BlueScope menawarkan teknologi dan perluasan pasar. Arcellor-Mittal malah ditawarkan hingga separuh kepemilikan KS. Bagaimana dengan peluang Grup Bakrie?

oleh Rusdi Mathari

PRIVATISASI SEMAKIN MENGERECUT. KAMIS KEMARIN, DUA penawar utama PT Krakatau Steel sudah memaparkan “rencana besar” mereka untuk membeli KS di kantor Kementerian BUMN. Pemaparan itu adalah presentasi resmi pertama yang dilakukan oleh para penawar, sejak isu privatisasi KS bergulir kencang awal tahun ini.

Tak banyak yang berubah dari pemaparan keduanya. Arcellor-Mittal tetap pada niatnya untuk memborong saham KS hingga seharga US$ 10 miliar. Tiga rencana besar juga disampaikan oleh Mittal; menjadi investor utama KS, menawarkan usaha patungan untuk pengembangan KS, dan mendirikan perusahaan bersama untuk penambangan batu bara, bijih besi, nikel dan mangan. Sementara BlueScope Steel International Ltd, menjanjikan peningkatan teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja dan perluasan pasar untuk KS. Satu hal yang mengejutkan, pihak Mittal kemarin juga mengungkapkan, telah ditawari pemerintah untuk membeli KS hingga 50 persen.

Privatisasi KS adalah isu besar menjelang Pemilu 2009. Sebagai industri strategis, KS sebetulnya bukan termasuk salah satu BUMN yang merugi. Kondisi keuangan KS juga tak seburuk yang dipersepsikan sebagian kalangan. Manajemen KS bahkan meyakini perusahaan yang dikelola mereka saat ini berada dalam kondisi sangat sehat. Semester pertama tahun ini, misalnya KS memperhitungkan bisa meraup laba bersih hingga Rp 600 miliar, atau melampaui target laba bersih yang ditetapkan pemerintah untuk KS pada akhir 2008 sebesar Rp 450 miliar. Bahkan dengan rasio utang terhadap modal sendiri yang rendah, jika diperlukan KS sebetulnya masih memiliki kemampuan untuk berutang hingga Rp 10 triliun.

Persoalannya KS berniat untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 juta ton dengan basis energi batu bara pada tahun 2011. Untuk keperluan itu, KS membutuhkan investasi senilai US$ 600 juta dan sebagian di antaranya yaitu sebesar US$ 200 juta akan dijaring melalui IPO. Namun pemerintah (Kementerian BUMN) tampaknya lebih memilih untuk menjual KS kepada investor asing dengan alasan keuntungan yang bisa diperoleh jauh lebih besar. Rencana pemerintah untuk menjual KS kepada investor asing itulah, yang pada akhirnya memancing polemik dan reaksi keras dari dalam negeri.

Pemerintah dianggap tidak memiliki sensitivitas kebangsaan setelah penjualan Indosat lima tahun lalu. Dalam beberapa hal, pemerintah juga bisa ditafsirkan telah menerapkan standar ganda dalam mengejar target penanaman investasi asing di Indonesia; Beberapa industri yang semestinya tak strategis, seperti bisnis menara BTS pemerintah melalui Mekompinfo dan Kepala BKPM justru melarang asing masuk tapi sebaliknya dalam privatisasi KS, pemerintah dan kembali didukung oleh Kepala BKPM sangat aktif mendorong investor asing untuk masuk.

Belakangan investor asing yang berminat membeli ke KS tak hanya Mittal dan BuleScope. Tata Steel Ltd dan Essar Internationall Ltd— keduanya dari India, juga sudah mengajukan tawaran yang sama dengan yang dilakukan oleh Mittal dan BlueScope. Keinginan Tata Steel itu tertuang dalam surat tertanggal 29 Maret 2008 yang ditujukan kepada Menteri Perindustrian yang ditandatangani oleh Chief Executive South Last Asia Project Indronil Sengupta. Tata adalah perusahaan baja terbesar ke enam dengan kapasitas 28 juta ton per tahun dan berasal dari India. Hingga kini Tat sudah beroperasi di 24 negara termasuk di Vietnam dan Bangladesh. Bahkan perusahaan yang sudah berusia 101 tahun ini juga sedang membahas kerja sama operasi dengan pemerintah Thailand dan Singapura.

Lalu ke mana privatisasi KS akan berujung? Itulah pertanyaan banyak orang akhir-akhir ini. Persoalannya, penjualan saham melalui stategic sales dikhawatirkan akan menggerus aset KS. Para investor asing itu memang hanya akan menguasai 30 atau 40 persen pada tahap awal tapi tak ada yang berani menjamin penguasaan mereka setelah itu tak akan bertambah. Kamis kemarin, Mittal mengaku bahkan sudah ditawari hingga 50 persen saham kepemilikan KS. Sebuah tawaran yang seharusnya bisa dinilai sangat keterlaluan.

Satu hal yang mungkin luput dari perhatian di balik isu investor asing yang akan masuk ke KS adalah bagaimana jika seluruh investor asing itu kemudian benar-benar ditolak DPR? Jika IPO sejak awal sudah ditampik oleh pemerintah dengan alasan tidak akan cukup menggenjot produksi KS, kemungkinan terbesarnya, pemerintah akan mengundang investor dalam negeri. Paling tidak akan ada kompromi antara lain dengan mengharuskan investor asing yang berminat membeli KS itu untuk menggandeng perusahaan lokal. Langkah ini akan dianggap masuk akal terutama untuk menghindari tuduhan tidak nasionalis dan sebagainya seperti terjadi pada penjualan PT Indosat kepada Grup Temasek. Pertanyaannya sekarang, perusahaan lokal mana yang akan digandeng oleh investor asing itu?

PT Aneka Tambang, semula disebut-sebut sebagai perusahaan yang akan digandeng oleh investor asing itu, termasuk oleh Mittal. Namun semua orang tahu, BUMN itu hanya berkonsentrasi pada penambangan dan bukan pada industri untuk memproduksi hasil tambang. Kalau pun Aneka Tambang benar digandeng, perusahaan itu hanya akan berfungsi pada industri hulu seperti untuk pengadaan bahan dan sebagainya.

Satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di industri baja, mirip dengan KS, adalah kelompok usaha Bakrie. Di bawah PT Bakrie & Brothers Tbk. kelompok usaha ini menguasai saham PT Bakrie Corrugated Metal Industries, PT Seamless Pipe Industries, PT Bakrie Construction, dan PT South East Asia Pipe Industries (SEAPI). Empat perusahaan ini bergerak di industri baja terutama pada proyek pipa dan konstruksi baja. Empat perusahaan itu sejauh ini memenuhi kebutuhan bajanya melalui impor dan membeli dari KS. Kebutuhan baja SEAPI bahkan mencapai 150 ribu ton per tahun.

Mungkin itu sebabnya, dua tahun lalu, Grup Bakrie berencana membangun pabrik baja berkapasitas satu juta ton per tahun. Tujuannya bukan hanya untuk mendukung kebutuhan bahan baku baja bagi industri baja mereka melainkan juga melepaskan ketergantungan impor dan pasokan baja dari KS. Apalagi kelompok usaha itu, saat ini ketiban proyek pembangunan jalur pipa di Jawa dan Kalimantan sepanjang 1.200 kilometer.

Sejauh ini nama Grup Bakrie memang belum meramaikan bursa investor yang akan masuk ke KS. Dulu sempat ada rumor bahwa selain mengincar KS, Mittal juga mengincar saham Grup Bakrie melalui private placement. Rumor itu menguap ketika nama Mittal paling sering disebut sebagai calon pembeli KS.

Kecuali hanya untuk memperluas kapasitas produksi KS, sebetulnya tidak cukup banyak alasan untuk melakukan swastanisasi KS, apalagi melalui cara menjual sahamnya kepada mitra strategis termasuk kelak jika juga harus dijual ke pengusaha lokal. Sebagai BUMN yang bergerak di industri strategis, KS semestinya wajib dilindungi oleh pemerintah dari nafsu perilaku pasar bebas yang bisa berpotensi mengganggu pasokan baja dan biji besi.

Artikel terkait:

Hari-Hari Terakhir KS

Iklan