Majelis Dzikir Nurussalam bukanlah majelis kelas kampung. Majelis ini didirikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan menjelma menjadi sebuah yayasan. Punya cabang di hampir seluruh provinsi, sejumlah kerabat dan kolega SBY duduk sebagai pengurus yayasan, sementara penyokong dananya adalah sejumlah pengusaha. Apa hubungannya dengan Gunawan Jusuf?
oleh Rusdi Mathari
TAK ADA YANG SALAH DENGAN KEBERADAAN SEBUAH MAJELIS ZIKIR. Sebagai wadah untuk mengingat Tuhan, majelis zikir tentulah diharapkan membawa perubahan positif pada perilaku manusia. Mungkin karena itu, Presiden SBY merasa perlu mendirikan majelis zikir, yang dia beri nama Nurussalam atau cahaya keselamatan. Majelis yang didirikan SBY sejak Pemilu Presiden 2004 belakangan dikelola oleh sebuah yayasan tersendiri.

Selama empat tahun berdiri majelis ini sudah sering menggelar acara zikir bersama di berbagai kota. Pada 24 Februari silam, misalnya, Nurussalam Jawa Timur mengadakan acara zikir dan doa bersama di Masjid al Akbar, Surabaya. Suara Surabaya menulis, sekitar 40 ribu orang datang ke al Akbar untuk mengikuti acara zikir dan doa tersebut.  Mewakili SBY pada acara itu, tampil Kurdi Mustofa Ketua Pengawas Yayasan Nurussalam.

Selain terlibat di Nurussalam, Kurdi Mustofa adalah tentara berpangkat Brigjen yang pernah menjadi anggota tim kampanye SBY dalam Pemilu Presiden 2004 dan kini menjabat sekretaris pribadi Presiden SBY.

Pernah pula Nurussalam menerbitkan buku berjudul Kejamnya Fitnah pada Agustus 2007. Buku ini merupakan kumpulan khutbah Jumat dari H. Mohammad Hidayat di Masjid Baitulrrahim yang terletak di lingkungan Istana Presiden.

Mohammad Hidayat adalah Khatib Anggota Dewan Syariah Nasional MUI Pusat dan Wakil Pemimpin Umum majalah Dzikir, media bulanan yang juga diterbitkan oleh Nurussalam. Secara keseluruhan buku itu berisi tulisan yang memuat sejumlah dalil agama tentang bahaya fitnah dan keistimewaan orang yang difitnah di sisi Tuhan. Namun buku itu juga mengingatkan orang kepada ketegangan politik antara SBY dengan Amien Rais, yang terjadi dua bulan sebelumnya— menyusul pengakuan Rokhmin Daruri soal aliran dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan.

Pak Menteri pada pemerintahan Megawati itu di zaman pemerintahan SBY didakwa melakukan korupsi tapi di pengadilan Rokhmin justru membeberkan fakta yang mengejutkan: dana nonbujeter departemennya mengalir kepada tokoh penting, sejumlah anggota DPR, sejumlah partai politik dan sejumlah tim sukses presiden pada Pemilu 2004. Amien Rais bukan saja mengakui menerima dana dari Rokhim tapi juga lalu menyebutkan ada salah satu calon pasangan presiden yang bertarung menerima bantuan dana asing.

Selentingan Amien itu yang rupanya lalu membuat SBY meradang hingga Presiden RI itu perlu menggelar jumpa pers usai salat Jumat 25 Mei 2007, hanya untuk membantah pernyataan Amien Rais. “Tuduhan ini sungguh keterlaluan, fitnah yang kejam. Naudzubillah,” kata Presiden SBY dengan nada marah waktu itu.

Dikenal Publik
Beberapa nama yang mengurus Nurussalam adalah orang-orang yang dikenal baik oleh publik. Di luar Kurdi Mustofa, antara lain tercantum nama SBY dan putranya Eddy Baskoro Yudhoyono; SBY menjadi pembina dan Edhi Baskoro menjabat sebagai sekretaris. Untuk bendahara ada nama Hartanto Eddie Wibowo dan Aziz Mochdar.

Hartanto Edhie Wibowo adalah adik laki-laki dari Ibu Negara Ani Yudhoyono dan seorang pengusaha, yang namanya tercatat sebagai komisaris pada PT Power Telecom, perusahaan yang dimiliki Keluarga Tjokrosaputro.

Adapun Aziz Mochdar adalah pengusaha atau tepatnya pelaku bisnis dan pernah tercatat sebagai pemegang saham PT Bimantara Citra antara lain di SCTV (dulu), PT Satelindo, PT Duta Nusabina Lestari dan PT Asri Wahana Intinusa. Azis Mochtar merupakan adik dari Muchsin Mochdar. Nama yang disebut terakhir adalah ipar dari B.J. Habibie, Presiden RI ketiga.

Bersama Gunawan Jusuf, Aziz Mochdar merupakan pemilik dari PT Senni Cahaya, sebuah perusahaan patungan yang kepemilikan sahamnya masing-masing dimiliki PT Wibhuti Haemmesyaa (81 persen) and PT Makindo Tbk (19 persen). Sebanyak 98 persen saham Wibhuti dimiliki oleh Aziz Mochdar dan sisanya dikantongi oleh PT Garuda Panca Artha. Adapun saham Garuda Panca Artha, 98 persen dimiliki oleh Rachmini Jusuf, istri Gunawan Jusuf (Makindo).

Panca Artha kini bersiap menghadapi upaya Peninjauan Kembali alias PK yang diajukan oleh Kelompok Salim menyusul sengketa antara keduanya memperebutkan lahan tebu seluas kurang lebih 52 ribu hektare di provinsi Lampung. Grup Salim mengajukan PK, karena dalam tiga kali proses pengadilan, dari mulai pengadilan di tingkat pertama hingga kasasi di Mahkamah Agung, hakim memenangkan Panca Artha.

Selain bersiap berperang di tingkat PK, baik Grup Makindo (Gunawan Jusuf) maupun Grup Salim (Franky Welirang), kini juga siap bertarung di ruang publik melalui media: Gunawan Jusuf akan menerbitkan koran ekonomi, dan Franky Welirang juga akan menerbitkan koran yang sama. Franky menggandeng Dahlan Iskan, Gunawan Jusuf menggandeng wartawan-wartawan bursa.

Di Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam, nama Gunawan Jusuf tak tercantum tentu saja.

Iklan