mastw.blogspot.com

Seorang pejabat dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengatakan, flu burung yang menyebar di Indonesia, kemungkinan telah bermutasi sehingga menyebabkan pandemi flu burung pada manusia dan bisa menyebar antarmanusia.

Oleh Rusdi Mathari

BERITA itu mudah-mudahan salah: flu burung yang menyebar di Indonesia sudah bermutasi dari hewan kepada manusia menjadi dari manusia kepada manusia. Karena jika benar, bisa dipastikan penularan virus flu burung akan semakin masif dan tidak akan lagi memilih tempat, misalnya hanya warga di perkampungan yang banyak memelihara ternak unggas. Siapa saja bisa ketularan karena pembawa virusnya adalah manusia. Bila itu terjadi, korban jiwa dipastikan juga akan jauh lebih banyak.

Adalah Organisasi Pangan Dunia dan Pertanian PBB (FAO), yang mengumumkan temuan mereka tentang telah terjadinya penyebaran virus flu burung antarmanusia di Indonesia. “Saya sangat prihatin dengan tingginya sirkulasi virus di negara-negara di mana virus akhirnya bisa bermutasi dan menyebabkan pandemi influenza pada manusia,” demikian Joseph Domenech Kepala Veteriner FAO (Lihat “Indonesia, Mutasi Flu Burung Telah Terjadi,” kompas.com, 18 Maret 2008)

Virus flu burung sejauh ini hanya menyerang unggas seperti burung dan ayam dan karena itu namanya disebut avian influenza (H5N1). Virus pada unggas itulah yang belakangan diketahui menular kepada manusia dan sejak kemunculan pertamanya dideteksi pada 2003, virus ini telah membunuh 235 orang dari 372 kasus di seluruh dunia. Virus yang pertama kali ditemukan di Hong Kong itu, kemudian menyebar ke banyak negara Asia.

Di Indonesia flu burung berkembang cepat hingga menyerang 31 provinsi dari 33 provinsi yang ada. Endemik terbesar terjadi di Jawa, Sumatra, Bali dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Indonesia, 25 persen kasus flu burung di Indonesia terdapat di Jakarta, 45 persen muncul di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sejak 2005, separuh ke atas kasus manusia terinfeksi flu burung di dunia terdapat di Indonesia: kasus flu burung secara kumulatif mencapai 116 orang dan 94 orang dari jumlah itu meninggal dunia. Dengan demikian, rata-rata angka kematian akibat flu burung di Indonesia mencapai 81 persen atau satu kali lebih tinggi dibanding kasus serupa Vietnam (48 orang). Domenech, karena itu menyebutkan bahwa kematian akibat flu burung di Indonesia termasuk yang paling tinggi di seluruh dunia.

Sejak kali pertama diketahui, virus ini telah menyebabkan kekhawatiran pada banyak orang karena serangannya yang mematikan. Upaya untuk meredam penularannya melalui pembasmian unggas di perkampungan kota seperti Jakarta, ternyata tak cukup membantu untuk menghentikan penularan virus ini kepada manusia. Oleh FAO, pemerintah Indonesia bahkan dianggap gagal membendung penyebaran virus flu burung di peternakan-peternakan unggas. FAO mencatat, sekitar 20 persen dari 1,4 juta ayam di Indonesia tersebar di 30 juta titik di Indonesia.

Sedikitnya pengawasan dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah semacam ini, tentu saja telah menyebabkan kekhawatiran banyak ilmuwan akan terjadinya variasi virus yang pada akhirnya akan “bermutasi” dari sekadar hewan kepada manusia menjadi dari manusia kepada manusia. “Kita juga telah mengobservasi bahwa strain virus H5N1 baru telah muncul akhir-akhir, menyebabkan vaksin avian influenza virus ini tidak lagi mampu melindungi ayam-ayam di peternakan melawan penyakit yang ada,” kata Domenech.

Pemerintah Indonesia dalam kasus ini tentu tak bisa disalahkan begitu saja. Ketika korban pertama jatuh pada 2005, pemerintah ternyata tak menemukan persediaan yang cukup obat tamiflu bahkan tidak ada. Obat-obat itu sebaliknya tersedia banyak di sejumlah negara kaya yang justru sama sekali tak terkena penyebaran virus flu burung. Pada saat yang sama melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong, WHO memerintahkan Menteri Kesehatan RI untuk menyerahkan sampel specimen untuk kepentingan penelitian. Perintah itu diikuti Bu Menteri dengan syarat melibatkan laboratorium Litbangkes. Hasilnya ternyata sama tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Bu Menteri lantas teringat kasus korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi. Singkat kata Bu Menteri berkesimpulan ada permainan di balik penelitian flu burung yang merugikan negara-negara yang terkena wabah dan sebaliknya menguntungkan segelintir negara-negara maju (Lihat “Perlawanan Siti Fadilah Supari,” Republika, 13 Februari 2008).

Perlawanan Menteri Kesehatan RI itu kemudian menjadi banyak pembicaraan para ilmuwan dunia, terutama karena keberanian mendobrak Los Alamos National Laboratory di New Mexico, Amerika Serikat. Laboratorium yang berada di bawah Kementerian Energi Amerika Serikat itulah yang diketahui menyimpan sequencing DNA H5N1 dari WHO CC. Dari 15 grup peneliti di lab itu hanya ada empat orang dari WHO, sementara sisanya tak diketahui latar belakangnya. Di lab inilah dahulu dirancang bom atom Hiroshima. Tidak jelas, untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia. Namun karena semua usahanya, majalah the Economist menempatkan Bu Menteri sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” (Lihat “Pandemics and transparency,” the Economist 10 Agustus 2006).

Kini semua usaha Bu Menteri itu, seolah kembali mendapat tantangan, dengan pengumuman FAO itu bahwa virus flu burung di Indonesia telah menyebar antarmanusia. Kendati tidak dijelaskan, apakah pernyataan Domenech berdasarkan hasil penelitian resmi FAO atau sekadar dugaan berdasarkan symptom, pernyataan itu merupakan lampu merah bagi pemerintah dan Bu Menteri agar lebih serius menangani flu burung. Katakanlah pernyataan Domenech itu hanya dugaan, peluang dari virus H5N1 untuk bermutasi dari sekadar hewan kepada manusia menjadi manusia kepada manusia, tetaplah besar.

Dulu, seorang pejabat tinggi PBB pernah memperingatkan, jika tidak ada penanganan serius dan kesungguhan dari banyak negara untuk mengakhiri penyebaran virus ini, suatu hari nanti mungkin akan terjadi wabah baru influenza setiap saat, yang mungkin menewaskan 150 juta orang. Atau jangan-jangan suatu hari nanti yang dimaksud oleh pejabat itu, adalah hari Selasa 18 Maret 2008, ketika Domenech mengatakan telah terjadi penularan virus flu burung antarmanusia di Indonesia? Mudah-mudahan pernyataan Domenech salah.

Iklan