Pihak Lapindo pernah menghubungi tim peneliti dan menyampaikan terima kasih karena para peneliti sudah membagikan laporan penelitian.

oleh Rusdi Mathari

KESIMPULAN tim peneliti internasional tentang semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang disebabkan oleh pengeboran Banjar Panji-1, data-datanya ternyata sudah dikonfirmasikan oleh pihak Lapindo Brantas Inc. atau Grup Bakrie. Pihak Lapindo memang tidak setuju atau menolak interpretasi para peneliti tapi kegiatan-kegiatan pengeboran penting yang dilakukan pada Mei 2006 sudah dikonfirmasikan oleh mereka.

Demikian penjelasan Profesor Richard J. Davies, ahli geologi dari Universitas Durham, Inggris, ketua tim peneliti kepada JAKARTAPRESS.COM lewat balasan surat elektroniknya, Kamis kemarin.

Davies menjelaskan, pihak Lapindo sebelumnya juga pernah menghubungi tim peneliti, dan menyampaikan terima kasih kepada tim peneliti karena sudah membagikan laporan penelitian kepada mereka. “Mereka mengonfirmasikan data pada Tabel 3, di mana kami membuat daftar kegiatan-kegiatan penting dan juga data,” kata Davies.

Tabel 3 yang dimaksud oleh Davies merupakan salah satu halaman dari laporan tim peneliti yang keseluruhan berjumlah 47 halaman. Di tabel itu tercantum tentang detail kegiatan pengeboran dari 6 Mei 2006 hingga 3 Juni 2006 lengkap dengan hari dan jam. Menurut Davies, tabel itu dikirimkan kepada pihak Lapindo sebanyak dua kali.

Dua hari lalu, enam orang peneliti dari lima perguruan tinggi terkemuka di dunia, mengumumkan kesimpulan mereka tentang penyebab terjadinya luapan lumpur Lapindo. Laporan berjudul “The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger?” itu mengungkapkan, luapan lumpur Lapindo hampir bisa dipastikan diakibatkan oleh kesalahan pengeboran sumur Banjar-Panji 1 dan bukan disebabkan oleh efek gempa bumi seperti diklaim oleh pihak Lapindo.

“Kami menyimpulkan luapan lumpur itu merupakan bencana tak wajar dan diakibatkan oleh pengeboran Banjar-Panji 1 yang tidak dilakukan dengan baik,” kata Richard dalam keterangannya dua hari lalu seperti dikutip oleh kantor berita AP.

Cuek

Ditemui oleh kompas.com ketika usai mengikuti rapat persiapan kunjungan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd di Kantor Presiden, Jakarta tadi malam— Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie tak terlalu memedulikan hasil penelitian Davies. “Itu kan satu dari 100 tanggapan lain,” kata Aburizal. Baik kompas.com maupun Aburizal tak menjelaskan apa yang disebut oleh Aburizal sebagai “100 tanggapan lain” itu.

Nirwan Bakrie, adik dari Aburizal— yang dikonfirmasikan mengenai temuan para ilmuwan itu melalui pesan singkat telepon seluler hari ini, hingga tulisan ini dibuat belum bersedia memberikan komentar. Penjelasan justru datang dari Achmad Lutfi, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Menurut Lutfi penting diketahui adalah siapa penelitinya dan apakah analisisnya didasarkan dari penelitian langsung atau hanya disimpulkan dari publikasi. Kalau didasarkan penelitian lapangan, kapan dilakukan dan apakah para peneliti itu pernah datang ke lokasi semburan atau tidak. “Ini penting, karena data lapangan berubah setiap hari,” kata Lutfi.

Organisasi yang dipimpin oleh Lutfi pada 20-21 Februari 2007 pernah mengadakan lokakarya “International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano.” Kesimpulan dari lokakarya yang disebut bertaraf internasional menyatakan, luapan lumpur Lapindo disebabkan oleh bencana alam yaitu gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta, beberapa hari sebelum lumpur meluap pada 29 Mei 2006.

Namun kesimpulan lokakarya itu disayangkan oleh Ketua IAGI periode 1973-1975, Koesoemadinata. Menurut Koesoemadinata kesimpulan lokakarya itu tidak mencerminkan IAGI yang independen, tidak relevan dengan materi, bahkan cenderung bertolak belakang. Koesoemadinata juga mengaku sangat prihatin dengan hasil lokakarya yang disebutkan bertaraf internasional itu.

Menurut Koesoemadinata seperti dikutip oleh Tempointeraktif edidi 6 Maret 2007, sebagai lembaga ilmuwan yang independen IAGI seharusnya juga memberi ruang mengenai adanya pendapat bahwa semburan lumpur panas itu terjadi karena kelalaian pengeboran. Koesoemadinata mengkhawatirkan IAGI telah digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal menurut dia, kebenaran ilmiah sebagai ilmuwan harus dipertahankan.

Ilmiah dan Independen

Davies menjelaskan dalam emailnya, kesimpulan timnya berdasarkan data ilmiah yang ditemukan mengenai efek-efek dari gempa. Selain itu juga berdasarkan data yang dikonfirmasikan oleh Lapindo dan beberapa data dari tim investigasi independen. “Saya juga mengunjungi pusat lumpur tahun lalu namun mengunjungi lokasi tersebut tidak terlalu banyak membantu, dibandingkan data tentang kapan sumur tersebut dibor. Itu yang lebih penting,” kata Davies.

Tim peneliti Davies terdiri dari enam orang peneliti dengan berbagai disiplin ilmu dan berasal dari enam perguruan tinggi di dunia. Selain Davies, mereka adalah Maria Brumm dan Michael Manga (keduanya ahli gempa dari University of California Berkeley, Amerika Serikat); Rudi Rumbiandi (ahli pengeboran dari ITB, Bandung, Indonesia); Richard Swarbrick (ahli geologi perminyakan dari University of Durham, Inggris); dan Mark Tingay (ahli geologi dan lingkungan dari University of Adelaide, Australia). “Tidak ada yang mendanai penelitian kami,” kata Davies.

Menurut Davies, mereka tertarik melakukan penelitian karena kasus semburan lumpur Lapindo merupakan satu dari contoh terbaik soal semburan lumpur di dunia. Davies mengaku telah bekerja dalam bidang semburan lumpur selama lima tahun terakhir. “Saya bekerja di universitas dan diizinkan untuk melakukan riset untuk topik-topik yang menarik,” kata Davies.

Keterangan Gambar: Sunset di Lumpur Lapindo-korbanlapindo.blogspot.com
Artikel ini juga bisa dibaca di www.jakartapress.com

Iklan