www.sfn.org

Dari sekitar 45 juta penderita kebutaan di dunia sebanyak 16 persen di antaranya disebabkan oleh penyakit glukoma. Penyakit ini menjadi penyebab kebutaan nomor dua di seluruh dunia. Tak ada gejala khusus dan penderitanya jarang terdeteksi. Tanggal 6 Maret ditetapkan sebagai Hari Glukoma Dunia oleh WHO.

Oleh Rusdi Mathari

NAMANYA Puteri. Umurnya baru 19 tahun. Meskipun secara fisik kedua matanya utuh, gadis berjilbab itu saya lihat ikut hadir dalam pelatihan menulis untuk tuna netra, pada Sabtu seminggu lalu ( 1 Maret) di Ciputat, Tangerang. Ketika saya tanya, sejak kapan tidak bisa melihat, Puteri menjawab sejak SMA. Puteri bercerita, menurut dokter yang memeriksanya, syaraf kedua matanya tidak berfungsi. Entah kenapa. Tiba-tiba saja mas, saya tidak melihat apa-apa,” katanya.

Lima hari kemudian, saya baru tahu, WHO mencanangkan Hari Glukoma Sedunia (6 Maret). Saya lalu jadi teringat Puteri, gadis yang bercita-cita ingin menjadi penulis dan wartawan itu. Mungkinkah sebelum mengalami kebutaan total, Puteri terserang glukoma?

Glukoma (glaucoma) merupakan penyakit progresif (mengikuti perkembangan usia dan kesehatan) yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara permanen. Ia merupakan sejenis kerusakan mata yang disebabkan tekanan cairan terlalu tinggi di dalam bola mata dan berdampak pada kerusakan sel retina maupun serabut saraf sehingga ruang penglihatan menjadi semakin sempit dan akhirnya buta. Mata yang seringkali tegang, juga menjadi penyebab glukoma. Di dunia penyakit ini merupakan penyebab kebutaan nomor dua selain katarak.

Tak ada gejala khusus untuk glukoma bahkan pada beberapa kasus malah tanpa gejala sama sekali. Karena tanpa gejala, glukoma baru terdeteksi setelah si penderita mengalami kerusakan mata serius. Orang yang mengalaminya, tiba-tiba merasakan penglihatan berkurang, semakin berkurang kemudian buta sama sekali. Ketika itu terjadi, glukoma tidak bisa lagi disembuhkan karena sel endotel trabekular meshwork di dalam mata telah hilang.

Berdasarkan survei WHO pada tahun 2000, dari sekitar 45 juta penderita kebutaan 16 persen disebabkan karena glukoma dan sekitar 0,2 persen kebutaan di Indonesia disebabkan oleh penyakit ini. Sayangnya, sekitar 50 persen di negara maju dan 95 persen di negara berkembang, penderita glukoma tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai penyakit tersebut dan karena itu mereka tidak melakukan pemeriksaan atau perawatan terhadap penyakitnya.

Salah satu penyebab glukoma adalah penggunaan obat tetes mata secara serampangan dan tanpa petunjuk dokter. Di dunia kedokteran, obat tetes termasuk salah satu obat keras, yang sesungguhnya bisa berbahaya bagi penggunanya jika digunakan dalam waktu terus-menerus dan dalam jangka waktu lama.

Ada baiknya, karena itu, mulai sekarang merawat dengan baik mata kita. Jangan terlalu tegang di depan komputer, gunakan obat tetes mata sesuai petunjuk dokter, dan perbanyak mengonsumsi vitamin A. Itu pun, jika Anda tidak ingin mengalami nasib seperti Puteri.