Dituduh menyebarkan hasutan lewat tulisan terhadap pejabat , seorang pengelola situs di Kuala Lumpur dipenjara. Di Jakarta, seorang penulis surat pembaca dihukum Rp 1 miliar.

oleh Rusdi Mathari
RAJA PETRA KAMARUDIN DAN KHOE SENG SENG ADALAH DUA penulis yang bernasib sial pada Selasa kemarin. Raja Petra penulis profesional, pengelola situs blog Malaysia Today dan Khoe Seng Seng penulis amatir yang hanya berkabar lewat surat pembaca.

Namun tulisan mereka di media yang berbeda dan topik yang berbeda, telah menyeret keduanya kepada keadaan yang tak menyenangkan: Raja Petra diharuskan membayar denda 5 ribu ringgit sementara Khoe Seng Seng dihukum Rp 1 miliar. Raja Petra menolak membayar uang jaminan itu dan memilih untuk dipenjara, Khoe Seng Seng mengajukan banding.

Raja Petra dan Malaysia Today cukup terkenal di Malaysia. Situs ini merupakan salah satu blog terkemuka di Malaysia dan banyak menulis artikel kritis terhadap pemerintahan Malaysia. Salah satu artikel Raja Petra adalah “Let’s Send the Altanyuta Murderees to Hell” yang ditulis pada 25 April 2008.

Isinya bercerita tentang kasus pembunuhan Altanyuta, orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan itu dan proses selama persidangan. Nama-nama yang disebut dalam artikel itu, salah satunya adalah orang penting Malaysia yaitu Wakil PM Najib Razak dan istrinya Rosmah Mansor. Nama lainnya Affidavit Razak seorang perwira polisi.

Dalam tulisan itu, Raja Petra antara lain menulis, “Kasus pembunuhan Altantuya adalah penting termasuk bagaimana catatan tentang gadis itu masuk ke Malaysia yang kemudian dihilangkan oleh pihak imigrasi dari catatan komputer. Begitu juga dengan surat-surat yang pernah ditulis oleh Najib kepada Kedutaan Malaysia yang menyokong permohonan Altantuya untuk mendapatkan visa; gambar Altantuya bersama Najib, Razak dan Kalimullah yang direkam saat merayakan ulang tahun Altantuya di Mandarin Hotel Singapura.”

Hubungan mereka singkat kata digambarkan sangat dekat. Kedekatan para pejabat itu dengan Altantuya terutama berhubungan dengan pembelian kapal selam Scorpene seharga Rp 13 triliun oleh Kementerian Pertahanan dari Rusia. Altantuya dijadikan “lady escort” (wanita pendamping) saat pembelian kapal selam itu dan pesawat tempur Sukhoi.

Belakangan Altantuya ditemukan tewas, diduga karena dibunuh. Kasusnya kini sedang disidangkan di pengadilan Shah Alam Selangor. PM Abdullah Badawi disebut-sebut juga memiliki bukti keterlibatan wakilnya dalam pembunuhan itu.

”Nampaknya Altantuya pernah menunggu lama di luar rumah kediaman Razak dan ini yang menyebabkan dia menjadi panik. Razak mencari Najib dan Rosmah yang kemudian memanggil ajudan Musa Safri agar daia menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Razak. Musa kemudian memanggil dua polisi dan juga Razak. Rupanya bukan hanya Razak dan dua orang pegawai polisi yang terlibat. Najib dan Rosmah telah turut terlibat dalam keseluruhan senario kes tersebut?” Begitulah artikel Raja Petra.

Jumat minggu lalu, Raja Petra dipanggil polisi untuk memberikan keterangan terkait adanya laporan masyarakat kepada polisi. Polisi kemudian membawa perkara ini ke pengadilan, Selasa kemarin. Raja Petra antara lain dituduh melakukan penghasutan tapi dia menolak tuduhan tersebut.

Majelis hakim di pengadilan Kuala Lumpur, memutuskan akan memulai persidangan pada awal Oktober mendatang. Sembari menunggu masa persidangan tersebut, majelis mengharuskan Raja Petra membayar 5 ribu ringgit sebagai jaminan untuk penahanan luar. Raja Petra akan tetapi menolak keputusan tersebut dan memilih dipenjara. Kasus tulisan Raja Petra baru akan mulai disidangkan oleh pengadilan Kuala Lumpur pada 6 Oktober 2008.

Khoe Seng Seng adalah seorang pedagang yang membeli salah satu kios di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kawasan belanja itu dibangun oleh PT Duta Pertiwi. Bersama dengan sejumlah pedagang lain, Khoe Seng Seng belakangan merasa ditipu oleh Duta Pertiwi: mereka mengira ketika membeli kios dari Duta Pertiwi akan memperoleh sertifikat hak guna bangunan (HGB) murni dan bukan menerima sertifikat HGB di atas hak pengelolaan lahan.

Merasa dirugikan Khoe Seng Seng lalu berinisiatif menulis surat pembaca. Maksudnya agar kasus pedagang dengan pemilik ITC mendapat perhatian dari pihak yang berwenang. Dalam surat pembaca tersebut, Khoe Seng Seng sebagai pedagang di ITC Mangga Dua menganggap PT Duta Pertiwi sebagai pengembang ITC Mangga Dua telah melakukan penipuan kepada para pedagang.  Khoe Seng Seng mengirim surat pembaca ke beberapa media. Kompas memuatnya pada September 2006, sementara Warta Kota dan Suara Pembaruan pada November 2006.

PT Duta Pertiwi akan tetapi menganggap surat pembaca dari Khoe Seng Seng sebagai pencemaran nama baik dan karena itu memerkarakan Khoe Seng Seng. Persidangan kasus itu sudah berlangsung sejak tahun lalu. Selasa kemarin, majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Khoe Seng Seng berupa denda Rp 1 miliar tapi Khoe Seng Seng menolaknya.

Nasib Khoe Seng Seng berbeda dengan rekannya yang juga menulis surat pembaca yang dimenangkan oleh pengadilan. “Hakim yang menangani perkara Khoe Seng Seng berbeda,” kata Hendrayana dari LBH Pers, pengacara Khoe Seng Seng.
Sumber: Malaysia Today, Antara, TempoInteraktif

Iklan