Baru berdiri sejak Agustus silam, Hanson Energy tiba-tiba memenangkan tender pasokan batu bara PLN selama 20 tahun senilai Rp 28 triliun. Hanson Grup sebagai induk usahanya, sebetulnya adalah perusahaan tekstil dan bahan kimia.

oleh Rusdi Mathari
LOMPATAN BESAR ITU DILAKUKAN PT HANSON INTERNATIONAL Tbk. Agustus tahun lalu: dari sebuah perusahaan tekstil melompat menjadi pemain di industri pertambangan. Dan inilah istimewanya Hanson, meskipun termasuk pendatang baru namun langsung menggebrak dengan mendapatkan kontrak dari PT PLN senilai Rp 28 triliun untuk keperluan pasokan batu bara kepada enam PLTU yang dimiliki oleh PLN selama kurun waktu 20 tahun. Kontrak tersebut dikantongi oleh Hanson Grup pada April tahun ini melalui PT Hanson Energy, sayap bisnis yang baru dibentuk Agustus silam itu.

Perjalanan bisnis kelompok usaha ini memang terbilang unik. Berdiri pada 7 Juli 1971, semula namanya adalah PT Mayer Tex yang bergerak di bidang usaha tekstil. Nama Mayer Tex itulah yang hingga sekarang tetap dikenal orang dan tercatat di lantai bursa, meskipun dalam faktanya, perusahaan itu sudah berganti nama sebanyak dua kali.

Pada 1991 Mayer Tex melikuidasi namanya menjadi PT Hanson Industri Utama Tbk. dan kemudian berubah lagi menjadi PT Hanson Internasional Tbk. pada 2004. Pilihan untuk terjun di bisnis tekstil tentulah pilihan yang bukan tidak tepat, mengingat bisnis utama Keluarga Tjokrosaputro semula adalah kain batik. Mendiang Kwee Som Tjok (Kasom Tjokrosaputro) adalah pendiri dan pemilik merek batik ternama Batik Keris, di Solo.

Melalui induk usaha Hanson Grup itulah, perkembangan bisnis Keluarga Tjokrosaputro di zaman Orde Baru terus berkembang hingga mencakup 41 bidang usaha. Mulai perbatikan, pabrik tekstil dan garmen, pabrik serat sintetis, properti, hotel, konstruksi, pabrik sepatu, angkutan udara, dan beberapa bank. Pada 1996 total aset dari Hanson Grup diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.

Kelompok usaha ini mulai kehilangan pamor ketika terjadi krisis moneter pada 1997. Pamor Hanson semakin memudar, ketika Benny Tjokrosaputro (anak Kasom) terlibat dalam kasus penggorengan saham Bank Pikko. Kasus itu bermula dari peningkatan volume perdagangan saham Bank Pikko antara periode Januari sampai Februari 1997. Harga saham Bank Pikko pada periode itu berkisar antara Rp 875 sampai Rp 1.425.

Namun hampir dua bulan kemudian, saham Bank Pikoo, melonjak tajam hingga 207 persen dari Rp 1.300 menjadi Rp 4.000 pada penutupan perdagangan saham di lantai bursa. Usut punya usut, menurut Bapepam, Benny telah melakukan transaksi saham hingga memperluas kepemilikannya menjadi 4,5 juta saham di Bank Pikko. Transaksi itu dilakukan Benny melalui PT Multi Prakarsa Investama Securities dengan menggunakan nama 13 pihak lain.

Berdasarkan penelitian Bapepam diketahui terdapat 52 dari 127 perusahaan efek yang gagal menyerahkan saham Bank Pikko pada tanggal penyelesaian transaksi. Penyelesaian kasus itu berujung pada denda sebesar Rp 1 miliar kepada Benny karena dianggap sebagai pelaku utama transaksi, dan denda Rp 500 juta kepada Pendi Tjandra. Transaksi itu dilakukan dengan memecah order melalui sembilan perusahaan efek untuk Pendi Tjandra dan menggunakan nama sedikitnya 13 pihak lain untuk kepentingan Benny.

Saham Hanson antara lain dimiliki oleh PT Kencanaraya Nusasemesta (28 persen) dan PT Dinar Sekuritas (19,5 persen) dan sisanya oleh publik. Kencana adalah perusahaan yang juga dimiliki oleh Benny Tjrokrosaputro dan pada 11 Agustus 2003, Kencana melepas saham kepemilikan di Hanson. Bulan lalu, Bank Mandiri menyetujui penyelesaian utang PT Primayudha Mandirijaya, anak perusahaan Hanson Grup yang telah tersendat-sendat cukup lama.

Dalam persetujuan itu, Primayudha akan membayar total utang pokok, tunggakan bunga dan denda sekitar Rp 215 miliar. Pembayaran ini akan dilakukan dengan beberapa termin hingga seluruh kewajiban dilunasi paling lambat pada 15 September 2008.

Adik Presiden
Tanda-tanda bahwa Hanson akan memenangkan tender dari PLN itu mestinya memang sudah bisa dibaca jauh sebelum Hanson Grup memutuskan untuk banting stir ke industri pertambangan (energi). Melalui PT Power Telecom, Dicky Tjokrosaputro, anak Benny—pernah merintis pemanfaatan jaringan PLN untuk kepentingan telekomunikasi, multimedia, dan informatika (telematika) di Kota Surakarta pada 2006. Kesepakatan tersebut tertuang dalam penandatangan perjanjian sewa-menyewa antara PLN Distribusi Jateng dan DIY dengan Power Telecom di Solo.

Isyarat itu semakin terlihat ketika pada Agustus 2007, Hanson lalu memutuskan membentuk sayap bisnis baru bernama Hanson Energy dan tiga bulan setelah itu, PLN diisukan membeli saham Hanson Grup menyusul berakhirnya roadshow Hanson di sejumlah negara untuk mencari pendanaan. Pada Januari 2008 Hanson Energy masuk prakualifikasi dalam tender pengadaan batu bara PLN dan kemudian menjadi pemenang tender pada pertengahan April.

Di Power Telecom Dicky adalah Direktur Utama sementara salah satu komisarisnya adalah Hartanto Edhie Wibowo, seorang pengusaha yang adalah juga adik laki-laki dari Ibu Ani Yudhoyono. Selain di Power Telecom, Dicky tercatat juga sebagai Direktur Utama di Hanson Grup. Dicky menyebutkan keputusan perusahaannya membentuk Hanson Energy telah melalui kajian dan riset yang matang sesuai perubahan visi dan misi Hanson Grup. Dengan kontrak dari PLN itu, nama Hanson kini mulai kembali berkibar setelah selama satu dekade namanya nyaris tak pernah muncul.

Saat ini Hanson Energy mengaku telah memiliki area konsesi penambangan batu bara seluas 30 ribu hektare di wilayah Sumatra Selatan, dengan perkiraan cadangan batu bara sebesar 400 juta metrik ton. Perusahaan itu juga berencana melakukan ekspansi terhadap beberapa konsesi penambangan di Kalimantan. Namun pertanyaannya kemudian mengapa PLN menjatuhkan pilihan kepada Hanson Energy yang baru terbentuk beberapa bulan lalu itu?

Iklan