Shell atau Kerang
Perusahaan Listrik Negara memenangkan PT Shell Indonesia dalam tender pengadaan solar senilai Rp 18,4 triliun. Shell menggandeng PT Kutilang Paksi Mas, anak perusahaan Walinusa Energi— sebuah perusahaan yang berada di bawah holding PT Tason Putra Mandiri, milik Tanri Abeng. Bagaimana dengan utang PLN kepada Pertamina?

oleh Rusdi Mathari
PERTAMINA AKHIRNYA TAK MENDAPATKAN APA-APA DARI PLN. Pengumuman pemenang tender pengadaan BBM jenis High Speed Diesel (solar) yang dibutuhkan oleh produsen setrum negara itu, Kamis 10 April 2008 sudah diputus dengan menjatuhkan pilihan pada PT Shell Indonesia. Dengan nilai kontrak Rp 18,4 triliun, Shell mendapat jatah untuk memasok kebutuhan solar PLN sebanyak 850 ribu kilo liter selama tiga tahun. Solar sebanyak itu akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan BBM di PLTGU Belawan, Medan (600 ribu kilo per tahun-Rp 13 triliun) dan PLTGU Grati, Pasuruan, (250 ribu kilo liter per tahun-Rp 5,4 triliun).

Keputusan PLN yang memenangkan Shell dalam pengadaan solar itu adalah yang kali pertama dilakukan tanpa melibatkan Pertamina. Sebuah keputusan yang bisa dibaca, semestinya akan menjadi pukulan telak yang kesekian kalinya bagi Pertamina setelah PLN menunggak pembayaran utangnya kepada Pertamina. Hingga September 2007, utang PLN kepada Pertamina mencapai Rp 22 triliun. Dari jumlah utang itu, Pertamina telah menerbitkan invoice penagihan hingga Rp 17,5 triliun dan sisanya merupakan utang berjalan PLN selama 2007. Pada Juni 2006, direksi Pertamina pernah mengancam akan memangkas pasokan BBM ke PLN hingga 50 persen jika BUMN yang memonopoli kelistrikan itu tidak segera melunasi utangnya selama 2005 yang mencapai Rp 23,9 triliun.

Tender solar PLN sebelumnya diikuti oleh tiga perusahaan. Selain Shell dan Pertamina, PT Aneka Karya Kimia, juga ikut dalam tender itu. Semula oleh PLN yang akan ditenderkan adalah pengadaan solar sebanyak 1 juta kilo liter; 850 ribu kilo liter untuk Belawan dan Grati, dan sisanya untuk pasokan BBM Pontianak dan Samarinda. Menjelang akhir Februari silam, PLN mengumumkan bahwa pemenang tender untuk pemasok solar itu adalah Shell dan Aneka Karya. Shell memenangkan tender untuk di Belawan dan Grati, sementara Aneka Karya di Samarinda dan Pontianak. PLN belakangan meralat pengumumannya dengan menganulir Aneka Karya sebagai pemenang tender.

Menurut Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, meskipun tawaran Aneka Karya adalah yang paling rendah harganya, namun perusahaan itu dinilai gagal memenuhi persyaratan administrasi seperti yang dimintakan oleh PLN. Fahmi, sayangnya tak terbuka untuk misalnya menjelaskan apa saja syarat administrasi yang tidak dipenuhi oleh Aneka Karya, kecuali menyatakan bahwa administrasi dalam pelelangan antara lain harus ada jaminan penawaran atau masa berlaku penawaran.

Ada dua hal yang menarik dalam tender pengadaan solar untuk PLN yang dimenangkan oleh Shell. Pertama adalah munculnya nama Darwin Silalahi. Sebelum menjabat Country Chairman dan CEO di Shell sejak pertengahan 2007, Darwin pernah menjabat CEO di Booz-Allen Hamilton (Indonesia). Di kalangan pebisnis, Darwin dikenal sebagai salah seorang dari sedikit eksekutif muda pribumi yang namanya mentereng, bersama Sandiaga S. Uno, Eric Tohir, Emil Abeng dan M. Lutfi (Kepala BKPM). Darwin adalah lulusan FMIPA Universitas Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan selama sembilan minggu di Harvard Business School, Boston, Amerika Serikat.

Nama Darwin mulai berkibar ketika dia bergabung dengan PT Bakrie Brothers yang kala itu CEO-nya dijabat oleh Tanri Abeng. Saat Tanri diangkat sebagai Menteri Pendayagunaan BUMN oleh Presiden Soeharto, Darwin ikut diboyong untuk menjadi salah satu staf ahlinya. Staf ahli Tanri yang lain adalah Sofyan Djalil yang kini menjabat Menteri Negara BUMN.

“Kami memiliki komitmen untuk terus mengembangkan bisnis Shell di Indonesia dan berharap Mr Darwin Silalahi mampu membawa ketangguhan merek dan keunggulan operasional Shell di pasar Indonesia,” kata Rob Routs, Executive Director Downstream, Royal Dutch Shell saat memberi sambutan untuk pengangkatan Darwin sebagai orang nomor di Shell Indonesia (lihat Republika, 11 Juni 2007).

Kedua, munculnya nama PT Kutilang Paksi Mas. Nama yang terakhir ini disebut-sebut dalam tender sebagai mitra Shell dalam pengadaan solar kepada PLN. Dalam situs resmi Paksi Mas disebutkan, perusahaan itu adalah penyalur resmi BBM dan pelumas Shell di Indonesia. Ada lima perusahaan yang terafiliasi di bawah Paksi Mas yaitu, PT Kutilang Mas Komputer, PT Electra Power, PT Kutilang Communication, PT Bangun Persada, dan PT Adsco Prima Utama.

Paksi Mas sendiri adalah perusahaan afiliasi dari Walinusa Energi, sebuah perusahaan yang berada di bawah holding PT Tason Putra Mandiri. Tason adalah singkatan dari Tanri Abeng and Son dan berdiri sejak 1979. Dari singkatan namanya, Tason tentu saja didirikan dan dimiliki oleh Tanri Abeng, bos Darwin sewaktu di Bakrie dan di Kementrian BUMN. Tanri Abeng saat ini adalah Komisaris Utama PT Telkom Tbk. sementara Emil Abeng, anak Tanri, menjabat sebagai Presiden dan CEO Walinusa.

Lewat konsorsium bersama PT Muladi dan PT Krakatau Engineering, pada September tahun lalu Walinusa memenangkan tender dari pembangunan pipa gas ruas Muara Bekasi-Muara Tawar sepanjang 7,2 km senilai Rp 85 miliar dari PLN. Pembangunan pipa gas tersebut ditujukan untuk mengalirkan gas yang dibeli oleh PLN dari PT Perusahaan Gas Negara. Pernah pula Walinusa memenangkan tender pembangunan PLTU di Gorantalo dengan nilai investasi uS$ 15 juta.

Pada 2004, Emil Abeng (Tason) membeli Minimarket Pasarprima dari ALatief Corporation. Minimarket yang dikabarkan meraup laba bersih sekitar Rp 2 miliar per tahun itu, dibeli Tason lewat PT Multi Daya Ritelindo salah satu anak perusahaan Tason. Di zaman Presiden B.J.Habibie, Tason pernah terlilit persoalan skandal Bank Bali, karena menerima dana Rp 200 juta.

Dari kabar yang belum dikonfirmasikan, Halim Kalla, adik dari Presiden M. Yusuf Kalla, disebut-sebut juga berada di belakang Tason. Sebagian orang menyebut Tason sebagai “Gang Makassar.” Mungkin karena beberapa orang terkenal dari Makassar juga ikut mengelola Tason antara lain Alwi Shihab (Menteri Luar Negeri di zaman Presiden Abdurrahman Wahid) yang menjabat komisaris Tason dan Arung Gauk Jarre yang dulu ketika kasus Skandal Bank Bali meledak, pernah menjabat sebagai salah satu direktur PT Mondialindo Graha (perusahaan yang didirikan oleh Emil dan Setya Novanto).

Suatu hari di akhir Januari tahun ini, Eddie Widiono yang masih menjabat Direktur Utama PLN pernah sesumbar akan membayar utang-utang PLN kepada Pertamina. Sebuah sesumbar yang tentu saja kecil kemungkinannya untuk terealisasi, mengingat atasan Eddie, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil sudah menegaskan bahwa utang PLN akan dibayar melalui penerbitan surat utang kepada Pertamina. Sofyan Djalil menegaskan hal itu di depan anggota parlemen Senayan pada 24 September 2007. Menurut Sofyan Djalil instrumen surat utang itu bernilai tetap, tak bisa diperjualbelikan dan menggunakan kisaran bunga 3-5 persen di atas SBI.

Itu bisa diartikan: pasokan BBM dari Pertamina yang belum dibayar dan kemudian menjadi utang PLN itu, akan dianggap lunas atau selesai melalui selembar pengakuan utang di atas kertas. Sementara itu, untuk keperluan solar PLN dalam tiga tahun ke depan, sejak tahun ini sudah diputuskan untuk tidak lagi dipasok oleh Pertamina, melainkan oleh Shell. Paling tidak untuk pasokan solar ke Grati dan Belawan itu.

Iklan