksud memberikan peringatan kepada para konsumen untuk berhati-hati dan tidak menimbulkan kepanikan konsumen. Bayangkan misalnya, kalau seluruh ibu yang selama ini menggunakan susu formula dan makanan bayi, lantas tidak lagi memberikannya kepada anak-anak mereka, seperti niat penyanyi Nola itu— maka tentu akan menghasilkan generasi yang kurang gizi.

Lebih kurang lima tahun lalu, ada penelitian yang kurang lebih serupa, menyangkut air minum isi ulang. Hasil penelitian yang juga dilakukan oleh tim dari IPB itu menyebutkan sampel air minum depot isi ulang di 10 kota besar Indonesia tercemar bakteri coliform. Hasilnya banyak depot air minum isi ulang yang kemudian tutup karena tidak ada lagi orang mau membeli. Padahal pada waktu itu, bisnis depot pengisian ulang air minum sedang marak diusahakan banyak orang dan diminati produsen karena harganya yang jauh lebih murah dibanding air sejenis yang diproduksi perusahaan air minum kemasan.

Belakangan hasil penelitian IPB menuai kecurigaan: merupakan pesanan dari produsen air minum dalam kemasan karena pasar mereka mulai berkurang oleh kehadiran depot-depot pengisian ulang air minum. Waktu itu, air minum dalam kemasan isi satu galon –sekitar 19 liter— dijual seharga Rp 6000 sampai Rp 8.000 tapi di depot air minum isi ulang, konsumen cuma cukup membayar Rp 2.500-Rp 4.000.

Adakah penelitian tentang susu formula dan makanan bayi kali ini, merupakan pesanan perusahaan tertentu? Dr Sri Estuningsih, Drh Hernomoadi Huminto MVS, Dr I.Wayan T. Wibawan, dan Dr Rochman Naim, empat peneliti itu—yang tahu. Satu hal yang mungkin bisa diambil sebagai pelajaran dari kasus ini, bahwa bagi para bayi hanya ada satu susu yang paling baik dan dijamin terbebas dari bakteri yaitu air susu ibu alias susu para nyonya. Kalau susu nona, biarlah untuk sementara disimpan baik-baik.

Iklan