Demonstrasi Kaum Yahudi Ortodoks Menentang Israel-http://nkusa.org/

Zionisme yang sesungguhnya adalah gerakan keagamaan (Yudaisme) yang menginginkan Sang Juru Selamat pada akhir zaman sementara zionisme Israel adalah gerakan politik dan penjajahan. Seorang rabbi bahkan mengatakan, Israel adalah entitas iblis dan nama Israel telah dicuri oleh para politikus zionis Israel.

Oleh Rusdi Mathari

AKAN selalu ada spekulasi, bisik-bisik, cemoohan, dan kecaman yang pada akhirnya akan berujung kepada kontroversi, setiap kali nama Israel dikaitkan dengan kunjungan orang-orang Indonesia ke negara itu. Baru-baru ini kabar tentang lima orang Indonesia yang bergabung di dalam Yayasan LibForAll yang melakukan kunjungan ke Israel untuk menemui Deputi PM Israel, Simon Peres tersiar kembali. Tak disebutkan siapa saja kelima orang Indonesia itu tapi yayasan LibForAll katanya di bawah “perlindungan” Abdurrahman Wahid, dan antara lain beranggotakan Yeni Wahid, Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Dani (Dewa19), dan beberapa aktivis Jaringan Islam Liberal alias JIL.

Dari beberapa situs diperoleh penjelasan, kunjungan mereka ke Israel sebenarnya sudah berlangsung hampir tiga bulan lalu, menjelang akhir 2007. Kedatangan lima orang itu, juga sudah tersebar luas di tanah air dan dunia Islam, lengkap dengan cemoohan. Tapi dua hari lalu, di milis Jurnalisme, berita itu kembali dikirimkan oleh seseorang dengan konteks kekinian: serangan Israel ke Gaza. Meskipun pengirim posting menyebutkan, artikel usang itu masih layak disimak, namun mudah diduga reaksi atas berita itu. Seorang peserta lain di milis itu mempertanyakan apa yang diperoleh dari hasil kunjungan itu. Seorang lagi, menyindir kunjungan itu sebagai keberpihakan JIL kepada zionis Israel. Israel tampaknya adalah debu berbahaya yang terus membuat alergi banyak umat Islam, termasuk umat Islam di Indonesia.

Satu hal yang kemudian selalu menjadi salah kaprah adalah, sebagian umat Islam dan juga umat Kristen, sering mencampuradukkan persepsi tentang Israel yang berpaham zionis dengan orang Yahudi yang menganut Yudaisme. Beberapa pihak yang paham tentang hal itu pun cenderung menyederhanakan persoalan dan menganggap seolah setiap Yahudi adalah zionis. Kerancuan dan penyamaan semacam ini, pada titik tertentu mungkin bisa dipahami, misalnya karena orang-orang yang berkuasa di pemerintahan zionis Israel adalah niscaya orang Yahudi. Namun pada titik yang lain, persepsi itu bisa salah sama sekali.

Di koran Sinar Harapan, Tom S Saptaatmaja, seorang teolog dan alumnus Seminari St Vincent de Paul pernah menulis sebuah artikel yang memadai tentang hal ini dengan membeberkan beberapa contoh fakta (lihat “Arafat, Zionisme, dan Yahudi Pro-Palestina,” Sinar Harapan, 18 November 2004). Israel adalah sebuah bangunan negara yang didirikan lewat rekayasa Yahudi Eropa ketika mereka mengadakan kongres di Basel Swiss pada 1897. Pemimpinnya adalah Theodore Herzl. Dalam banyak buku sejarah diceritakan, hasil kongres itu lalu didukung Inggris lewat deklarasi Balfour pada 1917. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk sebuah Tanah Air bagi bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh dunia. Semula Uganda yang dipilih untuk Tanah Air itu tapi akhirnya negara Israel berdiri di atas bumi Palestina pada 1948.

Zionisme sejak itu lalu dimanfaatkan oleh sekelompok orang (termasuk Herzl) untuk melegitimasi berdirinya negara Yahudi di atas tanah bangsa Arab dan menjadi gerakan politik Yahudi. Dengan memolitisasi zionisme, maka orang Yahudi di seluruh penjuru dunia diharapkan akan berbondong-bondong dan ikut tergerak menuju ‘tanah yang dijanjikan’ (Palestina). Kaum Yahudi (yang terdiaspora di dunia) pertama, sebelumnya telah berimigrasi ke “tanah yang dijanjikan” yang dikenal dengan ‘gerakan Aliya’, pada 1880.

Padahal konsep zionisme Israel sangat berbeda dengan zionisme sebagai gerakan keagamaan (Yudaisme). Gerakan keagamaan itu (Yudaisme) merupakan monoteisme pertama dalam sejarah agama samawi dan diwahyukan pada Musa sekitar abad ke-13 SM. Yudaisme antara lain menginginkan datangnya Sang Juru Selamat pada akhir zaman. Pada masa itu ‘semua keluarga di dunia ini’ akan dipanggil ke Kerajaan Tuhan. Kerajaan ini akan dipusatkan di tempat terjadinya kisah-kisah yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa (Moses).

Dalam perkembangannya, kehadiran gerakan keagamaan Yudaisme ini tidak banyak menimbulkan keresahan dan penganutnya bisa hidup berdampingan dengan umat Islam maupun Kristen secara damai. Bahkan berbeda dengan Kristen dan Islam yang mengajarkan syiar atau misi perluasan pengikut agama, Yudaisme bukanlah agama yang bermotif missioner karena agama itu hanya untuk orang-orang beretnis Yahudi, meskipun setiap Yahudi tidak selalu beragama Yudaisme. Itulah zionisme dalam konteks keagamaan (Yudaisme).

Itu sebabnya, pendirian negara zionis Israel oleh orang-orang semacam Herzl ditentang oleh banyak pengikut Yudaisme. Penulis buku “Zionisme: Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik” R. Garaudy, bahkan menyebut Herzl sebagai orang yang ingkar akan agama. Sebelum itu para rabbi Amerika Serikat juga menentang Herzl dan menyatakan ketidaksetujuan mereka mendirikan negara Yahudi dan menolak untuk datang ke Palestina. Penolakan yang sama terhadap pendirian negara Israel, juga dilakukan oleh para ilmuwan Yahudi, seperti Albert Einstein, Ahli filsafat Martin Buber, Prof. Judah L. Magnes. Penolakan mereka terutama didasarkan pada dua alasan. Pertama, berdirinya negara Yahudi di Palestina akan mengakibatkan pertikaian dengan penduduk asli (Arab). Kedua, zionisme akan membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Mereka akan dituduh punya kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap (lihat “Yahudi-Zionis-Israel?” milis ITB, 16 Januari 1999).

Einstein bahkan menulis bahwa dia lebih setuju dengan prinsip saling menghormati dengan bangsa-bangsa Arab daripada terus memperluas negara Israel. Bagi ilmuwan terbesar abad ke-20 versi majalah Time edisi 27 Januari 1999 itu, hakikat dari Yudaisme sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip berdirinya negara Israel. Bagi Eisntein Yudaisme selalu tanpa batas, sedang negara Israel selalu terbatas. Dia karena itu, juga menolak dicalonkan jadi presiden Israel pada 1952.

Dalam perkembangannya, penolakan terhadap berdirinya negara Israel oleh penganut Yudaisme terus berlanjut bahkan hingga sekarang. Penolakan itu antara lain dilakukan oleh komunitas Yahudi yang juga masih berpegang teguh kepada Yudaisme, yaitu komunitas Neturei Karta International. Komunitas ini beranggotakan para rabbi Yahudi dan orang orang-orang Yahudi yang menjalankan syariat agama dengan taat. Berdasarkan artikel yang pernah dimuat oleh New York Times edisi 18 Mei 1993 di dalam tulisannya empat tahun lalu itu, Tom bahkan mengutip pernyataan rabbi E Schwartz, seorang penggiat Neturei Karta. Mengutip Taurat, menurut Schawartz, umat Yahudi tidak diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina atau menjajah bangsa lain. Dia bahkan mengatakan, “Para politikus zionis dan rekan-rekan mereka tidak berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel telah dicuri oleh mereka”.

Situs nkusa.org adalah situs resmi komunitas Neturei Karta International. Di dalamnya berisi banyak artikel, berita, dan kegiatan yang dilakukan mereka yang sebagian besar memang menentang keberadaan negara Israel. Salah satunya adalah surat yang dikirim oleh empat rabbi Yahudi (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Palestina) kepada pemimpin Hizbullah di Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah. Surat itu ditulis pada 19 Februari 2008 (lihat “Letter to His Excellency Sayyed Hasan Nasrallah,” Neturei Karta International, nkusa.org).

Di dalam surat itu, para rabbi itu antara lain menyatakan keprihatinan mereka atas kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina dan Lebanon, sembari menyampaikan simpati yang mendalam kepada nasib rakyat Palestina dan Lebanon, karena mereka pernah mengalami diskriminasi ekstrem dan penderitaan tragis di kamp-kamp konsentrasi di Eropa. Dan yang mungkin mengejutkan, mereka secara terang-terangan menyatakan Israel sebagai entitas iblis dan karena itu mereka menolak kehadiran negara Israel. “Di dalam Taurat, dinyatakan bahwa perbuatan melawan Yang Mahakuasa tidak akan pernah berhasil. Negara “Israel” ini, menurut Taurat, pada akhirnya niscaya akan berakhir.” Begitulah bunyi salah satu paragraf surat itu.

Hingga di sini, bisa diketahui ada perbedaan mendasar dari Israel yang zionis dengan Yahudi yang menganut Yudaisme. Zionisme yang dianut oleh penguasa Israel bukanlah zionisme yang semestinya seperti yang diajarkan Taurat dan dipercaya oleh gerakan Yudaisme, meskipun pada beberapa kelompok Islam dan Kristen, tentang hal itu niscaya tetap akan menjadi perdebatan yang tidak akan habis dikunyah. Kunjungan lima orang Indonesia ke Israel karena itu juga tak membutuhkan tafsir yang berlebihan. Sebagian dari orang-orang itu, pastilah tahu dan mengerti soal sejarah zionis Israel, Yahudi dan Yudaisme.

Dalam paragraf terakhir dari surat yang dikirim oleh empat rabbi Yahudi kepada Nasrallah itu, mereka menulis, “Sekali lagi, kami akan tetap berdoa—berharap dan cemas bagi kalian semua. Semoga kita bisa segera menjumpai pada masa kita, perlucutan total, segera, dan damai dari negara ‘Israel.’ Semoga Yang Mahakuasa merealisasikan janji-janji-Nya bahwa semua manusia akan melayani-Nya dalam harmoni dan perdamaian. Amen.”

Iklan