Bank Dunia mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan terjadinya gelombang laut besar yang akan menerjang wilayah pesisir Jakarta.

oleh Rusdi Mathari

BANK Dunia adalah lembaga keuangan terkemuka di dunia dan seharusnya hanya memberikan perhitungan-perhitungan yang menyangkut keuangan. Tapi Kamis kemarin, lembaga keuangan itu memberikan peringatan di luar kebiasaan, yaitu tentang kemungkinan terjadi gelombang pasang air laut di wilayah garis pantai Jakarta. Dikutip oleh AFP, gelombang pasang itu dapat terjadi pada Selasa atau Rabu minggu depan dan dikhawatirkan akan memaksa ribuan orang melarikan diri dari rumah mereka dan memotong jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Fakta tentang Jakarta saat ini, permukaan tanah di kota itu telah terus menyusut hingga 6 sentimeter setiap tahun. Gelombang pasang yang mungkin terjadi pada minggu depan itu –laporan lain menyebutkan akan terjadi pada 4 Juni— dikhawatirkan dapat menggenangi areal wilayah Jakarta yang lebih luas. “Ini hanya permulaan namun bisa jauh lebih buruk lagi,” kata Hangngjoo Hahm, Kepala Bidang Infrastruktur Bank Dunia.

Gelombang pasang yang akan merendam kawasan pesisir Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya merupakan siklus 18 tahun sekali. Para ahli berpendapat, gelombang pasang kali ini diperkirakan akan lebih besar dari biasanya atau yang selama ini dialami warga di pesisir Jakarta. Tingginya bisa mencapai 2 meter lebih. “Hasil penelitian yang telah kami lakukan, dengan mempelajari siklus tahunan pasang dan surut air laut di sekitar Laut Jawa, terutama wilayah Teluk Jakarta, Pasar Ikan, dan wilayah pesisir pantai, seperti Ancol dan sekitarnya, maka akan terjadi pasang air laut yang ekstrem,” kata Hahm.

Berharap Tak Terjadi

Hahm akan tetapi juga mengingatkan gelombang pasang ekstrem kali ini tidak diperburuk dengan curah hujan yang biasanya terjadi bersamaan di Jakarta. Sebagai negara tropis, Indonesia mengalami curah hujan tinggi hanya berkisar bulan Februari hingga Maret. “Jadi masyarakat Teluk Jakarta dan sekitarnya hanya perlu mewaspadai gelombang pasang air laut saja,” katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi adanya peningkatan air laut yang bisa mencapai 2,5 meter. Fauzi menyatakan, pihaknya sudah memerintahkan aparatur di bawahnya untuk memberikan “warning” kepada masyarakat pesisir Jakarta dan masyarakat di Kepulauan Seribu. Selain itu, kata dia, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta juga sudah mengantisipasi agar gelombang pasang tidak menggenai Jalan Tol Sedyatmo.

Rabu lalu, Fauzi melakukan rapat kerja dengan Komisi VII DPR-RI untuk membahas pengendalian banjir dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Selain mendengar penjelasa Fauzi, anggota DPR juga mendengarkan keterangan dari Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gubernur Banten, dan Jawa Barat.

Menurut analisis yang dibuat Bank Dunia bekerja sama dengan Jan Jaap dari Delft Hydraulics, sebuah Institut Penelitian Bank Dunia— bahwa banjir yang sering terjadi di DKI Jakarta dan sekitarnya adalah dampak dari pemanfaatan tata guna lahan yang salah terhadap banjir. Faktor lainnya, kata dia, adalah pembuangan sampah yang tidak terkoordinasi dengan baik di DKI Jakarta.

Fauzi akan tetapi berharap, “Mudah-mudahan, perkiraan itu tidak terjadi tapi masyarakat diimbau tetap waspada.”

Sumber: AFP
Keterangan Gambar: Gelombang Pasang-www.pirba.ristek.go.id

Iklan