Sulit untuk tidak mengatakan bahwa dalam hal bisnis dan investasi, pemerintah seringkali melakukan ambigu. Sebagai industri strategis, PT Krakatau Steel malah digadang-gadang untuk dijual kepada investor asing dan sebaliknya pemerintah melarang asing berbinis di menara BTS, yang bukan industri strategis.

oleh Rusdi Mathari

KRAKATAU STEEL TAMPAKNYA AKAN MENYERAH KEPADA keinginan sejumlah elite di Jakarta. Di tengah keinginan pemerintah untuk mempartikelirkan KS, muncul keinginan kuat dari sejumlah elite itu untuk hanya menjual saham KS kepada mitra strategis. Calon pembelinya sudah ada— untuk tidak menyebut sudah dipersiapkan sejak lama yaitu Arcelor-Mittal, salah satu perusahaan konglomerasi baja berskala global yang berkantor di Inggris. Isyarat tentang kemungkinan saham KS hanya dilepas kepada Mittal, sudah bertebaran selama dua pekan terakhir.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, jauh-jauh hari sudah mengatakan IPO KS terlalu berisiko mengingat kondisi pasar modal yang saat ini tak terlalu menguntungkan. Dari Departemen Perindustrian, Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka, Ansari Bukhari, menjelaskan keterkaitan historis antara Mittal dengan Indonesia karena Mittal sudah membangun pabrik bajanya di Sidoarjo melalui PT Ispat Indo. Kepala BKPM M. Lutfi memuji kinerja Mittal dengan menyebutnya sebagai perusahaan yang paling disegani di dunia.

Isyarat paling jelas tentu saja datang dari istana. Minggu lalu Lakshmi Narayan Mittal diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana. Lakshmi adalah bos besar dari Mittal, orang yang oleh majalah Forbes disebut sebagai orang terkaya nomor empat di dunia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menko Ekonomi Boediono dan Lutfi ikut mendampingi Presiden SBY ketika menerima Lakshmi.

Dalam pertemuan itu, menurut Fahmi Idris, Lakshmi menyampaikan tiga opsi kepada Presiden SBY. Pertama, Mittal akan mengembangkan sendiri usaha pertambangan yang berkaitan dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi mitra strategis bagi KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu, Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY kata Fahmi Idris, menanggapi positif semua opsi yang diajukan Mittal.

Kecuali hanya untuk memperluas kapasitas produksi KS, tidak cukup banyak alasan sebetulnya untuk melakukan swastanisasi KS, apalagi melalui cara menjual sahamnya kepada mitra strategis. Sebagai BUMN yang bergerak di industri strategis, KS semestinya wajib dilindungi oleh pemerintah dari nafsu perilaku pasar bebas yang bisa berpotensi mengganggu pasokan baja dan biji besi. Bisa dibayangkan misalnya, apa yang akan terjadi jika kebutuhan baja dan besi yang antara lain digunakan oleh Pindad dan sejauh ini dipasok oleh KS lalu tersendat atau sama sekali terhenti karena dikendalikan oleh konglomerasi baja internasional?

Kondisi keuangan KS juga tak seburuk yang dipersepsikan sebagian kalangan. Manajemen KS bahkan meyakini perusahaan yang dikelola mereka saat ini berada dalam kondisi sangat sehat. Semester pertama tahun ini, misalnya KS memperhitungkan bisa meraup laba bersih hingga Rp 600 miliar, atau melampaui target laba bersih yang ditetapkan pemerintah untuk KS pada akhir 2008 sebesar Rp 450 miliar. Bahkan dengan rasio utang terhadap modal sendiri yang rendah, jika diperlukan KS sebetulnya masih memiliki kemampuan untuk berutang hingga Rp 10 triliun.

Persoalannya KS berniat untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 juta ton dengan basis energi batu bara pada tahun 2011. Untuk keperluan itu, KS membutuhkan investasi senilai US$ 600 juta dan sebagian di antaranya yaitu sebesar US$ 200 juta akan dijaring melalui IPO.

Semula Sofyan Djalil menggulirkan pentingnya IPO untuk KS. Kata dia, pemerintah akan memprioritaskan privatisasi KS melalui pelepasan saham ke publik (IPO) ketimbang harus menjual langsung saham KS kepada investor. Saham KS yang akan dilepas menurut Sofyan berkisar antara 20-30 persen dengan target Rp 1 triliun. Namun sembari menggulirkan pentingnya IPO KS, pemerintah ternyata juga mengajukan tawaran lain: penjualan langsung saham KS. Diketahui belakangan— dan lalu menjadi isu yang lumayan kencang— di balik tawaran penjualan langsung saham KS kepada investor yang diajukan oleh pemerintah itu, sudah ada lobi-lobi dari Mittal kepada pemerintah atau lobi-lobi beberapa orang kepada pemerintah untuk mengajukan nama Mittal.

Dari sejarahnya, Lakshmi memang tak sekali mengajukan niatnya kepada pemerintah untuk membeli KS. Diwakili oleh Menteri Negara Pandayagunaan BUMN Tanri Abeng, pada 1998, Lakshmi meneken nota kesepahaman untuk memulai proses penjualan saham KS kepada Mittal hingga 51 persen. Koran Kompas 8 April 2008 menyebutkan, awalnya isi nota itu sempat dirahasiakan oleh pemerintah (Tanri Abeng). Ketika anggota DPR mengetahui perihal adanya perjanjian itu dan melakukan protes keras, pemerintah akhirnya membatalkan MOU dengan Mittal.

Kini niat pemerintah yang mengusung nama Mittal untuk meminang KS mengingatkan orang akan perjanjian yang pernah diteken oleh Tanri Abeng dengan Lakshmi sepuluh tahun silam. Adalah sulit menghubungkan fakta bahwa kencangnya nama Mittal diusung oleh pemerintah tidak memiliki kaitan dengan MOU yang pernah diteken oleh Lakshmi dan Tanri Abeng, yang ketika menjabat sebagai Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil adalah salah seorang staf ahlinya. Jika sebagian kalangan pebisnis dan beberapa orang di DPR hanya menduga-duga, karena itu juga tak bisa disalahkan.

Dari namanya, Arcelor-Mittal adalah gabungan dua holding besar. Arcelor muncul berkat merger dari tiga perusahaan baja raksasa Eropa yaitu Arceralia (Spanyol) berkapasitas 10 juta ton per tahun, Arbed (Luxemburg) berkapasitas 14 juta ton, dan Usinor (Prancis) berkapasitas 21 juta ton. Ketiga produsen baja besar tersebut bergabung menjadi Arcelor Steel dan pernah memproduksi 45 juta ton baja pada 2002. Adapun Mittal Stell adalah perusahaan yang lahir dari merger perusahaan baja keluarga Mittal dengan Ispat International, ISG-USA dan LNM Holdings NV. Nama yang disebut terakhir juga lahir dari merger beberapa produsen baja Eropa, Asia, dan Afrika (Iscor).Berkat merger itu, Mittal Steel menjadi produsen baja terkemuka di dunia, dengan kemampuan produksi mencapai 70 juta ton setahun. Arcelor dan Mittal kemudian sepakat bersatu pada 25 Juni 2006 di bawah bendera Arcelor-Mittal dan dalam setahun sanggup menghasilkan produksi baja hingga 125 juta ton.

Koran Bisnis Indonesia 25 Maret 2008 mencatat, untuk pengiriman Mei tahun ini, harga baja di pasar internasional kini sudah mencapai harga US$ 1.200 untuk setiap ton. Kenaikan itu terutama didorong oleh lonjakan harga biji besi pellet sebesar 100 persen. Melambungnya harga baja dunia itu bisa ditebak juga berdampak positif bagi industri baja nasional terutama pada KS, karena tentu akan mengurangi para spekulan baja menentukan harga secara sepihak.

Lalu di tengah lonjakan harga itu, muncul nama Mittal untuk melamar KS ketika pemerintah berencana melepas sebagian saham KS. Sulit untuk mengatakan dalam hal bisnis dan investasi, pemerintah sering kali melakukan ambigu. Seorang menteri misalnya, bisa dengan nyaman mengeluarkan peraturan yang melarang asing untuk berinvestasi pada bisnis tertentu meskipun bisnis itu sendiri bukan industri strategis. Pada beberapa kasus yang lain, pemerintah justru seperti mendesak investor asing untuk masuk ke industri strategis. Mana yang mengatasnamakan nasionalisme dan mana yang sebetulnya hanya kepentingan bisnis (penguasa dan pengusaha) tapi dibungkus isu nasionalisme kemudian menjadi semakin tak jelas.

Jika tak mau lagi kecolongan seperti pelepasan saham PT Indosat kepada Temasek Holding dari Singapura, mestinya pemerintah tidak gegabah melepas saham KS kepada Mittal. Kecuali memang, lobi-lobi politik dari kalangan tertentu untuk ”memaksakan” Mittal menguasai sejumlah saham KS lebih penting di atas nasionalisme, seperti yang kemudian dirancukan oleh Menkominfo M.Nuh lewat keputusannya mengeluarkan peraturan yang melarang asing berbisnis menara BTS. Kalau itu yang terjadi, maka KS sebetulnya sedang menghitung hari untuk bisa dikuasai oleh Mittal.

Privatisasi KS untuk Siapa?

Iklan