Presiden SBY-www.pemkabjember.go.id

Saya mengenal SBY ketika masih berpangkat kolonel, April 1994 pada sebuah acara Outbound Strategic Management Training yang diselenggarakan untuk para bankir di Krakatau Beach Camp, Karoeng, Pandeglang, Banten. Dia menjabat Komandan Brigif Lintas Udara 17 Kostrad, Cilodong, Bogor dan waktu itu diundang sebagai salah seorang pembicara. Saya termasuk yang ikut hadir pada acara itu sebagai wartawan (InfoBank) bersama Sudjatmika, Redaktur Eksekutif majalah Swa.

Oleh Rusdi Mathari

BERBEDA dengan pembicara yang lain, sosok SBY cepat menarik perhatian para peserta outbound termasuk saya. Badannya tinggi besar, orangnya ganteng, dan bicaranya lugas tapi tetap berisi seolah menunjukkan kelas yang berbeda dari kebanyakan perwira tentara. Saya masih ingat waktu itu, kasus Sipidan-Ligitan sedang menjadi isu nasional karena diperebutkan oleh Indonesia dan Malaysia di Mahkamah Internasional. “Jika pimpinan menghendaki, tentara saya bisa dikerahkan untuk menguasai dua pulau itu hanya dalam waktu 24 jam,” kata SBY.

Sebagai peserta, para direktur dan manajer bank yang hadir di acara itu diam mendengarkan penjelasan SBY tentang strategi militer untuk merebut Sipadan-Ligitan. Dia sebelumnya memaparkan tentang perlunya manajemen disiplin pada semua bidang pekerjaan. Saya manggut-manggut, bukan mengerti tapi karena mengantuk. Usai acara, saya ikut mengerubungi SBY seperti yang dilakukan oleh para direktur dan manajer bank itu lalu mereka tukar menukar kartu nama. Saya juga kebagian kartu nama dari SBY tapi SBY tidak kebagian kartu nama saya, karena saya memang tak punya.

“Pertemuan” kedua antara SBY dengan SBY terjadi pada sebuah acara besar di zaman Presiden BJ Habibie, sekitar setahun setelah reformasi Mei 1998. Di Jakarta Convention Centre, Senayan, SBY hadir sebagai salah satu pembicara bersama puluhan orang yang lain dari dalam dan luar negeri yang memang sengaja diundang oleh Habibie untuk “mempromosikan” Indonesia yang sedang sekarat. Pangkat SBY sudah Letnan Jenderal dan dia berbicara dalam Bahasa Inggris. Bicaranya tetap lugas, terukur, dan berkesan menjaga wibawa. Dia berbicara masa depan Indonesia setelah krisis politik dan ekonomi. Kali ini tak ada acara tukar menukar kartu nama, padahal saya sudah punya kartu nama dan berniat memberikan satu lembar kepada SBY untuk balasan.

Kali ketiga, saya hanya melihat SBY di sekitar areal rumahnya di Cikeas, Bogor pada 2004. Waktu dia sudah di ambang pintu untuk menduduki kursi Presiden RI dan kami para wartawan masih leluasa keluar masuk rumah SBY. Satpam dan penjaga rumah SBY, termasuk ajudan SBY seorang perwira pertama polisi yang tampan dan sopan, bahkan sangat akrab dengan wartawan.

Di Cikeas rumah SBY terlalu luas dan mentereng untuk ukuran saya, seorang wartawan yang pada tahun itu berpenghasilan kurang dari Rp 5 juta. Tiba sekitar pukul 5 sore, saya melihat halaman rumah dan areal di luar pagar rumah SBY sedang dipasangi sejumlah kamera pengintai. Dari bisik-bisik beberapa wartawan yang ikut berkumpul bersama saya di depan pagar, kamera-kamera pengintai itu katanya sumbangan dari seorang pengusaha yang bergerak di bidang jasa keamanan. Saya mengiyakan saja informasi sambil memerhatikan mesin genset (generator pembangkit listrik) yang berukuran cukup besar bertengger di belakang pos penjagaan.

Tujuan saya ke Cikeas hendak melakukan wawancara dengan SBY. Jadwal sudah dibuat kata ajudan SBY tapi rupanya mendadak SBY tidak bisa memenuhi permintaan wawancara para wartawan. Ketika hendak pulang sekitar pukul 11 malam, rombongan SBY datang. Kami sempat berhenti, tapi SBY hanya tersenyum dari balik jendela mobilnya. Saya sekali lagi gagal memberikan kartu nama.

Kini empat tahun sudah SBY menjadi Presiden RI. Di masa kampanye, SBY berjanji akan memberantas korupsi dan sebagainya. Ketika menjadi Presiden RI, sejumlah kasus korupsi terungkap satu demi satu. Paling mengejutkan ketika KPK menangkap Mulyana W Kusuma, anggota KPU pada 8 April 2005. Publik heboh tapi lebih heboh lagi, ketika sebulan sebelumnya SBY menaikkan harga BBM.

Minggu lalu, KPK menangkap jaksa Tri Urip Gunawan karena tertangkap tangan menerima suap sekitar Rp 6 miliar dari seorang kenalan Sjamsul Nursalim. Bersama beberapa konglomereta yang lain, Sjamsul adalah salah satu pengemplang BLBI. Dia sekarang tinggal di Singapura tapi bisnisnya tetap berjalan lancar dan aman di Indonesia. Penangkapan Urip menjadi puncak berita tentu saja. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng, peristiwa penangkapan jaksa Urip, “hanya terjadi dalam pemerintahan Yudhoyono, yang sejak awal menyatakan perang terhadap korupsi. Semoga ini jadi efek jera untuk siapa pun yang ingin korupsi.”

Andi mungkin benar, hanya di zaman SBY para koruptor ditangkapi tapi ada yang terlupakan. Mulyana, Urip, mungkin saja memang telah melakukan korupsi dan ditangkap pada masa pemerintahan SBY. Tapi bagaimana dengan para cukong BLBI itu, kok masih berkeliaran sambil tetap membesarkan bisnisnya di Indonesia? Padahal sepertiga dari seluruh anggaran negara, setiap tahunnya hanya habis untuk menutupi bolong-bolong yang diakibatkan oleh skandal semacam pengucuran BLBI itu. Cukong koruptor tak berhasil ditangkap, uang negara juga tak kembali bahkan yang ada pun justru terus berkurang. Bagaimana pula dengan hutan lindung yang bisa dijual ke pedagang-pedagang tambang?

Saya memandangi kartu nama SBY ketika masih berpangkat kolonel. Terngiang di benak saya ucapannya di Banten, 14 tahun silam, “…pasukan saya bisa dikerahkan untuk menguasai dua pulau itu hanya dalam waktu 24 jam..” Saya lalu berkhayal, andai sekarang SBY mampu dan mau berkata, “Dalam 24 jam saya bisa tangkap Sjamsul Nursalim dan para konglomerat lainnya yang korup, pejabat korup, dan pengusaha preman yang sering membiayai para jenderal” mungkin kartu namanya akan saya fotocopy lalu saya sebarkan ke banyak orang.

Iklan