Laporan PBB terbaru menyebutkan saat ini terdapat 2 juta perempuan yang terjebak dalam perdagangan manusia.

oleh Rusdi Mathari

SUATU hari, kelompok pemberontak di Republik Demokratis Kongo menyerang sebuah desa tempat Natalia tinggal. Mereka membunuh anggota keluarga Natalia, memperkosa ibu dan saudara-saudara perempuannya. Natalia yang baru berusia 12 tahun lalu dibawa pergi oleh mereka dan dijadikan anggota tentara. Dalam pikiran Natalia, bergabung dengan pasukan pemberontak hidupnya akan menjadi lebih aman, tapi dugaan itu keliru.

Di pasukan pemberontak itu, Natalia bukan saja dilatih untuk menggunakan senjata dan menjalankan tugas sebagai penjaga namun dia juga lebih sering dipukuli dan diperkosa oleh para prajurit lain. Suatu hari seorang komandan ingin menjadikannya sebagai istrinya tapi Natalia berontak dan karena itu dia mencoba melarikan diri. Ketika pasukan pemberontak menangkapnya kembali, Natalia dicambuki dan diperkosa oleh banyak tentara, setiap malam selama berhari-hari. Dua tahun di sarang pemberontak, Natalia melahirkan bayi. Usia Natalias baru berusia 14 tahun saat itu dan dia bahkan tidak mengetahui siapa ayah dari sang bayi. “Saya melarikan diri lagi tetapi saya tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak mempunyai makanan untuk bayi saya. Saya sangat takut untuk pulang ke rumah.”

Kisah dan pengakuan Natalia itu tertuang dalam sebuah laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat 2004 tentang perdagangan manusia. Menurut laporan itu, Natalia hanyalah salah satu korban dari ratusan ribu atau bahkan jutaan orang yang terjebak dalam perdagangan manusia. Hingga 2004, diperkirakan terdapat 600 ribu-800 ribu laki-laki, perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan, menyeberangi menyeberang perbatasan-perbatasan internasional. Namun jumlah dari lembaga-lembaga independen menyebutkan angka yang jauh lebih besar. Mereka terutama dipaksa oleh unsur-unsur kriminal, penderitaan ekonomi, pemerintahan yang korup, kekacauan sosial, ketidakstabilan politik, bencana alam, dan konflik bersenjata, perbudakan abad 21 menjawab kebutuhan dunia akan tenaga kerja yang murah dan rentan.

Selasa kemarin, PBB mengeluarkan laporan terbaru mengenai perdagangan manusia dengan menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 2 juta perempuan di seluruh dunia yang terperangkap dalam industri seks. Jumlah itu belum termasuk anak-anak dan perempuan yang terpaksa bekerja dengan upah rendah, yang disebut oleh laporan PBB itu sebagai “tak terhitung.” PBB mengatakan tidak ada angka statistik yang akurat tetapi jumlah wanita yang diperdagangkan melintasi perbatasan tiap tahun dapat dua kali lipat jumlahnya jika hitungan itu mencakup orang yang terpaksa masuk ke dalam situasi domestik. “Saat ini, jutaan orang, sebagian besar wanita dan anak terpaksa masuk ke dalam perdagangan gelap manusia, yang artinya tidak lebih dari bentuk perbudakan modern,” kata Wakil Sekjen PBB Asha Rose Migiro di depan Majelis Umum PBB, kemarin.

Kisah Para Korban

Nasib serupa seperti yang dialami oleh Natalia, kini mengancam banyak perempuan di negara-negara miskin dari keluarga yang juga miskin. Katya dari Republik Cheko memiliki cerita semacam itu. Katya adalah janda dengan seorang putri yang sekarang berusia 8 tahun. Lebih dari empat tahun lalu ketika dia bercerai dengan suaminya, seorang “teman” menyarankan Katya: Jika ingin mendapatkan banyak uang dia bisa bekerja menjadi pelayan di Belanda. Tak lama seorang agen membawa Katya ke Amsterdam. Ikut bersamanya empat perempuan muda.

Di negara kincir angin itu, mereka dihubungkan dengan penjual dari Belanda dan lalu dibawa ke rumah pelacuran. Katya sempat menolak dan mengatakan “Saya tidak akan melakukannya.” Namun dia diancam, putrinya yang berada di Cheko akan dibunuh. Setelah bertahun-tahun diancam dan dipaksa sebagai pekerja seks di Amsterdam, Katya berhadil diselamatkan oleh seorang pengemudi. Kini Katya bekerja di sebuah rumah sakit.

Usia Deng baru menginjak 20 tahun ketika dia direkrut dari negara asalnya Thailand untuk melakukan perjalanan secara sukarela ke Australia. Sebelum perjalanan itu, Deng dibujuk dan diberitahukan bahwa dia bisa mendapatkan uang banyak sebagai seorang pekerja seks. Namun, setiba di Australia, Deng langsung ditemui oleh para pelaku perdagangan manusia. Mereka mengambil paspor Deng dan menguncinya dalam sebuah rumah hingga datanglah bencana itu: Deng harus melunasi utang lebih dari $ 30 ribu dan karena itu dia harus melayani 900 lelaki.

Tak berdaya berbuat apa pun, Deng hanya diberikan sedikit makanan dan setiap hari dia secara paksa diantar ke sebuah rumah pelacuran bahkan ketika Deng sedang sakit. Deng diancam jika mencoba melarikan diri, komplotan kriminal akan menangkapnya. Penderitaan Deng baru berakhir, ketika aparat imigrasi Australia menggerebek rumah pelacuran tempat dia dijadikan budak seks.

Tina seorang anak berusia belasan tahun dari desa pedalaman Indonesia dan memutuskan untuk menjadi TKW. Dia lalu mengikuti pelatihan sebagai pembantu rumah tangga yang diselenggarakan oleh sebuah biro penyalur TKI di Jakarta. Karena tak punya uang, dia dianggap berutang puluhan juta rupiah untuk ongkos pelatihan itu dan biaya hidupnya selama empat bulan di Jakarta. Ketika akhirnya dikirim ke Malaysia, Tina dipaksa bekerja hingga 15 jam sehari dalam bisnis keluarga. Dia tidur di lantai dan diberitahukan bahwa gajinya akan ditahan hingga dia menyelesaikan dua tahun kontraknya. Setelah berkali-kali diperlakukan dengan kejam secara fisik, Tina mencari tempat perlindungan di penampungan korban milik LSM Malaysia. Tina telah melaporkan kasusnya kepada polisi dan dia telah diberi perpanjangan visa imigrasi supaya dapat melanjutkan kasusnya melawan majikannya di Malaysia.

Mengapa Itu Terjadi?

Terdapat banyak penyebab terjadinya perdagangan manusia. Sebab-sebab itu rumit dan sering kali saling memperkuat satu sama lain. Jika melihat perdagangan manusia sebagai pasar global, para korban merupakan persediaannya dan para majikan yang kejam atau pelaku eksploitasi seksual mewakili permintaan.

Dalam laporan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat disebutkan, penyediaan korban didorong oleh banyak faktor. Kemiskinan, daya tarik standar hidup di tempat lain yang dirasakan lebih tinggi, lemahnya struktur sosial dan ekonomi, kurangnya kesempatan bekerja, kejahatan yang terorganisasi, kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, diskriminasi terhadap wanita, korupsi pemerintah, ketidakstabilan politik, konflik bersenjata, dan tradisi-tradisi budaya seperti perbudakan tradisional adalah beberapa faktor itu. Namun sebagian besar pendapat sepakat, menunjuk kemiskinan sebagai sebab utama terjadinya perdagangan manusia.

Staf ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Irma Alamsyah Djaya Putra mengatakan kepada Antara tahun lalu, kemiskinan merupakan salah satu penyebab utama rawannya perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak-anak di Indonesia. Maret silam dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Indonesia, Franky Sahilatua Duta Migran yang menjadi pembicara juga mengatakan, bahwa faktor utama yang menjadi penyebab perdagangan manusia adalah kemiskinan.

Data dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyebutkan, saat ini terdapat setengah miliar anak-anak dan perempuan berusia antara 5-17 tahun— yang terpaksa mengongkosi sendiri hidup mereka. Sebagian besar dari mereka yakni sekitar 246 juta anak, bekerja pada sektor yang dilarang (the worst form of child labor), seperti pelacuran, kerja paksa, dan menyandang senjata untuk berperang. Tentara anak-anak (perempuan dan laki-laki) di seluruh dunia diperkirakan sudah meningkat menjadi lebih dari 500 ribu orang atau meningkat hampir dua kali lipat dari jumlah empat tahun lalu. Banyak di antara mereka bahkan berumur kurang dari 10 tahun.

Di Indonesia, jumlah pekerja anak ditaksir mencapai 6-8 juta. Dari jumlah itu, sebagian besar dari mereka bekerja di pabrik-pabrik yang berbahaya bagi kesehatan mereka, 700 ribuan bekerja sebagai pekerja rumah tangga, seratus ribuan di antara diduga bekerja sebagai pelacur dan pedagang narkoba. Kemiskinan dan ketidakberdayaan telah membuat mereka harus “berbeda” dengan kebanyakan sebaya mereka.

Protokol PBB

Eksploitasi perempuan dan pekerja anak merupakan sebab dan akibat dari kemiskinan. Keluarga yang miskin mendorong anak-anak dan perempuan mereka bekerja mencari penghasilan tambahan keluarga atau bahkan sebagai cara untuk bertahan hidup. Kehadiran mereka mengabadikan keluarga miskin turun-temurun, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial yang lambat.

Laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebutkan, di sisi permintaan, faktor-faktor yang membawa pada perdagangan manusia mencakup industri seks, dan permintaan akan tenaga kerja yang dapat dieksploitasi. Pariwisata seks dan pornografi anak telah menjadi industri dunia luas, yang difasilitasi oleh teknologi seperti internet, yang secara berlebihan memperluas pilihan-pilihan yang tersedia bagi para pelanggan dan memungkinkan adanya transaksi yang cepat dan hampir tidak terdeteksi. Perdagangan manusia juga ditimbulkan oleh adanya permintaan global atas tenaga kerja yang murah, rentan, dan ilegal. Misalnya, salah satu permintaan terbesar di negara-negara makmur Asia Timur adalah pelayan rumah tangga yang terkadang menjadi korban eksploitasi atau kerja paksa.

Migiro yang berdebat di depan Majelis Umum PBB Selasa kemarin mengatakan, para pekerja anak dan perempuan itu diancam dengan kekerasan dan dihalangi keinginan mereka. Mereka dieksploitasi untuk seks, dipaksa bekerja, dan bahkan tewas. Migiro karena itu meminta pemerintahan negara-negara dunia untuk segera meneken Protokol PBB untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Perdagangan gelap Orang, mengingat perdagangan manusia dan eksploitasinya termasuk sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dari Berbagai Sumber
Keterangan Gambar: Anak-Anak dan Perempuan Kamboja Korban Trafficking-USEmbassy. Gov

Iklan