konsultasihukumgratis.blogspot.com

Zaman instan tampaknya memang telah mengajarkan perilaku instan. Setiap hari, di mana-mana, di rumah hingga ke jalanan, orang dikepung dengan iklan-iklan konsumtif tiada henti termasuk dengan cara mendapatkannya yaitu melalui kredit. Hari ini terjerat utang masih ada jalan lain berutang. Soal bagaimana membayar, itu urusan belakangan meskipun akhirnya juga digunakan cara-cara instan, menipu dan sebagainya.

Oleh Rusdi Mathari

“UANG muka hanya Rp 200 ribu.” Tulisan itu saya baca di sebuah toko yang menjual sepeda motor, di Serang, Banten, Sabtu lalu. Saya membayangkan, “iklan” itu sudah ratusan kali menjerat mangsanya: para konsumen yang ingin memiliki sepeda motor. Para buruh di Banten atau di tempat lain, yang berpenghasilan Rp 600 ribu-800 ribu, niscaya bisa dengan gampang tergiur oleh reklame uang muka seharga Rp 200 ribu itu, hanya untuk mendapatkan sepeda motor idaman. Persoalannya bagaimana pembayaran setelah itu?

Seperti banjir kiriman di musim hujan, fasilitas kredit konsumtif saat ini memang membanjiri masyarakat. Barang elektronik, sepeda motor, mobil, rumah dan sebagainya, hampir semuanya ditawarkan dengan kredit. Aneka iming-iming mulai dari uang muka seharga Rp 200 ribuan tadi, tanpa uang muka, hingga cashback uang tunai, menjadi iklan mujarab yang merasuk ke banyak rumah tangga. Mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan dan tidak berpikir panjang, akan mudah termakan oleh semua iklan kemudahan fasilitas kredit semacam itu: Memaksakan diri memiliki barang dengan cara berutang tanpa mengindahkan jeratan utang di balik semua iming-iming kemudahan pemberian kredit.

Ambil contoh kredit sepeda motor. Harga termurah satu unit sepeda motor keluaran terbaru, merek apa pun, jika dibayar kontan hanya berkisar antara Rp 11 jutaan. Akan tetapi harga itu bisa mencapai Rp 18 jutaan hingga Rp 20 jutaan ketika dibeli melalui skema kredit. Katakanlah dengan uang muka Rp 200 ribu dan masa pembayaran selama 3 tahun, maka setiap bulan, bisa-bisa harus membayar Rp 500 ribuan. Bagi mereka yang berpenghasilan di atas Rp 1 juta cicilan sebesar Rp 500 ribu itu mungkin saja masih terjangkau meskipun sesungguhnya juga sudah tak rasional— tapi bagi yang kurang dari jumlah itu, cicilan sebesar itu adalah jebakan utang yang mematikan.

Maka jangan heran, jika yang terjadi kemudian adalah semakin banyak orang yang terjerat oleh utang. Mereka tak sanggup membayar angsuran sementara sepeda motor yang sudah dibayar setengah atau seperempat harga ditarik oleh tukang tagih utang. Dalam catatan sebuah perusahaan pembiayaan yang banyak melayani kredit sepeda motor, tahun lalu saja, paling tidak terdapat 40 ribu unit sepeda motor kredit yang ditarik dari nasabah mereka. Penarikan dilakukan karena nasabah tidak mampu lagi membayar angsuran. Mengapa tak mampu?

Pertama karena angsuran yang harus dibayar memakan porsi lebih besar dari pendapatan alias besar pasak dari tiang. Kedua bunga kredit yang ditetapkan memang sangat mahal alias mencekik leher konsumen. Kenapa mahal, karena dana yang diputar oleh perusahaan pembiayaan adalah dana pinjaman dari bank yang juga berbunga. Perusahaan pembiayaan adalah perusahaan keuangan yang hanya hidup dari meminjamkan uang atau membiayai sesuatu. Pada kredit sepeda motor misalnya ada Wahana Otto Multiartha (WOW) Federal International Finance (FIF), dan Bussan Auto Finance (BAF).

Bunga dari bank kepada perusahaan pembiayaan itu, celakanya selalu lebih mahal dari bunga kredit lainnya. Rata-rata bank mematok bunga antara 14 persen-15 persen untuk kredit yang disalurkan kepada perusahaan pembiayaan. Dana dari bank itulah yang lantas lalu diputar oleh perusahaan pembiayaan untuk membiayai kredit sepeda motor kepada konsumen dengan bunga hingga mencapai 30 persen-40 persen atau dua kali lipat dari bunga kredit yang dipatok oleh bank. Hingga di sini, sudah jelas ketahuan, siapa yang untung dan siapa buntung. Pihak yang untung, tentu saja bank dan perusahaan pembiayaan itu dan pihak yang buntung adalah konsumen atau nasabah. Pola yang hampir sama juga terjadi pada pembiayaan kredit konsumtif lainnya, dan juga kartu kredit.

Masalahnya meski sudah jelas-jelas dijerat dan dicekik dengan pola rente semacam itu, nafsu konsumtif sebagian besar orang masih saja besar. “Kalau tidak sekarang kapan lagi” atau “Kalau tidak kredit kapan dapatnya” adalah beberapa alasan yang sering dikemukakan, ketika misalnya seseorang ditanya mengapa harus melakukan akad kredit. Kredit alias berutang, kemudian seolah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi seperti makan dan minum tanpa mau berusaha dan melalui proses, misalnya, dengan menabung.

Zaman instan tampaknya memang telah mengajarkan perilaku instan. Setiap hari, di mana-mana, di rumah hingga ke jalanan, orang dikepung dengan iklan-iklan konsumtif tiada henti termasuk dengan cara mendapatkannya yaitu melalui kredit. Hari ini terjerat utang masih ada jalan lain berutang. Soal bagaimana membayar, itu urusan belakangan meskipun akhirnya juga digunakan cara-cara instan, menipu dan sebagainya. Untuk membeli sesuatu, apakah Anda masih lebih memilih kredit atau menabung?

Iklan