Pekan raya erotis Sao Paulo telah berlangsung enam hari sejak dibuka pada hari Minggu lalu. Meski harga-harga barang yang dijual relatif tak mahal, perputaran uang di pekan raya itu mencapai ratusan juta dolar.

oleh Rusdi Mathari

APA YANG DISEBUT SEBAGAI PEKAN RAYA EROTIKA SAO PAULO sebetulnya tak lebih dari pameran dagang seperti yang digelar di Pekan Arena Jakarta. Bedanya hanya terletak pada barang-barang yang dijual dan para gadis yang sesekali tampil menari dengan hanya mengenakan bikini. Pameran yang bertajuk The Erotika Fair in Sao Paulo itu, hanya menjual barang-barang yang berkaitan dengan seks: parfum pembangkit libido, aneka dildo, g-string yang terbuat dari bahan kulit, seragam perawat yang didesain untuk bercinta, anus dan alat vital plastik, dan sebagainya.

Hanya dalam waktu tiga hari sejak dibuka pada Minggu 20 April 2008, pekan raya itu sudah mampu menjaring 20 ribu pengunjung. Kebanyakan dari pengunjung adalah orang-orang yang mencari “barang-barang aneh” untuk memuaskan fantasi seks mereka. Mereka menolak jika barang-barang yang dipajang dan kelihatan erotis di pameran itu dianggap sebagai pornografi.

Pameran erotis di Sao Paulo kali pertama dibuka pada 1996. Pada waktu itu pengunjung pameran hanya didominasi oleh kaum laki-laki dan sangat jarang kaum perempuan yang datang ke arena pameran. Dalam perkembangannya, jumlah pengunjung perempuan kemudian terus bertambah dan pada pameran kali ini jumlahnya diperkirakan sudah melonjak hingga 80 persen dibanding jumlah mereka sepuluh tahun lalu.

Harga dari barang-barang yang dijual di pameran itu sebetulnya tak semahal yang diperkirakan orang. Parfum gel pembangkit gairah misalnya, hanya dijual seharga US$ 7. Namun karena banyak pengunjung yang aktif membeli barang-barang, perputaran uang di pameran itu juga tinggi. Catatan dari Asosiasi Industri Brazil menyebutkan, pasar erotik Brazil dalam 30 tahun terakhir telah berkembang pesat dan perputaran uangnya menghasilkan US$ 480 juta atau tumbuh 15 persen setiap tahun.

Selain menjual barang-barang fantastis dari Cina, Amerika Serikat dan negara lainnya, pameran itu sesekali menampilkan tarian erotis yang dipertontonkan oleh Morgana Black, salah satu bintang porno terkenal di Brazil. Nona Black mengaku tariannya telah mendapat apresiasi dari banyak gadis yang datang ke pameran itu. Sebuah pengakuan yang bisa jadi benar, jika mengingat bahwa sebagian dari kebiasaan perempuan Brazil adalah sering berinisiatif memanaskan kehidupan seks mereka dengan pasangannya.

Menurut Manajer Promosi The Erotika Fair in Sao Paulo, Evaido Shiroma, para perempuan Brazil melakukan itu semua hanya untuk meyakinkan suami atau pasangan mereka bahwa mereka sanggup memberikan alternatif permainan seks. Dengan demikian, si suami atau pasangan mereka tidak akan kabur meninggalkan mereka hanya gara-gara tidak puas dalam berhubungan seks.

*Sumber AFP

Iklan