Menyusul lonjakan harga minyak dunia, Komisi Eropa telah menyesuaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi mereka hingga setengah persen pada tahun ini. Bank Sentral Amerika juga berencana menurunkan tingkat suku bunga.

Oleh Rusdi Mathari

MUSIM KEMARAU TAHUN INI TAMPAKNYA SEMAKIN MENANDAI terkulainya perekonomian banyak negara. Harga minyak mentah dunia yang sudah melambung hingga US$ 120 per barel di pasar spot –dan bukan mustahil akan terus bergerak naik— merupakan angka tertinggi dalam 12 bulan terakhir dan tak pernah ada dalam sejarah. Hingga pekan lalu, harga minyak mentah Brent naik menjadi US$ 98,42 per barel untuk pengiriman April ini sementara untuk jenis light sweet menjadi US$ 100,74 per barel.

Bagi Amerika Serikat, kembali naiknya harga minyak itu akan semakin membuat dingin perekonomiannya mengingat kebutuhan minyaknya diperkirakan bertambah tahun ini. Apalagi cadangan minyak Amerika saat ini sudah sampai pada 7 persen lebih rendah dibanding tahun lalu. Pilihannya ada dua, terus membeli minyak dengan harga yang tak terkendali dan karena itu harus menguras lebih banyak uang, atau membiarkan persediaan minyak dalam negeri terus menyusut.

Namun bukan hanya Amerika yang terus kepanasan diterjang harga minyak dunia. Banyak negara, saat ini juga menghadapi masalah yang sama dengan Amerika untuk memenuhi kebutuhan persediaan minyak dalam negerinya. The International Energy Agency atau IEA mencatat, kebutuhan minyak dunia tahun ini, akan menjadi 87,3 juta barel per hari atau meningkat lebih dari 1 juta barel dibanding tahun sebelumnya. Angka itu merupakan permintaan yang terbesar selama 24 tahun terakhir. Tiga puluh tahun lalu, IEA sudah mengingatkan dunia, bahwa suatu hari nanti kebutuhan minyak global akan mencapai angka 80-ribuan juta barel per hari.

Karena itu menurut IEA, tak mungkin dihindarkan terjadinya tabrakan antara besarnya permintaan dengan naiknya harga minyak dunia. Organisasi Negara-Negara Penghasil Minyak (OPEC) memang telah meningkatkan pagu produksinya sehingga menjadi 32 juta barel per hari untuk mengerem lajunya harga. Namun usaha itu, diperkirakan tak terlalu banyak membantu menahan laju harga minyak. OPEC memandang naiknya harga minyak dunia bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan melainkan dipicu oleh banyaknya ketegangan politik, melemahnya dolar dan sebagainya.

Ini memang simalakama. Harga minyak yang tinggi, di satu sisi menjadi berkah tersendiri bagi negara produsennya. Namun di pihak lain, kenaikan harga minyak yang terus-menerus telah berpengaruh buruk pada perkembangan ekonomi banyak. Tanda-tandanya adalah tingkat inflasi yang mulai naik di negara-negara Eropa karena harga BBM yang terus meningkat dan menyebabkan Komisi Eropa menyesuaikan perkiraan atas pertumbuhan ekonomi di negara-negara mereka hingga setengah persen menjadi 1,7 persen. Penyesuaian itu memang tak hanya disebabkan oleh naiknya harga minyak, melainkan juga karena krisis kredit properti di Amerika tapi sulit untuk tidak mengatakan, kenaikan minyak dunia menjadi penyumbang paling besar untuk inflasi Eropa.

Di Indonesia, naiknya harga minyak dunia telah membuat kepanikan Jakarta. Pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sama-sama pahit: memperbesar subsidi minyak dengan risiko orang-orang berduit juga akan kecipratan, atau menaikkan harga BBM dengan risiko semakin tak populer menyusul semakin tak terjangkaunya harga-harga kebutuhan pokok. Logika sederhana, Indonesia mestinya beruntung dengan kenaikan harga minyak, mengingat Indonesia adalah produsen minyak. Namun rupanya, selain sebagai produsen minyak, Indonesia kini juga menjadi net importir minyak. Persoalannya, produksi minyak Indonesia memang tidak dipacu hingga pada tingkat memenuhi kecukupan di dalam negeri dan sebaliknya lebih memilih ekspor. Pada 1970-an, kenaikan harga minyak dunia menjadi berkah bagi Indonesia, tapi kini berubah menjadi petaka.

Sejumlah ekonom dunia memperkirakan, bila harga minyak dunia tidak juga turun maka diperkirakan dalam waktu tiga sampai enam bulan, inflasi tinggi akan melanda ekonomi banyak negara: dunia di tubir resesi. Tiga tahun lalu, Fatih Birol ahli ekonomi IEA sudah memprekdisikan hal ini. “Pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat kecuali harga minyak turun dari harganya yang sekarang,” kata Birol.

Soalnya sekarang OPEC hanya mampu mengendalikan produksi minyak para anggotanya. Di luar anggota, seperti Rusia yang memiliki cadangan minyak sampai 140 miliar barel, OPEC tak memiliki otoritas. Karena itu, kebijakan Rusia untuk menaikkan atau menurunkan produksi minyaknya sama sekali tak tergantung pada keputusan OPEC.

Jika dibandingkan dengan produksi minyak OPEC yang mencapai 30 juta barel per hari, produksi minyak mentah Rusia memang tak sampai 20 persen. Namun produksi minyak Rusia yang “sedikit” itu cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah Jepang yang sekitar 4,87 juta barel per hari, dan Cina 1,8 juta barel. Apalagi dengan dibangunnya jaringan pipa minyak sepanjang 4.130 kilometer yang membentang dari Taishet, Siberia Timur sampai Pervoznaya di Primorsk yang berhadapan langsung dengan Pasifik, Rusia akan lebih mudah memasok minyak ke Jepang dan juga Cina ketimbang OPEC. Faktor Rusia inilah, yang juga berpengaruh menentukan harga minyak dunia dan memaksa OPEC terus memantau perkembangan produksi minyak Rusia.

Faktor lain adalah krisis properti di Amerika yang hingga kini terus menekan pasar keuangan dan saham dunia. Minggu lalu para pelaku pasar memperkirakan Bank Sentral Amerika (Fed) akan menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada Rabu besok sebagai upaya menjaga inflasi. Masalahnya, jika kemudian Fed benar-benar menurunkan suku bunga tapi harga minyak dunia tetap tak terkendali, maka usaha itu akan tampak sia-sia. Jika itu benar terjadi –sebagian analis perminyakan percaya harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel– ekonomi dunia akan semakin terkulai bersamaan dengan tibanya musim kemarau tahun ini.

Sumber: AP, AFP, IEA

Iklan