Seperti halnya kelahiran, kematian manusia sepatutnya mendapat penghormatan. Maftuh akan tetapi telah dinistakan oleh para dokter yang terhormat itu bahkan sesudah kematiannya.

oleh Rusdi Mathari

SAYA lalu membayangkan Maftuh Fauzi seorang playboy: berganti-ganti pacar, berhubungan seks dan lalu mengidap HIV/Aids. Saya membayangkan Maftuh seorang pencandu narkoba: menancapkan jarum suntik yang habis digunakan temannya dan lalu mengidap HIV/Aids. Saya membayangkan Maftuh seorang bajingan, mahasiswa yang kelakuannya patut disesalkan karena mengidap HIV/Aids. Saya tiba-tiba merasa menjadi orang yang imbesil ketika mendengar dari radio dan membaca berita di internet seorang dokter RS Pusat Pertamina dengan pongah membuka rahasia penyakit pasiennya bernama Maftuh mahasiswa Akademi Bahasa Asing Universitas Nasional Jakarta.

Kematian Maftuh pada Jumat minggu lalu, memang mengejutkan. Kantor kepresidenan dan terutama kepolisian merasa perlu memberikan klarifikasi, bahwa mahasiswa itu tak meninggal karena pukulan aparat polisi. Namun pemukulan terhadap Maftuh oleh polisi yang menyerbu kampus Unas pada 24 Mei silam, sebetulnya tak pernah diketahui oleh publik hingga meninggalnya Maftuh. Di antara puluhan atau ratusan mahasiswa yang menjadi keberingasan polisi pada pagi hari di Sabtu kelabu itu, Maftuh hanya salah satu korban.

Ketika Maftuh kemudian meninggal dunia, pada Jumat pekan lalu, beberapa mahasiswa rekan Maftuh mengungkapkan, lelaki berusia 25 tahun itu sempat menerima beberapa kali pentungan polisi di bagian kepala saat para aparat yang mengaku sebagai bhayangkara negara itu menyerbu kampus Unas. Maftuh sempat dirawat selama dua minggu termasuk dua hari di RS Pusat Pertamina, setelah dia dikeluarkan dari tahanan Polres Jakarta Selatan. Selama dirawat dia digambarkan selalu berteriak menahan kesakitan di bagian kepala.

Korban Pertama

Maftuh adalah korban pertama dari mereka yang bersuara keras dan melawan kenaikan harga BBM yang mulai diberlakukan pemerintah sejak akhir Mei lalu. Dia mungkin bukan siapa-siapa, kecuali hanya seorang mahasiswa. Kepada sang ibu yang sempat menjenguknya di rumah sakit, Maftuh pernah menitipkan kata agar sang ibu tak menyesal melahirkannya dan tak meratapi sikapnya yang memilih sebagai demonstran.

Kematian Maftuh mengejutkan dan tragis terutama karena persepsi umum bahwa penyerbuan polisi ke kampus Unas hanyalah insiden biasa seperti selama ini, polisi sudah sering dan terlalu biasa melakukannya ke beberapa kampus. Namun kematian Maftuh tidak sesederhana itu.

Pertama karena kematian Maftuh secara tiba-tiba diberitakan akibat HIV/Aids yang sudah dideritanya sejak lama. Pernyataan dokter di RS Pusat Pertamina itu bukan saja mengejutkan namun seolah sama sekali menafikan keterangan banyak rekan Maftuh, bahwa Maftuh merupakan korban pemukulan polisi, yang tentu saja dibantah oleh banyak pejabat kepolisian. Keterangan dokter itu, juga telah menghancurkan tata krama kedokteran, andai benar Maftuh adalah penderita HIV/Aids.

Kedua, pernyataan dokter di RS Pusat Pertamina bisa dikatakan merupakan pernyataan yang tergesa-gesa. Mereka seolah dikejar waktu, diburu target, agar segera mengabarkan Maftuh meninggal karena mengidap HIV/Aids dan bukan meninggal akibat pemukulan polisi. Terlalu jauh rasanya menganggap para dokter di RS Pusat Pertamina itu telah ditekan oleh pihak tertentu untuk mengabarkan riwayat penyakit pasien bernama Maftuh. Namun juga tak terlalu sulit menemukan anggapan semacam itu, ketika kemudian diketahui, pihak RS UKI yang sebelumnya merawat Maftuh telah melampirkan data bahwa Maftuh mengalami trauma terbuka di bagian kepala Maftuh.

Sakit Panu

Beberapa jahitan diketahui ditemukan pada kepala Maftuh setelah penyerbuan dan pemukulan oleh polisi terhadap kampus Unas. Di dalam tahanan Maftuh tidak mendapat pertolongan medis yang memadai. Luka di kepalanya asal dijahit sehingga sebagian dari luka itu masih terbuka dan kemudian terinfeksi. Selama 9 malam menginap di tahanan Mapolres Jakarta Selatan, Maftuh karena itu sering mengeluhkan sakit di kepalanya.

Ada obat yang diberikan kepada Maftuh tapi dokter dari kepolisian di Mapolres Jakarta Selatan tidak menjelaskan itu obat apa, kecuali hanya disebutkan sebagai obat penenang. Seperti disebutkan oleh anggota Komisi I DPR-RI Yuddy Chrisnandi yang juga merupakan dosen Unas, pihak Unas kini sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk menuntut dokter RS Pusat Pertamina.

Dokter RS Pusat Pertamina mungkin benar tentang Maftuh yang mengindap HIV/Aids, seperti halnya mereka juga punya kemungkinan yang sama untuk mengatakan Maftuh tidak mengidap penyakit HIV/Aids. Namun bukan soal riwayat penyakit Maftuh benar yang menjadi persoalan, andai pun dia benar mengidap HIV/Aids. Ini hanya soal etika dan tata krama kedokteran yang selazimnya dimiliki seorang dokter yang profesional. Menyebut apalagi membuka riwayat pasien kepada publik adalah suatu hal yang tabu bahkan terlarang bagi seorang dokter di mana pun. Para dokter di RS Pusat Pertamina, yang menyebarkan riwayat penyakit Maftuh andai benar Maftuh memiliki riwayat penyakit itu, telah abai akan kode etik dan tata krama sebagai seorang dokter yang beradab.

Mereka seolah lupa, bahwa seperti halnya kelahiran, kematian manusia sepatutnya mendapat penghormatan. Maftuh akan tetapi telah dinistakan oleh para dokter yang terhormat itu bahkan sesudah kematiannya. Fakta bahwa Maftuh adalah salah seorang demonstran yang menentang kenaikan harga BBM, lalu dipukuli dan dihajar kepalanya oleh polisi, lantas seolah menguap hanya karena pernyataan dokter RS Pusat Pertamina yang bisa jadi sangat “tergesa-gesa” dikeluarkan kepada publik.

Kematian Maftuh dan drama pernyataan dokter RS Pusat Pertamina kemudian mengingatkan saya kembali bahwa penguasa memang cenderung korup ketika mereka mencoba mempertahankannya. Kelak, mungkin akan ada mahasiswa atau orang lain yang menjadi kekerasan polisi dan aparat lainnya, yang lalu mati, yang akan dikabarkan meninggal karena sakit jantung, sakit cacar, dan sakit panu.

Keterangan Gambar: Mendiang Maftuh Fauzi-koleksi keluarga

Iklan