Di Cilandak Town Square Jakarta Selatan, Budi Putra dan saya berjanji untuk bertemu pada Selasa sore, dua hari lalu. Budi mengirimkan pesan pendek kepada saya, tiga hari sebelumnya. “Bos kita ketemuan yuk,” begitulah SMS Budi.

oleh Rusdi Mathari

SAYA agak kaget ketika membaca pesan pendek dari Budi itu. Sudah berbilang bulan, saya tak bertemu dengan dia setelah pertemuan kami yang terakhir di Kantor AJI Jakarta. Setelah pertemuan itu, saya hanya mengikuti “kabar” Budi dari beberapa milis yang saya ikuti. Terakhir, saya tahu, Budi diundang ke ITB untuk berbicara tentang blog. “Zaman portal sudah lewat. Sekarang zamannya blog, entah 10 tahun mendatang,” kata Budi. Saya membalas SMS Budi dan menulis pesan “OK Bud, di Citos ya?”

Bertemu dengan Budi, saya merasa menikmati pemandangan laut yang luas. Budi banyak tahu soal dunia blog. Seluk beluknya. Karena dunia blog itu, namanya dikenal di komunitas blog Asia, Amerika dan Eropa. Dia CEO Asia Blogging Network yang mengelola asiablogging.com. Jika sekarang dia hidup berkecukupan dari dunia blog, bagi saya tak mengherankan, tentu. Hanya dari dunia blog. Bayarannya dolar. Telepon selulernya tiga. Relasi dan kenalannya terus bertambah. Aktivitas dia yang lain, seperti menjadi pembicara di berbagai tempat hanyalah salah satu hobinya. Beberapa media asing sering pula memintanya untuk menulis atau menjadi juri blog. “Bulan depan saya ke Jerman, menjadi juri blog,” kata Budi.

Budi yang saya kenal tapi tetap bersahaja. Tak sombong. Apalagi berusaha sombong. Sama dengan Budi yang dulu yang saya kenal ketika masih di Tempo. Kami memang pernah bekerja di perusahaan media yang sama. Saya menjadi penulis di Pusat Data dan Analisa Tempo, Budi menjadi penulis di Koran Tempo. Besaran gajinya juga relatif sama, ketika itu. “Sip, jam 4 sore ya mas?” Begitulah SMS Budi yang saya baca, tiga hari sebelum Selasa.

Di Citos, saya tiba lebih awal dari Budi dan langsung mengirimkan pesan kepada ponsel Budi, “Kita ketemu di Coffee Bean.” Saya sebetulnya spontan saja memilih Coffee Bean. Mungkin karena kebiasaan. Akan tetapi saya tak benar-benar masuk ke kedai itu, melainkan masih terus berjalan-jalan sambil mencari alternatif kedai yang lain, yang lebih sepi, kedai yang mungkin lebih tidak berisik untuk tempat ngobrol. Coffee Bean sore itu sangat ramai dengan pengunjung dan menurut saya tak cukup enak untuk berbicara lama dengan lama.

Aroma wewangian dari perempuan-perempuan cantik yang lalu lalang di koridor tengah, beterbangan menuju hidung saya. Mereka saya lihat tiba-tiba seperti pegawai negeri di zaman Orde Baru: berpakaian seragam baju batik. Modelnya yang berbeda. Perempuan-perempuan yang terlihat lebih muda berlalulalang hanya dengan mengenakan celana pendek. Super pendek bahkan sehingga paha-paha putih mereka sempat membuat saya melupakan istri dan anak. Potongannya, persis seperti celana pendek yang dulu pernah saya pakai, yang saya buat dengan menggunting celana jins. Tentu paha saya tidak seputih paha para gadis yang saya lihat di Citos itu.

Di pojok tak jauh dari tangga berjalan di sisi sebelah kiri gedung, saya menemukan kedai Double Decker. Tempatnya tak terlalu besar. Hanya sepetak dan sepi. Tak ada pengunjung satu pun. Agak mengherankan juga jika melihat kedai-kedai yang lain yang sesak dengan pengunjung, Double Decker Selasa sore itu justru seolah lindap.

Saya lalu memilih sofa berwarna merah maroon yang berada paling depan di kedai itu. Agak keras. Kepada pelayan kedai yang menyodorkan daftar menu, saya memesan secangkir cappuccino, karena hanya minuman itu yang bisa saya pahami dari deretan nama minuman yang ada di daftar menu. “Bud kita ketemu di Double Decker saja, tempatnya sepi,” saya mengirimkan SMS untuk Budi. Pelayan mengantarkan pesanan minuman saya tapi tampaknya dia bukan pelayan yang tadi menyodorkan daftar menu.

“Mas mejanya kok tinggi banget?” saya bertanya kepada pelayan itu. “Ini, meja ini,” kata saya, mencoba menjelaskan setelah melihat tatapan mata pelayan tadi. Saya bertanya soal meja karena antara meja dan sofa yang disediakan oleh Double Decker agak kurang pas. Saya yang duduk di sofa itu merasakan meja itu terlalu tinggi. Bahkan sekalipun untuk ukuran sebuah meja makan. Mirip dengan bangku-bangku di sekolah: muridnya “tenggelam” di bangku “ditelan” oleh meja yang ketinggian.

“Itu memang sengaja pak,” kata pelayan tadi dengan ekspresi wajah orang tak bersalah. “Maksudnya?” tanya saya. “Bapak tahu, setiap café atau restoran memang sengaja menyediakan tempat duduk dan meja yang tidak nyaman, agar pengunjungnya tidak betah, agar mobilitasnya tinggi,” kata pelayan tadi menjelaskan. “Oh begitu,” saya tidak percaya mendengar jawaban pelayan laki-laki yang berkulit putih itu.

“Ha…saya sudah pesan minuman di Coffee Bean. Biar saya yang ke sana mas,” SMS Budi masuk ke ponsel saya. Rupanya SMS terakhir saya yang meralat “pertemuan” di Coffee Bean, terlambat diterima atau dibaca oleh Budi. Saya lalu meneleponnya, “Bud biar aku yang ke sana.”

Saya memanggil pelayan dan meminta bon tagihan. Harganya dua puluh enam ribu sekian rupiah. “Kok tak diminum pak,” kata pelayan yang memberikan uang kembalian kepada saya, melihat saya beranjak dari sofa. Pelayan yang kali ini, bukan pelayan yang pertama yang menyodorkan daftar menu, bukan pula pelayan yang kedua yang mengantarkan minuman dan memberikan penjelasan tentang bangku dan meja itu.

“Tanya ke temanmu itu, tidakkah café ini memang mengharapkan tamunya cepat pergi,” kata saya sembari menunjukkan jari telunjuk kepada pelayan yang kedua, yang berdiri di dekat kasir. Pelayan yang ketiga ini terlihat bengong mendengar jawaban saya. Mulutnya setengah menganga. Tatapannya seolah tak percaya. Saya langsung pergi. Ke Coffee Bean sekitar 10 meter dari Double Decker ke arah barat, tempat Budi menunggu. Di kedai itu, kami berbicara hingga sekitar 3 jam, hanya ditemani secangkir kopi hitam dan duduk di kursi rotan.

Iklan