Lalu siapakah yang bisa menyuruh Pollycarpus untuk membunuh Munir, jika dia bukan orang kuat dan memiliki pengaruh— setidaknya di lembaga, tempat Pollycarpus sejauh ini bertugas selain di Garuda Indonesia?

oleh Rusdi Mathari
DALAM waktu dekat. Itulah jawaban dari petinggi Mabes Polri dan Kejaksaan Agung ketika ditanya kapan tersangka baru pembunuh Munir akan ditangkap. Kapolri Jenderal Sutanto, termasuk yang selalu menjawab seperti itu. Tak pernah ada jawaban konkret. Seperti melempar atau menendang bola ke dinding.

“Wacana” tentang tersangka baru dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir yang dilontarkan oleh Mabes Polri dan Kejaksaan Agung, sudah dua minggu terakhir diberitakan oleh media. Sporadis. Pejabat yang memberikan penjelasan, silih berganti. Satu hari pejabat Mabes Polri.

Di hari yang lain dari Kejaksaan Agung. Pada hari lainnya, pejabat yang lain lagi. Penjelasannya sama: ada tersangka baru, namanya dirahasiakan, dan akan segera ditangkap dalam waktu dekat.

Ada beberapa hal yang harus digarisbawahi dari penjelasan aparat penegak hukum itu. Pertama, mereka sebetulnya memang sudah mengantongi nama dari tersangka baru pembunuh Munir. Kepastian itu antara lain bisa dibaca dari “peminjaman” Pollycarpus Budihari Priyanto oleh Mabes Polri dari LP Sukamiskin, Bandung pada Selasa 3 Juni 2008. Pollycarpus sengaja didatangkan ke Jakarta untuk gelar perkara dan mungkin untuk sebuah negosiasi baru.

Selang tiga hari beberapa pejabat dari Mabes Polri dan Kejaksaan Agung bertemu selama dua jam di Kejaksaan Agung. Menurut Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Abdul Hakim Ritonga, pertemuan itu membahas tersangka baru pembunuh Munir: Tersangka belum diperiksa polisi tapi polisi tak perlu meminta izin Presiden untuk memeriksa tersangka baru tersebut karena yang bersangkutan sudah tidak aktif.

Orang Kuat
Kedua, tersangka baru pembunuh Munir bisa diduga adalah orang kuat atau setidaknya mantan orang kuat dan masih mempunyai pengaruh. Penjelasan dari Ritonga dari Kejaksaan Agung dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mengarah kepada dugaan itu.

Ritonga mengatakan,tersangka baru itu mantan pejabat dan diduga kuat telah menyuruh pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto untuk meracuni Munir. Bambang mengatakan, tersangka baru itu adalah orang yang menyuruh melakukan dan memberi kesempatan.

Lalu siapakah yang bisa menyuruh Pollycarpus untuk membunuh Munir, jika dia bukan orang kuat dan memiliki pengaruh— setidaknya di lembaga, tempat Pollycarpus sejauh ini bertugas selain di Garuda Indonesia?

Ketiga, karena merupakan orang kuat, yang diasumsikan masih memiliki pengaruh di bekas lembaganya –yang bisa jadi tidak hanya satu lembaga— baik polisi maupun jaksa, sebetulnya sedang menjalankan perang urat saraf. Semacam uji coba lewat “wacana” yang dilempar ke publik sembari mengharapkan reaksi atau umpan balik terutama dari orang yang akan dijadikan tersangka baru itu dan mungkin juga dari orang-orang yang berpotensi “membelanya.”

Mungkinkah tersangka baru itu tahu, dirinya akan ditangkap? Menurut Koordinator Kontras Usman Hamid, tersangka baru itu dipastikan sudah tahu akan bahwa dirinya ditangkap.

Uji coba semacam itu, kemungkinan besar, ditujukan untuk mengukur kekuatan, baik dari si tersangka baru maupun kekuatan dari pihak-pihak yang mendukung atau membelanya. Hal itu penting dilakukan, karena Polri yang akan bertugas menangkap tersangka baru itu kemungkinan besar atau bisa saja akan berhadapan dengan sebuah lembaga atau kekuatan yang besar. Misalnya militer atau lembaga sejenis itu.

Polri tentu sudah memetakan semua kekuatan dari pihaknya dan kekuatan dari tersangka baru. Namun jika reaksi yang mungkin muncul tidak dipetakan melalui “wacana” ke publik, akibat yang ditimbulkan bisa fatal, apalagi kalau kemudian terjadi perlawanan fisik dan mengakibatkan bentrokan. Polisi dengan demikian, sebetulnya hanya menunggu waktu yang tepat.

Risiko Politik
Keempat, bisa jadi, belum ada keberanian dari pemerintah untuk menugaskan polisi segera menangkap tersangka baru pembunuh Munir. Polisi kata Usman, memang benar sudah siap dengan semua risiko, termasuk risiko perlawanan dari si tersangka baru. Namun risiko secara politik, memang akan terlampau besar untuk menangkap tersangka baru yang disebut-sebut telah menyuruh Pollycarpus itu. Negara ini bisa gempar dan mungkin juga akan terguncang, jika tersangka baru itu kemudian benar-benar ditangkap.

Persoalannya, jika tersangka baru pembunuh Munir tidak juga segera ditangkap, risiko politik yang harus diterima oleh pemerintah juga tidak kecil. Dunia internasional telanjur menyoroti kasus pembunuhan Munir sebagai kasus pelanggaran HAM dan upaya pemerintah untuk mengungkap atau tidak mengungkap dalang pembunuhan, karena itu akan dipandang sebagai keseriusan Jakarta menegakkan HAM di Indonesia.

Kelima, penangkapan terhadap tersangka baru pembunuh Munir sebetulnya hendak dijadikan dagangan politik menjelang Pemilu 2009, sehingga soal kepastian waktu penangkapannya juga menunggu saat yang tepat. Pemerintah sekarang tentu sangat berkepentingan untuk dinilai sebagai rezim yang menegakkan hukum dan menghormati HAM, sebuah kredit yang lumayan besar untuk mendongkrak dukungan publik. Jika peristiwa penangkapan itu dilakukan pada saat yang tepat, misalnya menjelang atau pada saat kampanye Pemilu 2009, dukungan atau bahkan juga kepercayaan publik terhadap rezim yang saat ini berkuasa niscaya dipercaya juga akan meningkat. Dan itu berarti, ada kesempatan untuk kembali berkuasa pada lima tahun mendatang.

Harus Terus Ditagih
Terhadap “wacana” yang telanjur dilempar kepada publik oleh pejabat Mabes Polri dan Kejaksaan Agung tentang tersangka baru pembunuh Munir, kini yang harus dilakukan oleh mereka yang peduli terhadap penegakan HAM dan kepastian hukum adalah terus menagih janji ucapan mereka yang katanya akan segera menangkap tersangka baru itu. Hal itu penting dilakukan, karena kasus pembunuhan Munir bukan dagangan politik.

Para pejabat Polri dan Kejaksaan Agung, karena itu harus didesak untuk tidak hanya menjawab “dalam waktu dekat” penangkapan tersangka baru pembunuh Munir, melainkan juga segera melakukan penangkapan.

Iklan