Listrik saat ini telanjur menjadi salah satu kebutuhan utama manusia dan celakanya, di Indonesia PLN memegang kendali penuh atas kebutuhan utama tersebut.
oleh Rusdi Mathari
MOTO “listrik untuk kehidupan yang lebih baik” milik PT PLN, sudah saatnya diubah menjadi “listrik untuk kematian yang lebih baik.” Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh PLN akhir-akhir ini di hampir seluruh wilayah Indonesia membuktikan bahwa BUMN itu sebetulnya memang lebih serius mengurus “kematian” listrik ketimbang “kehidupan” listrik. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja, pemadaman listrik PLN berlangsung selama sebulan sejak 21 Juni lalu dan baru akan berakhir pada 25 Juli mendatang. Tak ada wilayah yang tak terkena pemadaman listrik bergilir itu, kecuali tentu hanya lingkungan istana dan kawasan Monas.Pemadaman listrik di Jakarta dan sekitarnya itu sebetulnya sudah dimulai sejak Februari silam, tapi puncak pemadaman listrik baru terjadi belakangan ini karena rentang waktunya mencapai sebulan lebih dengan rata-rata waktu pemadaman mencapai 7 jam sehari. Pemadaman listrik PLN itu merupakan era kegelapan yang pertama terjadi di Jawa sejak 1970.

Dalam penjelasannya kepada pelanggan, PLN mengaku melakukan pemadaman listrik karena sedang melakukan pemeliharaan dan perluasan jaringan tetapi yang mana yang benar-benar dilakukan PLN: pemeliharaan atau perluasan jaringan, tak ada penjelasan yang memadai. Atau andai pun ada, penjelasan dari PLN itu sudah menjadi tak penting lagi karena beberapa hal.

Pertama, PLN sangat kurang melakukan sosialisasi tentang pemadaman listrik. Informasi tentang pemadaman listrik tak pernah dilakukan secara luas melainkan hanya bisa diakses secara terbatas. Dalam banyak kasus, pemadaman listrik PLN sering dilakukan mendadak. Setidaknya itulah keterangan dari Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi. Akibat pemadaman yang tiba-tiba itu, maka kerugian bukan hanya diderita oleh pengusaha melainkan juga konsumen rumah tangga. Sudah banyak cerita tentang rusaknya sejumlah barang-barang elektronik dan perlengkapan rumah tangga yang menggunakan listrik, karena tidak stabilnya aliran listrik PLN.

Di Banjarmasin, tiga pasien di RS Ulin bahkan meninggal dunia menyusul pemadaman listrik yang dilakukan secara serampangan oleh PLN sejak 15 Juni dan tidak didahului dengan pemberitahuan. Ketiga pasien yang meninggal itu adalah seorang pasien yang akan menjalani operasi jantung. Dia terkurung dalam lift yang tiba-tiba mati. Pasien lainnya adalah pasien penyakit jantung yang baru selesai dioperasi. Seorang pasien lagi sedang menjalani operasi radang otak ketika peralatan Monitor Vital Signs atau MVS tak berfungsi lantaran pemadaman listrik yang cukup lama.

Kedua, PLN kerap melanggar janji. Ketika terjadi pemadaman listrik di Jawa-Bali pada Februari lalu, PLN mengaku sedang kekurangan pasokan batu bara setelah kapal pengangkut batu bara dikabarkan terhadang oleh cuaca buruk. PLN karena itu berjanji, setelah pasokan batu bara lancar, tidak akan ada lagi pemadaman listrik di Jawa-Bali. Lalu yang terjadi kemudian adalah pemadaman listrik selama sebulan, seperti yang terjadi di Jakarta sejak 21 Juni.

Untuk pemadaman pada Juni-Juli ini PLN beralasan sedang melakukan perawatan atas Tanjung Gas BP West Java. Ini sebuah alasan yang sebetulnya mengada-ada mengingat kegiatan pemeliharaan rutin semacam itu memang dilakukan setiap tahun, dan karena itu PLN seharusnya sudah bisa mengambil tindakan antisipasi untuk menghindari pemadaman dengan menggantikan pasokan gas BP West Java dengan pasokan gas dari perusahaan gas lain. Alasan PLN yang paling klasik adalah konsumsi listrik masyarakat yang sudah sangat tinggi

Ketiga, pemadaman listrik PLN telanjur menimbulkan dampak yang luas di sektor bisnis. Untuk industri tekstil dan produknya, akibat pemadaman listrik selama 8 jam sehari kerugian yang harus ditanggung oleh mereka bisa mencapai Rp 300 juta-700 juta. Kerugian nonmateri yang akan diterima oleh kalangan industri itu bisa lebih parah lagi, karena bisa terkena wanprestasi jika mereka tidak menyanggupi produksi pesanan. Di Pekalongan Jawa Tengah, ribuan buruh pabrik terancam PHK karena dianggap tidak bekerja sesuai jadwal menyusul pemadaman listrik PLN. Kalangan industri kecil, dikabarkan sudah banyak yang sekarat akibat pemadaman listrik oleh PLN.

Listrik saat ini telanjur menjadi salah satu kebutuhan utama manusia dan celakanya, di Indonesia PLN memegang kendali penuh atas kebutuhan utama tersebut. Maka lihatlah ketika pelanggan terlambat melakukan pembayaran tagihan penggunaan listrik, PLN bersikap reaktif: melakukan penyegelan dan pemutusan arus listrik. Lalu masihkah PLN pantas dengan moto “Listrik untuk kehidupan yang lebih baik” itu?

Iklan