Di Somalia dan Haiti sejumlah orang tewas ditembak. Di Asia, Amerika Latin, dan Afrika terjadi banyak kerusuhan. Penyebabnya soal makanan, soal harganya yang semakin mahal dan tak terjangkau oleh sebagian besar penduduk miskin. Dunia telah mengabaikan pertanian sejak lama.

oleh Rusdi Mathari
HAITI ADALAH SALAH SATU DARI 37 NEGARA DI DUNIA, YANG rakyatnya hampir tidak mampu lagi membeli bahan pangan. Sebagai protes, mereka turun ke jalan. Dalam pelbagai kerusuhan yang banyak terjadi di Haïti, lima orang tewas tapi Haïti jelas bukan perkecualian. Di Somalia, dua orang sekarat ditembak menyusul kerusuhan massa yang turun ke jalan-jalan utama di Mogadishu untuk memprotes melonjaknya harga pangan. Di Italia, juga terdengar protes terhadap harga pangan yang meningkat tajam.

Benar krisis pangan kini sedang melanda semua penjuru kecuali negara-negara makmur di Amerika utara dan Eropa barat. Dari Haiti ke Bangladesh, dari Kamerun ke Indonesia: Harga pangan semakin tak terjangkau oleh sebagian besar penduduk dunia. Di seluruh dunia harga pangan tiga tahun ini sudah meningkat hingga dua kali lipat. Harga bahan pangan pokok, seperti gandum, beras, jagung dan kacang-kacangan naik hingga puluhan persen. PBB menyebut keadaan ini sebagai tsunami yang tak bersuara dan melanda 2 miliar penduduk miskin yang sudah biasa menahan lapar.

Konsekuensinya, risiko kemiskinan hingga ratusan juta orang di dunia juga semakin tinggi. Begitulah laporan terbaru dari Bank Dunia, yang disampaikan Presidennya, Robert Zoellick pada KTT Washington, Amerika Serikat, awal April lalu. Pertemuan itu antara lain menghasilkan kesepakatan untuk mengalokasikan dana sebesar US$ 500 juta bagi program darurat pangan sampai bulan ini. Jumlah ini memang jauh dari memadai namun kata Zoellick, “Kita harus meletakkan uang kita (investasi) di mulut kita sendiri agar kelak kita bisa memberi makan pada mulut-mulut yang lapar.”

Awal April silam, harga beras di pasar internasional sudah mencapai US$ 800. Kenaikan itu sejalan dengan pengurangan ekspor dari negara-negara produsen beras utama dunia, seperti Cina, India, Vietnam dan Thailand. Di Cina harga-harga kebutuhan sudah naik 21 persen pada tahun ini dan masih akan terus seperti itu pada bulan-bulan mendatang akibat persediaan global yang berkurang dan konsumen domestik yang memborong bahan pangan karena takut harga naik.

Kenaikan harga-harga pangan itu pada akhirnya telah menimbulkan kekhawatiran tentang tingginya inflasi di negara itu. Secara keseluruhan inflasi di Cina sebetulnya turun dari 8,7 persen pada bulan Februari, menjadi 8,3 persen Maret tapi kenaikan harga pangan telah mendongkrak laju inflasi ke tingkat yang terus.

Harga pangan yang tinggi itu, lalu juga menyebabkan protes dan pemberontakan di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Senin 5 Mei 2008, Presiden Senegal, Abdoulaye Wade menganggap organisasi pertanian dan pangan dunia atau FAO biang keladi kenaikan harga pangan. Oleh Wade selama ini, FAO dinilai hanya memboroskan banyak uang tapi tidak efisien bekerja dan tidak menunjukkan tanggung jawabnya ketika harga-harga pangan terus mahal. Wade karena itu menyerukan, agar FAO dibubarkan.

Sebelum muncul pernyataan Wade, Olivier de Schutter mengatakan naiknya harga pangan dunia merupakan pelanggaran serius terhadap HAM. Schutter adalah penyusun laporan PBB masalah pangan dan dia menilai meningkatnya permintaan terhadap bahan bakar organik merupakan penyebab tingginya harga pangan yang kemudian berdampak pada ratusan juta orang di seluruh dunia. Shcutter karena itu menyerukan pentingnya membatasi pengaruh perdagangan uang berdasarkan spekulasi harga pangan. Dia juga meminta majelis HAM PBB harus ikut menangani krisis pangan dunia.

Apa yang disebut sebagai meningkatnya permintaan bahan bakar organik oleh Schutter adalah terus meluasnya eksplorasi lahan pertanian dan hasilnya untuk pembuatan bahan bakar alternatif organik seperti ethanol. Penny Ferguson dari Program Pangan Dunia PBB di Nairobi, Kenya mengatakan, banyak pemerintahan negara harus memutuskan berapa banyak lahan akan digunakan untuk menanam bahan pangan seperti gula dan jagung yang memproduksi bahan bakar organik. Kata Ferguson, bila lahan yang biasanya digunakan untuk produksi pangan digunakan untuk produksi bahan bakar, ini akan memengaruhi persediaan bahan pangan bagi masyarakat miskin dunia, yang secara dominan bergantung pada biji-bijian dan komoditas lain.

Di luar soal penggunaan lahan pertanian dan hasilnya untuk kepentingan eksplorasi bahan bakar organik, faktor gagal panen yang terjadi di Australia, Amerika Serikat, Cina dan India juga menjadi penyebab semakin berkurangnya cadangan pangan dunia. Permintaan daging dan produk olahan susu dari Cina dan India meningkat jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Permintaan makanan ternak pun meningkat tapi pasokan berkurang. Kondisi itu diperparah oleh mahalnya harga minyak mentah dunia dan rendahnya nilai tukar mata dolar Amerika Serikat. Mudah ditebak, banyak orang lalu melakukan spekulasi di bidang harga pangan masa mendatang.

Begitulah analisis Profesor Louise Fresco, guru besar pembangunan berkesinambungan Universiteit van Amsterdam, yang pernah menjabat wakil direktur jenderal FAO. Fresco meninggalkan FAO, karena tidak puas terhadap terus berlangsungnya langkah penghematan dan lemahnya organisasi sekelas FAO. Dia menilai organisasi itu sudah tidak mampu lagi mengikuti perkembangan yang begitu cepat di dunia pertanian, meski FAO tidak bertanggung jawab langsung terhadap krisis bahan pangan yang sekarang mencekam dunia. “Saya kira, kita tidak bisa langsung mempersalahkan FAO atau orang lain karena pecahnya kerusuhan anti bahan pangan mahal,” kata Fresco.

Menurut Fresco penyebab lain krisis pangan yang sekarang melanda dunia adalah terus diabaikannya sektor pertanian dalam 20 tahun terakhir. Banyak pemerintah dan orang biasa menganggap bahan pangan semata-mata hanya seperti barang murah, dan tidak memberi perhatian khusus. Tidak ada orang yang sudi menginvestasikan modalnya dalam sektor pangan. Fresco karena itu mendesakkan perlunya investasi besar-besaran di sektor pertanian dunia termasuk peningkatan perhatian terhadap sektor itu.

Jika tidak ada penanganan serius dari seluruh negara di dunia untuk menangani krisis pangan ini, misalnya sektor pertanian terus ditelantarkan, Fresco percaya, Pada tahun-tahun mendatang kerusuhan akibat mahalnya bahan pangan diperkirakan masih akan terus berlanjut. Selama ini menurut Fresco, pertanian adalah sektor yang sudah begitu ditelantarkan, dan selalu dianggap sektor terbelakang, tidak menarik bagi pengusaha muda dan sebagainya.

Di Indonesia, sebagian besar orang kini sedang menunggu dan bersiap menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok dan harga-harga lainnya, menyusul rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Sebuah kenaikan yang akan semakin menambah jumlah orang yang kelaparan di dunia.

Sumber: AFP, BBC, Radio Nederland

Iklan